Ketika Perkawinan Dilanda Kemelut

  • Senin, 23 Agustus 2010 00:36 WIB

Masih ada lagi faktor lainnya, yaitu perbedaan pola asuh. Misalnya, yang satu otoriter sementara satunya lagi enggak tegaan. "Bila perbedaan ini tak berani disampaikan, sehingga hanya dipendam terus, akhirnya, kan, bisa meledak," kata Sawitri. Belum lagi pengaruh lingkungan semisal hubungan dengan mertua dan ipar yang tak harmonis, juga bisa mempengaruhi keharmonisan suami-istri. Yang juga berpengaruh ialah perbedaan agama, karena masalah agama adalah masalah mendasar.

"Persoalan agama tidaklah mudah, karena agama adalah sesuatu yang diyakini sejak seseorang mulai mengenal kehidupan," jelas Sawitri. Bila yang satu pindah agama dan agama barunya itu merasuk ke sanubarinya, tentu tak masalah. Tapi kalau tidak, setelah beberapa tahun menikah pasti akan ada kesedihan-kesedihan yang dirasa. Nah, bila kesedihan-kesedihan tersebut tak bisa disampaikan lewat cara agamanya yang baru, ada kemungkinan ia akan kembali pada agamanya semula. Bukankah ini bisa menimbulkan konflik?

INGAT DASAR PERKAWINAN

Tentunya setiap kasus membutuhkan penyelesaikan berbeda. Maksudnya, setiap penyebab tak sama jalan penyelesaiannya. Misalnya, karena istri tak percaya pada suaminya. Nah, si suami harus bisa membuktikan bahwa ia memang bisa dipercaya, antara lain dengan tak mengulangi lagi hal-hal yang membuat istrinya tak percaya. Namun apa pun permasalahannya, menurut Sawitri, semuanya tergantung pada stabilitas emosi masing-masing. "Bila keduanya berpikir lebih baik menyelamatkan perkawinan daripada memulainya yang baru, maka kemungkinan besar perkawinan pun akan terselamatkan," tutur Sawitri, yang juga mengajar pada Fakultas Psikologi UNPAD, Bandung ini. Tapi bila salah satu tetap ngotot ingin bercerai, "ya, tak akan mungkin perkawinan mereka terselamatkan," lanjutnya.

Jadi, yang penting ialah membicarakan apa maunya masing-masing. Nah, bila ada kesepakatan untuk melanjutkan perkawinan, langkah pertama yang harus dilakukan ialah mencoba melupakan masa lalu. Tentunya, dengan kesadaran dari salah satu pihak, bahwa sesekali pasti ada keluhan yang mengungkapkan masa lalu tersebut. "Jadi, bila sesekali tercetus tentang masa lalu, maka ia harus berjiwa besar. Ini harus ditekankan sejak awal bahwa luka hati karena perbuatan itu tak mudah disembuhkan begitu saja." Dengan kata lain, berilah toleransi. Namun di sisi lain, pasangannya juga harus mencoba menahan untuk tak selalu mengungkit masa lalu tersebut.

Hal lain yang perlu dilakukan ialah melihat segi positif dari pasangan. "Jangan berangkat dari segi negatifnya saja. Bukankah kala kita pacaran ada hal-hal yang kita kagumi pada pasangan kita? Nah, coba lihat itu kembali, jangan melulu hal-hal jeleknya saja yang dilihat," anjur Sawitri. Tapi bila masalah tersebut tak bisa diatasi, Sawitri menyarankan untuk mencari pihak ketiga semisal konselor perkawinan. "Dengan melakukan konseling, minimal kita bisa mengungkapkan semua unek-unek sehingga sedikit-banyak hati kita bisa lega."

Bukankah setelah mengeluarkan unek-unek, tak jarang kita akan dapat jalan keluarnya sendiri, apa yang terbaik bagi diri kita? "Paling tidak, kita akan memberikan reaksi lain terhadap sikap pasangan." Sebaliknya, bila kita tak bicara sama orang lain, masalah itu akan membelit diri kita dan akhirnya menjadi beban mental. Umumnya, terang Sawitri, wanita lebih mau berkorban bila ia yang mengalami ketidakpercayaan. "Ia mau mempertahankan perkawinannya karena mempertimbangkan faktor anak-anak." Apalagi setelah bercerai dan menikah lagi, walaupun suami berjanji akan tetap mensuplai biaya anak-anak, namun biasanya biaya itu akan seret datangnya. "Jadi, demi masa depan anak-anak, ia memutuskan tak bercerai agar biaya anak-anak dan masa depannya lebih terjamin."

Namun tak demikian halnya bila ketidakpercayaan itu menimpa pihak lelaki. "Biasanya ia langsung bercerai. Apalagi kalau ketidakpercayaan itu karena istrinya selingkuh." Nah, jika salah satu pihak memutuskan untuk berdedikasi demi anak, Sawitri minta agar membuat suasana bersama anak-anak selalu ceria. Dengan demikian, paling tidak anak-anak tak ikut merasakan kemurungan orang tuanya. seret datangnya. "Jadi, demi masa depan anak-anak, ia memutuskan tak bercerai agar biaya anak-anak dan masa depannya lebih terjamin." Namun tak demikian halnya bila ketidakpercayaan itu menimpa pihak lelaki. "Biasanya ia langsung bercerai. Apalagi kalau ketidakpercayaan itu karena istrinya selingkuh." Nah, jika salah satu pihak memutuskan untuk berdedikasi demi anak, Sawitri minta agar membuat suasana bersama anak-anak selalu ceria. Dengan demikian, paling tidak anak-anak tak ikut merasakan kemurungan orang tuanya.

HIDUPKAN ROMANTISME PERKAWINAN

Tentunya, mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan? Nah, untuk mencegah berkurangnya respek dan kepercayaan dari pasangan, Sawitri menganjurkan agar kita selalu menghidupkan romantisme perkawinan. Karena bila romantisme perkawinan mulai memudar, biasanya akan diikuti dengan munculnya kemelut dalam perkawinan. Hal ini tentunya dapat mengancam keutuhan perkawinan.

Reporter : nova.id
Editor : nova.id

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×