Anazkia, Mantan TKW yang Ajarkan Para TKW Melek Internet

Editor: nova.id / nova.id
Jumat, 6 Maret 2015
Foto :

Anazkia

""

komunitas blogger

"Bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam salah satu acara komunitas Blogger Hibah Sejuta Buku. (Foto: Dok Pri) "

Anazkia, begitu ia memperkenalkan dirinya di blog. Biasa disapa Anaz, perempuan kelahiran Pemalang, 13 Agustus 1982 ini menunjukkan kegembiraannya saat terpilih menjadi salah satu pemenang Perempuan Inspiratif NOVA 2014 dalam kategori Perempuan dan Teknologi.

Anaz mengaku tak betah diam. Sekarang, ia kerja paruh waktu mengasuh anak temannya selain menjadi relawan di sejumlah komunitas. Kegiatan Anaz memang tak jauh-jauh dari urusan berbagi.

Itu semua berawal di tahun 2006 saat ia akan berangkat ke Malaysia sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita). Anaz merasa perlu mencari pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Berusaha mandiri, ia pun melamar jadi TKW melalui teman calon majikannya.

Tentu saja keinginannya mendapat tentangan dari keluarga. Berulang kali membujuk, akhirnya Sang Bunda mengizinkan Anaz merantau, "Sebelum berangkat, saya bilang ke ibu, 'Bu, kalau saya pulang tinggal nama, mohon ikhlaskan saya'. Saat itu, saya nekat juga jadi TKW walaupun sebenarnya takut karena akan tinggal di tempat asing."

Lantaran khawatir pula, "Sebelum berangkat ke Malaysia, saya minta salah seorang teman mengajari saya cara menggunakan e-mail. Saat itu stigma negatif tentang Malaysia membuat saya mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk bisa menggunakan internet. Saya pikir kalau ada apa-apa, saya bisa langsung kasih kabar ke teman yang seorang wartawan," pikir Anaz.

Majikan Baik

Beruntung, kekhawatiran Anaz tidak terbukti. Ia bertemu majikan yang sangat baik, keluarga keturunan Melayu, "Bulan-bulan pertama, saya sering lihat anak bungsu majikan saya online. Saya lihat dia chatting pake Yahoo Messenger (YM) dengan temannya dari seluruh penjuru dunia. Kadang, saya sok akrab meminta izin pinjam komputernya untuk buka e-mail," ujar Anaz.

Sayangnya, lantaran sudah lama tak ditengok, akun e-mail Anaz pun kedaluarsa. Tahu hal itu, anak majikannya menolong Anaz untuk dibuatkan akun e-mail baru. "Dia tanya apa nama yang mau dicantumkan? Berkali-kali nama yang saya mau, sudah dipakai orang. Sampai akhirnya saya nyeletuk nama Anazkia, yang akhirnya jadi ID akun e-mail yang baru," urai Anaz menerangkan asal mula nama bekennya di dunia maya tersebut.

Tak hanya itu, Anaz pun diperkenalkan cara chatting di YM. Kemudian ia mulai memahami penggunaan milis (mailing list). Meski terkesan sederhana, Anaz begitu antusias ketika tahu bisa berkenalan dengan mereka yang ada di benua lain. "Dari chatting, saya punya teman baru, Arwani, yang sedang kuliah di Mesir dan kami sangat akrab."

Dari milis itu pula, Anaz kemudian mengenal blog. Ceritanya, Anaz yang rajin meng-update isi percakapan di milis bertemu dengan orang yang kerap men-share tulisan dari blog-nya. Tertarik membaca, Anaz pun berniat pula memiliki blog. "Tapi saya tak tahu sama sekali membuat blog itu caranya bagaimana? Akhirnya saya SMS Arwani, minta diajari. Semua proses itu melalui tutorial di dunia maya," kata Anaz sembari menggambarkan kesan pertamanya membuat blog.

"Namanya belajar online, saya enggak bisa lihat langsung, saya sempat putus asa dan menangis. Lah, gimana enggak, Arwani suruh klik log in, saya malah membuka laman. Ya, enggak ketemu-ketemu. Ha ha ha... Makanya selalu ngakak kalau ingat awal mula nge-blog," kenangnya.

Blog pertama yang dibuat Agustus 2007 itu pun mulai bercabang. Anaz juga aktif dalam akun Multiply, Wordpress, Kompasiana dan Blogdetik. Untunglah, sepanjang ia aktif nge-blog, majikan Anaz seperti memahami keinginannya, "Di Malaysia, saya diberi kebebasan keluar rumah setelah setahun bekerja di sana. Sebelumnya, saya enggak pernah ke mana-mana kecuali dengan majikan. Yang mereferensikan saya di ajang PIN 2014 juga seorang teman yang saya kenal melalui blog. Suatu hari beliau mengirim SMS kepada saya, meminta izin menuliskan tentang saya, yang lalu saya iyakan," lanjutnya.

Ajari Bikin Blog

Minat Anaz pada penulisan di blog memang besar. Gaji yang ia peroleh pun dibelikan laptop. Niatnya, Anaz ingin agar para TKW seperti dirinya juga melek teknologi dan bisa menggunakan internet sebagai sarana positif selama bekerja di negeri orang.

"Begitu punya, saya bawa laptop berkunjung ke tempat teman-teman, baik yang kerja di kilang (pabrik) maupun yang kerja rumah tangga. Saya pinjam modem anak majikan. Ada beberapa teman TKW yang saya buatkan blog juga, tapi enggak semua yang diajarin itu kemudian menulis. Menguap begitu saja," ujarnya.

Anaz yang sedari kecil senang membaca pun sebenarnya tertarik menulis. Itu sebabnya, ia baru belajar menulis di Malaysia, "Saya benar-benar bersyukur majikan mau menyekolahkan saya di Madrasah Aliyah. Jadi, saya kerja jadi ART sekaligus sekolah di sana."

Juni 2012 bekerja sama dengan Internet Sehat dan KBRI, Anaz kemudian dipercaya menggagas workshop blogging untuk teman-teman TKW asal Indonesia di Malaysia, "Yang datang banyak, 40 orang lebih. Tapi kembali seleksi alam, yang bertahan dan betah nulis di blog enggak banyak. Sekarang, sih, saya lihat beberapa teman tertarik nge-blog," akunya.

Namun, ibarat pepatah hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Betapa pun senangnya di negeri orang, pada akhirnya Anaz memutuskan kembali ke Indonesia. Ia lalu mengubah tagline dalam blog-nya menjadi "Hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan". Ia menganggap dirinya tak kaya materi, "Jadi, kalau saya mati cuma bisa ninggalin tulisan-tulisan aja di dunia maya," jelasnya singkat.

Toh, Anaz merasakan banyak manfaat dari hobinya itu. Terutama ia jadi punya banyak teman. "Teman yang saya kenal melalui blog dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, termasuk yang dari mancanegara."

Ia juga sempat mengikuti beberapa lomba menulis blog dan menjadi pemenang. "Saya juga sempat terpilih mengikuti video dokumenter Diaspora Indonesia mewakili tenaga kerja saat masih berada di Malaysia. Dan terakhir mendapat penghargaan Acer Srikandi Blogger Favorit 2013."

Berkat keaktifannya sebagai mantan TKW yang doyan nge-blog, Anaz berujar dirinya sering diundang ke berbagai tempat untuk berbagi kisah. "Pernah diundang Kementerian Pariwisata Trengganu selama 1 minggu, diundang Jom Jelajah Koperasi Kelantan, diundang acara Sepetang Bersama Blogger di Malaysia dan terakhir kemarin diundang Samsung menghadiri Peresmian Rumah Belajar Samsung di Makkareso-Makassar."

Sejuta Buku 

Anaz juga aktif terlibat di komunitas Blogger Hibah Sejuta Buku. "Ini gerakan sosial dunia maya, Kami mengajak teman-teman blogger menyumbangkan bukunya bagi adik-adik di pedalaman yang membutuhkan. Komunitas ini terbentuk di Pekanbaru akhir 2009. Mulanya saya hanya sebagai donatur dan ke sana untuk mengantar buku sekaligus untuk bertemu mereka," tuturnya.

Saat itu ia menyempatkan diri datang, meski masih kerja di Malaysia. "Kegiatan koordinasi dilakukan sepenuhnya secara online. Biasanya, bersama teman-teman kami menentukan tempat terlebih dahulu, baru membuat tulisan di blog, mengajak teman-teman blogger dan netter untuk terlibat menyumbangkan buku ke lokasi yang dituju," katanya.

Fokus Anaz adalah tempat-tempat terpencil di pulau Jawa, meski sempat terkendala masalah biaya. "Alhamdulilah, beberapa tempat sudah kami kirimi buku, Papua, Aceh dan Kalimantan. Tahun 2012 ketika pulang ke Indonesia, kami juga datang langsung memberikan buku-buku tersebut."

Anaz dan beberapa temannya juga menggagas Arisan Buku Blogger, di mana uang yang terkumpul setiap bulannya dibelikan buku kemudian dikirim ke wilayah di sekitar pulau Jawa.

Kontak Majikan

Anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan alm. Tarwito dan Solasih tersebut mengaku, aksi yang ia lakukan selalu mendapat dukungan dari orangtuanya. Anaz menganggap segala pencapaiannya saat ini tak lepas dari hobinya menulis. "Menulis itu bukan sejauh kita belajar, tapi sebanyak mana kita mau menulis. Di sisi lain kaya itu bukan berarti ketika kita banyak harta, tapi ketika sebanyak mana kita bisa berguna untuk sesama," ujar Anaz yang berharap ke depannya dapat semakin banyak mengumpulkan dan mengirim buku ke pelosok daerah terpencil di Indonesia.

Meski tak lagi menjadi TKW, Anaz mengaku tak melupakan sang majikan di Malaysia yang telah memberinya banyak kesempatan. Hingga kini ia masih berkomunikasi dengan mantan majikannya itu. "Beberapa hari lalu ibu (mantan majikan) kirim pesan di WhatsApp, nanya saya kerja apa? Saya bilang ngasuh anak, ibu marah. Katanya, 'Ilmu yang ada tu buat apa?'" urai Anaz sambil tergelak.

 Ade Ryani HMK

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.