Cara Menerima Kenyataan Jika Si Kecil Ternyata Berkebutuhan Khusus

  • Senin, 9 Januari 2017 17:30 WIB

Bagaimana cara menerima kenyataan jika Si Kecil terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus? | Dok. Paul Daugherty

Sahabat NOVA, terpikir kah oleh Anda bahwa anak spesial akan dititipkan pada orangtua yang spesial pula. Hal ini seringkali tidak disadari hingga suatu titik dimana orangtua begitu sabar dan tulus mengasuh anaknya.

Namun, sebenarnya bagaimana pengasuhan ABK (anak berkebutuhan khusus) yang tepat agar tetap semangat dan kompak bersama pasangan? 

Menurut Diah Lanawati, Psikolog yang tinggal di Yogya, ABK merupakan anak yang mengalami kelainan fisik, mental atau karakteristik perilaku sosialnya.

“Jadi, ABK membutuhkan layanan pendidikan khusus, dengan metode, materi pembelajaran atau kegiatan, pelayanan dan peralatan khusus agar dapat mencapai perkembangan yang optimal karena mereka belajar dengan kecepatan dan cara yang berbeda.”

Perempuan yang akrab dipanggil Atik ini menegaskan ketika orangtua mendapat karunia untuk membesarkan ABK, tentunya situasi yang harus dihadapi akan menjadi sangat jauh berbeda.

“Anda akan membutuhkan lebih banyak dukungan, diskusi rutin dilakukan, berupaya kuat untuk selalu menjadi model (contoh) yang baik, serta menunjukkan cinta yang tulus dan lebih kepada pasangan dan anak-anak.”

Melalui pengasuhan, perawatan, dan pendidikan yang dilakukan secara seimbang dan berkelanjutan akan membuat potensi lain yang dimiliki ABK ini dapat berkembang secara optimal.

Baca: 7 Cara yang Membantu Orangtua Merawat Anak Berkebutuhan Khusus

Bagaimana cara menerima kenyataan tersebut?

Tak bisa dipungkiri, setiap orangtua tentu saja akan merasa syok hebat dan tidak siap ketika anak yang dilahirkannya didiagnosis mengalami sindroma down, misalnya. “Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Anda dan pasangan.”

Mulai dari merasa tidak percaya, sedih, menolak kenyataan, merasa bersalah mengapa harus melahirkan anak tersebut yang tumbuh dan berkembangnya berbeda dengan anak lain..

“Suasana hati yang selalu berkabung dan membutuhkan waktu lama untuk bisa lancar mengucapkan kata sindroma down.”

Baca: Bepergian Bersama Anak Berkebutuhan Khusus

Dalam psikologi, ada yang dinamakan "siklus kedukaan", ketika orang dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan secara disadari atau tidak, dia akan menyangkal kondisi tersebut.

“Sebagian menunjukkan dengan cara marah, entah marah pada dirinya sendiri atau lingkungan terdekatnya.”

Pendampingan yang bersifat netral dapat membuat orang keluar dari fase ini.

“Ketika tahapan ini dapat diatasi, yang bersangkutan dapat masuk ke tahapan 'perundingan' yaitu dengan mencari cara untuk berkompromi dengan melihat sisi positif dari kejadian yang dialaminya dan mencari jalan penyelesaiannya.”

Baca: Komunitas Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus, Berbagi Cerita Ringankan Beban

Jika pasangan merasa diabaikan

Anak merupakan tanggung jawab Anda dan pasangan untuk membesarkan dan mengasuhnya. Jangan sampai anak menanggung semua akibat keterbatasannya dan ditinggalkan orangtua.

Memang bisa terjadi pasangan jadi menjauh karena merasa terabaikan akibat Anda terlalu memprioritaskan anak. Ada baiknya ajak pasangan untuk menyampaikan masalah dan harapan dalam membangun rumah tangga dan berperan sebagai orangtua yang semestinya.

Ketika tahapan sedih dan perasaan tertekan sudah bisa teratasi maka ada tahapan dimana orang bisa menerima kenyataan yang harus dihadapi hingga mampu menerima kenyataan hidup yang objektif.

“Kemampuan memasuki tahap penerimaan sangat tergantung pada kondisi fisik dan psikologis orangtua, anak itu sendiri serta lingkungan sekitar.”

Dukungan positif lingkungan sekitar akan memberikan dampak yang baik bagi orangtua dan ABK tersebut.

“Ketika sudah mencapai tahapan penerimaan bukan berarti akan terus bertahan di tahapan ini. Karena bisa jadi malah mengalami kemunduran ke tahap yang lebih rendah, lalu meningkat lagi dan seterusnya.”

Kesabaran, penerimaan yang baik serta kerja sama orangtua yang erat terbukti memberikan hasil yang bermakna. “Karena dalam perjalanannya sering kali orangtua merasa putus asa. Tetapi kemauan dan upaya yang keras dan terus-menerus dapat mengatasi kesulitan tersebut.”

Noverita K. Waldan/Tabloid NOVA

Reporter : Ade Ryani HMK
Editor : Ade Ryani HMK

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×