90 Tahun Saparinah Sadli, Sri Wahyuningsih Terpilih Sebagai Penerima Anugerah 2016

  • Kamis, 25 Agustus 2016 10:45 WIB

Saparinah Sadli menyerahkan penghargaan kepada Sri Wahyuningsih | Uda Deddy

Gelaran acara Anugerah Saparinah Sadli 2016 di Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (24/8-2016) berlangsung meriah. "Hapuskan Perkawinan Anak Perempuan" adalah tema Anugerah Saparinah Sadli kali ini. Tema ini dipilih atas dasar keprihatinan akan tingginya tingkat perkawinan anak di Indonesia. 

Indonesia tercatat menduduki peringkat ke-2 tertinggi perkawinan anak di ASEAN setelah Kamboja, bahkan di kalangan negara Islam, Indonesia berada di peringkat ke-22. Menurut Data Badan Pusat Statistik tahun 2008 34,5% anak perempuan di Indonesia menikah pada usia kurang dari 19 tahun.

Yang dimaksud di sini adalah perkawinan anak perempuan yang dilakukan  pada usia sampai dengan 18 tahun. Indonesia memang masih melegalkan perkawinan anak perempuan terbukti dengan masih diberlakukannya UU No. 1 tahun 1974 yang mengatur batas usia menikah perempuan 16 tahun, sementara laki-laki 19 tahun.

Perkembangan menggembirakan terjadi di beberapa provinsi di Indonesia dalam hal penurunan angka perkawinan anak.  Data Susenas 2010-2015 menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat pertama dalam penurunan angka perkawinan anak dari 27.33% menjadi 15.37%.

Penurunan ini terjadi di banyak kabupaten di Jawa Timur, dengan Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Bondowoso menduduki posisi teratas dalam tingkat penurunan perkawinan anak.

Untuk itu Dewan Juri Anugerah Saparinah Sadli memusatkan perhatian pada dua kabupaten ini untuk menggali faktor-faktor penyumbang pada penurunan angka perkawinan anak.  Di Kabupaten Bondowoso, Dewan Juri menemukan fenomena menarik kuatnya peran guru dalam memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan anak. 

Dalam konteks tingkat kemiskinan yang tinggi serta budaya Islam yang kuat, maka penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi sebenarnya merupakan hal yang dianggap tabu di masyarakat Bondowoso.  Namun sekelompok guru berinisiatif dan secara sukarela membentuk Paguyuban Guru Peduli Kesehatan Reproduksi (PGP Kespro) untuk melaksanakan penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan anak.

Baca juga: Dokter Muda yang Meninggal Dalam Tugas Itu Dianugerahi Penghargaan Bidang Kesehatan

Sri Wahyuningsih (Yuni), seorang guru PPKN di SMP Tamanan, Bondowoso yang menjadi pendiri dan anggota PGP Kespro memiliki peran yang menonjol karena kepiawaiannya dalam menyampaikan informasi kesehatan reproduksi dan pesan-pesan pencegahan perkawinan anak. 

Yuni sangat populer di kalangan siswa dan juga masyarakat Bondowoso, bahkan di kalangan bidan dan dukun beranak yang menjadikannya narasumber mengenai kesehatan reproduksi.  Profil Yuni, seorang perempuan muda yang berdedikasi tinggi, pantang menyerah dan mampu menjembatani konteks budaya tradisional dengan pemikiran modern, menggarisbawahi kualitas guru, penyuluh dan sekaligus pegiat yang ideal.

Reporter : Uda Deddy Adrian
Editor : Uda Deddy Adrian

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×