Kasus Dengue Melonjak 28 Kali Lipat, Jakarta Perkuat Perlindungan dengan Kolaborasi

Selasa, 07 Oktober 2025 | 09:17
iStockphoto

Kasus dengue global melonjak 28 kali lipat.

Nova.ID - ​Secara global, infeksi dengue memberikan tekanan signifikan dalam bentuk krisis kesehatan, beban ekonomi, dan gangguan sosial. Skala peningkatan kasus sangat drastis, data WHO mencatat kenaikan dari 505.430 kasus yang dilaporkan pada tahun 2000 menjadi 14,6 juta pada tahun 2024.

Kenaikan ini menggarisbawahi mengapa dengue terus menjadi ancaman besar, dengan estimasi saat ini menunjukkan bahwa 5,6 miliar orang menghadapi risiko terinfeksi dengue dan penyakit arbovirus lainnya.

Demam berdarah dengue disebabkan oleh empat jenis virus (DENV) berbeda yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, terutama spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini paling sering ditemukan di kawasan tropis dan subtropis.

Gejala dengue bisa bervariasi, dari tanpa gejala sama sekali hingga gejala umum seperti demam tinggi, nyeri sendi dan otot yang parah, sakit kepala, dan mual/muntah. Risiko terinfeksi menjadi tinggi karena keberadaan empat serotipe virus, yang berarti seseorang bisa sakit dengue lebih dari sekali. Penting untuk dicatat bahwa infeksi kedua berpotensi menyebabkan gejala yang jauh lebih parah.

Indonesia telah lama memerangi dengue sejak tahun 1980 sebagai negara endemik, awalnya mengandalkan pengendalian vektor nyamuk seperti fogging dan penggunaan larvasida, yang kemudian didukung oleh inisiatif masyarakat seperti Gerakan 3M Plus dan G1R1J. Mengingat tantangan yang ada, kini disadari bahwa pencegahan memerlukan strategi yang lebih terintegrasi, menggabungkan intervensi pada vektor dan manusia.

Selaras dengan Strategi Nasional (STRANAS) Kemenkes RI, pendekatan kini diperluas dengan inovasi seperti teknologi Wolbachia untuk menekan virus. Selain itu, beberapa daerah juga mulai mengadopsi vaksinasi dengue. Intinya, pengendalian vektor tetap menjadi pilar utama, sementara inovasi-inovasi ini berfungsi sebagai pelengkap penting untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan.

Berbagai langkah penanggulangan telah dijalankan, namun tingginya angka kejadian dengue di Indonesia menunjukkan bahwa tantangan masih harus diatasi. Hingga 22 September 2025, Kementerian Kesehatan RI melaporkan adanya 115.138 kasus dengue di seluruh negeri dan 479 kematian.

Hal yang mengkhawatirkan, 57 persen kasus terjadi di Pulau Jawa, menyoroti beban penyakit yang sangat terkonsentrasi di wilayah berpenduduk padat. Oleh karena itu, provinsi dengan kepadatan dan mobilitas penduduk yang ekstrem seperti DKI Jakarta sangat membutuhkan penguatan perlindungan melalui penerapan strategi penanggulangan yang berlapis.

Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue.

Dalam sambutannya pada acara Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Kantor Walikota Jakarta Selatan, drg. Ani Ruspitawati, M.M., Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh dr. Ovi Norfiana, M.K.M., Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, menyampaikan bahwa dengue adalah tantangan kesehatan yang terus dihadapi setiap tahun dengan dampak yang signifikan bagi masyarakat Jakarta.

"Tahun ini, sampai dengan tanggal 22 September saja, DKI Jakarta mencatat jumlah kasus dengue sebanyak 7.274 kasus dengan 12 kematian. Tentunya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari program pengendalian vektor nyamuk—seperti 3M Plus dan G1R1J—edukasi masyarakat yang berkelanjutan, hingga intervensi berbasis teknologi," ujar dr. Ovi.

Ia menambahkan bahwa salah satu inovasi yang telah diterapkan adalah implementasi Wolbachia di wilayah Jakarta Barat, yang menjadi pilot untuk memutus rantai penularan virus dengue. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana strategi berbasis sains dapat melengkapi upaya konvensional yang sudah berjalan.

Baca Juga: Cara Mengatasi Demam Berdarah Dengue dari Segala Aspek, Capai Indonesia Bebas Dengue 2030

Halaman Selanjutnya

"Tapi, kami menyadari bahwa pengendalian dengue membutuhkan…
Tag

Baca Lainnya