Pola Asuh Kelewat Ideal Justru Bahaya

  • Rabu, 23 November 2011 05:54 WIB

Ideal, sih, boleh-boleh saja. Tapi jangan terikat habis.Dampaknya buruk, lo, buat anak dan si ibu sendiri.

 

Bahwa tiap orang tua harus punya gambaran ideal sebagai titik orientasi dalam menjalani hidup, benar adanya. Termasuk dalam mendidik anak. Hanya saja, tegas Dra. Suhati Kurniawati yang akrab disapa Iin, psikolog dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), jangan lalu cuma terpaku pada gambaran ideal tadi. Bisa-bisa, "Anak dididik seperti robot."

Pola pengasuhan, jelas harus ada. Begitu juga dengan aturan, pembiasaan, maupun rutinitas. Dengan catatan, tak terlalu kaku atau berlebihan. "Apa pun juga, anak tetap harus diberi kesempatan untuk belajar memilih. Juga diajak bicara dan dikenalkan pada kebutuhan dan keinginannya. Toh, yang namanya ideal, tak harus sama dan tak mungkin pernah sama dengan kenyataan." Yang pasti, "Orang tua harus menghargai keinginan anak dan memberinya kesempatan untuk membuat pilihan sendiri."

Konyolnya, tak sedikit orang tua yang justru mencekoki anaknya dengan pola tertentu yang itu-itu saja dari waktu ke waktu tanpa ada alternatif lain. Anak jadi tak punya kesempatan bertanya. Bahkan sebelum sempat bertanya pun, orang tua sudah membuatkan keputusan untuknya. Tak heran jika kelak saat dewasa, anak jadi terbiasa bergantung pada pilihan dan keputusan yang dibuatkan orang tuanya. "Kelihatannya sepele, ya? Tapi dampaknya bisa berupa rentetan yang panjang sekali."

JADWAL KELEWAT KETAT

Ironisnya, orang tua kerap terjebak pada gambaran ideal tentang seorang anak yang sering digembar-gemborkan, yaitu yang pintar secara skolastik semisal cepat pintar membaca, menulis, dan berhitung,sehat yang semata-mata "disederhanakan" lewat penampilan fisik yang gemuk dan menggemaskan, yang bisa menunjukkan sikap manis/sopan. Padahal, semua gambaran ideal tentang sosok anak tadi tak akan bermakna jika sebatas rutinitas belaka tanpa ada nilai-nilai yang mendasarinya.

"Sebetulnya, orang tua banyak yang terjebak seperti itu karena keadaan masyarakat kita yang memang masih mengkondisikan para ibu untuk pegang peran lebih besar dibanding bapak dalam mendidik anak." Ibu-ibu yang kelewat ideal dalam arti sempit ini (karena hanya sebatas yang kelihatan), jelas Iin, seringkali membuat kehidupan anaknya jadi "very scheduled". Misal, minum susu dan buang air harus sesuai jadwal.Bahkan, menu makannya sudah ditetapkan jauh-jauh hari tanpa boleh diutak-atik sedikit pun! Termasuk bila ikan gindara agak sulit diperoleh dibanding ayam, contohnya.

Kendati begitu, Iin tak menyangkal jika pola asuh kelewat ideal, belakangan ini seolah jadi trend di kalangan keluarga muda. Boleh jadi kesibukan mereka yang begitu padat di luar rumah menuntut mereka untuk mengatur jadwal di rumahnya menjadi sama ketatnya. Melenceng sedikit saja, dianggap salah besar. Tak heran bila para babysitter lantas harus membuat laporan sampai ke hal-hal detail mengenai rutinitas anak. "Seolah, tanpa gambaran-gambaran ideal yang digembar-gemborkan tadi, dirinya adalah nothing."

TAK BISA BERKEMBANG

Reporter : nova.id
Editor : nova.id

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×