Miris! Kebun Amaryllis Rusak karena Dijadikan Tempat Selfie

  • Minggu, 29 November 2015 13:30 WIB

Kebun bunga Amaryllis sebelum rusak | TRIBUNEWS

Berita tentang kebun Amaryllis rusak membuat banyak netizen berang. Bagaimana tidak, tak lama setelah kecantikan kebun Amaryllis di Gunung Kidul itu terungkap, ratusan bahkan ribuan orang berbondong-bondong datang untuk selfie.

Hasilnya, kini pemandangan menarik kebun bunga Amaryllis yang terhampar di seputaran jalan raya Gunung Kidul-Yogyakarta, tepatnya Kecamatan Patuk, Gunung Kidul itu rusak. 

BACA: Selfie Boleh, Asal...

Sebelumnya, seperti ditulis dalam Tribunnews, di pinggir jalan itu tumbuh hamparan bunga berwarna oranye yang indah dipandang mata. Pemandangan itu mirip foto kebun bunga di luar negeri, misalnya Keukenhof di Belanda. 

Bunga yang umumnya tumbuh pada waktu tertentu menjelang musim hujan itu jadi daya tarik bagi pengendara yang melintas di kawasan itu. 

Sayangnya, kecantikan kebun Amaryllis itu tak bertahan lama. Setelah informasi tentang kebun Amaryllis ini tersebar, banyak pengunjung tak bertanggungjawab yang mendatangi kebun bunga Amaryllis untuk berfoto. Foto-foto itu pun menyebar luas dan jadi pembicaraan di media sosial, seperti Facebook dan Twitter, ataupun aplikasi chat seperti Whatsapp.

BACA: 1500 Orang Penuhi Kebun Amaryllis yang Rusak, Ini Kata Pemiliknya

Padahal, hamparan kebun bunga amaryllis di Patuk itu ditanam oleh warga bernama Wartini di lahan seluas 2.000 meter persegi. Ia harus menebar bebih 2 ton untuk menciptakan kebun bunga yang indah tersebut.

"Memang saat seperti ini banyak yang berhenti untuk sekadar foto. Pada hari biasa memang tidak ada," kata Fauzi, warga Kepek, Gunung Kidul, pada Tribunnews saat ditemui beberapa hari lalu.

Kebun bunga Amaryllis rusak
Kebun bunga Amaryllis rusak

Kini, kebun Amaryllis rusak. Batangnya banyak yang patah, terinjak oleh orang yang datang sekadar untuk mengabadikan diri dan menyebarkan foto di media sosial. Foto tentang kebun Amaryllis yang rusak ini pun mulai bermunculan.

Kondisi ini tentu sangat disayangkan. Apalagi, seperti ditulis dalam Tribun Jogja, bunga ini hanya mekar pada waktu-waktu tertentu saat musim hujan mulai tiba. Kesempatan untuk menikmati keindahan bunganya pun terbatas.

BACA: 7 Etika Wisata yang Wajib Dipatuhi

Reporter : Annelis Brilian
Editor : Annelis Brilian

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×