Di Indonesia, Diskriminasi Perempuan di Dunia Kerja Masih Banyak Terjadi

  • Senin, 16 Maret 2015 17:08 WIB

Tabloidnova.com - Hari Perempuan Internasional (International Women Day) yang jatuh pada tanggal 8 Maret lalu, menjadi kesempatan untuk merayakan pencapaian di bidang ekonomi, politik, dan sosial bagi para perempuan di seluruh dunia.

Tahun 2015 ini, peringatan Hari Perempuan Internasional mengambil tema "Make It Happen", yang difokuskan pada dorongan bagi para perempuan di dunia dengan menggalang tindakan efektif bagi dikenalinya dan diperdalamnya pencapaian profesional dan personal mereka.

Namun, sebelum membahas lebih jauh tentang kepuasan kaum perempuan tentang bagaimana feminisme membuat perbedaan bagi kesetaraan untuk perempuan di Indonesia dan di seluruh dunia, masih banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan.

Salah satunya adalah tentang diskriminasi perempuan di dunia kerja. Faktanya, masih adanya perbedaan penghasilan yang cukup besar berdasarkan gender yang ternyata dapat merusak perekonomian negara secara keseluruhan. Sehingga sangat penting untuk menyuarakan isu ini kepada pemerintah atau para pemegang kepentingan agar terjadi perubahan.

Menurut sebuah artikel di media nasional Indonesia pada Agustus 2014 lalu, diskriminasi perempuan di dunia kerja di Indonesia masih banyak ditemukan. Banyak perempuan yang sering mengalami ketidaksetaraan di bidang ketenagakerjaan.

Di sisi lain, kesetaraan gender idealnya diwujudkan dalam berbagai hal, di antaranya empat faktor yakni akses, partisipasi, kontrol, dan benefit. Jika salah satu dari keempat faktor itu tak terpenuhi, artinya ada ketidaksetaraan di lingkungan pekerjaan atau sektor kepegawaian.

Berdasarkan sejumlah penelitian, para pria memiliki akses lebih besar untuk bekerja karena banyak pendapat menyebutkan, pekerjaan perempuan termasuk sektor sekunder bagi mereka, dibandingkan peran utamanya secara domestik alias di dalam rumah tangga.

Hal ini juga didukung sejumlah data nasional yang menunjukkan diskriminasi perempuan di dunia kerja masih banyak terasa, sehingga mereka merasakan ketidaksetaraan. 

Di antaranya data dari Biro Pusat Statistik (BPS) dan hasil survei yang dilalukan Departemen Tenaga Kerja (Sakernas) pada Agustus 2013 silam, menyatakan 57 persen pekerja perempuan diperkejakan di sektor informal. Berdasarkan data yang sama dari BPS dan Sakernas, penghasilan rata-rata perempuan bekerja di sektor di luar agrikultur, hanya sekitar 80 persen dari penghasilan pria.

Sedangkan menurut data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapennas) tahun 2013, menyebutkan hanya 209.512 perempuan yang memegang posisi tinggi di berbagai sektor pekerjaan. Dengan kata lain, hanya 18 persen dari 1,1 juta total pekerja perempuan yang bekerja di level manajerial.

Intan Y. Septiani/Tabloidnova.com

Reporter : nova.id
Editor : nova.id

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×