Ketika Perkawinan Dilanda Kemelut

  • Senin, 23 Agustus 2010 00:36 WIB

"Dulu, romantisme perkawinan mulai memudar setelah 10 tahun kedua perkawinan. Jadi, antara 15-20 tahun perkawinan. Tapi sekarang, di usia 5-10 tahun pun romantisme perkawinan sudah mulai memudar," tutur psikolog yang juga buka praktek psikologi di rumahnya di kawasan Cimindi, Cimahi. Perubahan tersebut disebabkan suami-istri jaman sekarang banyak yang sama-sama bekerja. "Mereka sama-sama sibuk, sehingga perhatiannya lebih banyak tercurah pada pekerjaan, cari uang melulu. Akibatnya, lupa menjaga romantisme perkawinan."

Nah, bagaimana cara menjaga romantisme perkawinan? Ternyata, mudah saja, kok. Bisa dengan selalu memberi kejutan-kejutan manis atau memberi perhatian pada hari ulang tahun perkawinan, misalnya. "Biasanya kalau perkawinan sudah berjalan sekian lama, hal-hal seperti ulang tahun kerap terlupakan, terutama pada pihak suami. Nah, kalau ingin menjaga tetap romantis, ya, jangan dilupakan," kata Sawitri. Tapi yang diberi perhatian jangan cuma melihat harga atau hadiahnya, lo, tapi lihatlah perhatiannya. "Kalau kita hanya terpaku pada harga atau bendanya, nanti pasangan kita jadi bosan memberi sesuatu karena pemberiannya selalu enggak pas," ujar Sawitri.

Sebaliknya, yang memberi jangan lantas minta imbalan atau pamrih dari apa yang diberikan. Nanti akan sakit hati sendiri, lo, bila pasangannya ternyata tak balas memperhatikan atau memberi hadiah juga. Yang tak kalah penting, lanjut Sawitri, kita harus menjaga keyakinan bahwa suami/istri kitalah yang paling pas dengan diri kita. "Jangan melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput di rumah kita," pesannya. Selain itu, kita juga harus mau meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan pasangan guna memikirkan kembali, mau dibawa ke mana arah perkawinan ini. Dengan demikian, pijakan untuk melangkahnya perkawinan akan jadi jelas.

Jadi, jangan cuma sibuk kerja atau cari uang terus, ya, Pak-Bu. Sawitri wanti-wanti berpesan, agar suami-istri menyadari benar hal ini, karena perkawinan akan mudah goncang bila tak ada pijakannya. Apalagi, dampaknya juga tak baik buat anak-anak bila perkawinan yang tak sehat dibiarkan terus, karena suasananya pasti tak ceria dan tak bahagia. "Anak-anak yang tumbuh di lingkungan demikian pasti akan berpengaruh bagi perkembangan mentalnya. Paling tidak, anak akan mengalami hambatan perkembangan kepribadiannya; ia tak akan bisa menyesuaikan diri pada lingkungan dengan baik atau jadi minder." Kemudian bila ada masalah, lanjutnya, cobalah untuk mengingat kembali apa yang dikatakan orang jaman dulu, yakni agar tak gampang mengucapkan kata cerai. "Kita harus berpikir dua kali supaya tak cepat menjadi fatal."  

Indah Mulatsih/nakita

Reporter : nova.id
Editor : nova.id

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×