Belajar dari Florence, Jangan "Update Status" Kalau Sedang Marah

  • Sabtu, 30 Agustus 2014 07:03 WIB

image

"Florece Sihombing di-bulky "

 

TabloidNova.com -  "Apapun yang tidak etis di offline, juga tidak etis kita lakukan di online, termasuk di media sosial," kata pakar IT dan Medsos, Nukman Luthfie,  dalam salah satu tulisannya berjudul Etika dan Etiket Social Media - Twitter dan Facebook di website pribadinya, Sudutpandang.com.

Seandainya hal ini dipahami terlebih dahulu oleh Florence Sihombing, mungkin ia tidak akan marah-marah di Path hingga kemudian di-bully orang se-Indonesia.

Sebelumnya, pada Rabu (27/8), mahasiswa S2 Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, itu menulis begini di akun pribadi Path-nya: "Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja."

"Orang Jogja B******. Kakak mau beli Pertamax 95 mentang-mentang pake motor harus antri di jalur mobil terus enggak dilayani. Malah disuruh antri di jalur motor yang stuck panjangnya gak ketulungan. Diskriminasi. Emangnya aku gak bisa bayar apa. Huh. KZL," jelasnya kepada Rachel yang menanyakan alasan dari statusnya tersebut.

Nah, belajar dari hal ini, menurut Nukman, ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum menulis status di media sosial (medsos).

Pikirkan Terlebih Dahulu

Reporter : nova.id
Editor : nova.id

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×