Curhat Ibu Kandung Engeline: "Aku Menyesal Menyerahkan Engeline..."

  • Selasa, 23 Juni 2015 19:40 WIB

Ibu Kandung Engeline

Aku tak pernah menduga akan mendapat cobaan seberat ini. Hati ini rasanya seperti dicabik-cabik melihat anak saya dibunuh seperti itu. Yang paling aku sesali hanya satu, kenapa aku dulu menyerahkan anakku pada Margriet? Seandainya waktu itu aku rawat sendiri tentu ceritanya tidak seperti ini.

Aku cerita sedikit tentang masa laluku. Aku tumbuh di tengah sebuah keluarga besar, anak keenam dari sembilan bersaudara. Bapakku meninggal ketika aku masih kecil. Karena ekonomi pas-pasan, aku hanya sekolah sampai kelas 3 SD.

Baca: Firasat Ibu Kandung Engeline Sebelum Jenazah Buah Hatinya Ditemukan...

Karena di desa serba kekurangan, saat beranjak dewasa aku ikut paman di Bali. Di pulau Dewata, aku bertemu Rosyidi, lelaki asal Banyuwangi yang bekerja di sana. Kami sama-sama suka dan tak lama kemudian sepakat menikah.

Aku kemudian hamil dan melahirkan Inayah, anak pertama kami. Saat itu keadaan ekonomi kami masih lumayan. Rosyidi bekerja sebagai mandor di sebuah usaha pasir.

Tapi , pada kelahiran anak kedua, keadaanku ekonomi kami berubah. Rosyidi jadi kuli bangunan yang tidak tentu penghasilannya. Di tengah kondisi yang morat-marit itu, aku hamil anak kedua. Dan dari situlah awal mula petaka itu terjadi.

EngelineMemasuki usia kehamilan sembilan bulan, keadaan rumah tanggaku sangat memprihatinkan. Jangankan untuk biaya persalinan, untuk makan sehari-hari saja sulit.

Mau pulang ke desa di Glenmore, Banyuwangi, rasanya juga sama, karena keluarga kami di desa juga sama-sama serba kekurangan.

Ternyata benar, di saat kami sedang bergelut mencari uang, waktu persalinan akhirnya tiba. Oleh Rosyidi aku dibawa ke salah satu klinik persalinan di Canggu, Bali.

Dan alhamdulillah, persalinan berjalan lancar. Bayi perempuan cantik yang aku lahirkan dalam keadaan sehat pula.

Baca: 5 Hal Klenik dari Pembunuhan Engeline yang Bikin Merinding

Yang jadi beban saat itu adalah dari mana uang untuk ongkos persalinan? Soalnya saat itu kami sama sekali tak punya uang. Aku minta Rosyidi mencari pinjaman ke teman-temannya tapi tak berhasil. Aku benar-benar bingung.

Kalau kami tak bisa membayar biaya persalinan yang Rp800.000, klinik tidak memperbolehkan aku meninggalkan rumah sakit.

Di tengah kekalutan tersebut, Rosyidi memberitahu bahwa anakku yang masih merah akan diambil seseorang untuk diadopsi.

Sebagai penggantinya, seseorang yang kemudian kuketahui bernama Margriet, akan memberikan uang untuk membayar biaya persalinan. Ketika Rosyidi menyampaikan hal itu, aku langsung menolak.

Baca: Ditemukan Jimat dengan Foto Angeline di Bawah Bantal Milik Ibu Angkat

(Ingin tahu kelanjutan kisah Curhat Ibu Kandung Engeline? Simak cerita lengkap mulai dari pertemuannya dengan Margriet, kerinduan dan keinginannya bertemu Sang Buah Hati, perpisahan dengan ayah Engeline, hingga kabar tewasnya Engeline, dan kisah mengharukan lain di Tabloid Nova No.1426/XXVIII masa tayang 22 - 28 Juni 2015)

Gandhi Wasono M, Foto: Gandhi Wasono/Nova

Reporter : Annelis Brilian
Editor : Annelis Brilian

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×