Waspada El Niño dan DBD: Cara Cerdas Ibu Menjaga Buah Hati Tetap Sehat Aktif

Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:55
(Takeda)

Takeda gelar ABCD Land untuk perkuat langkah pencegahan DBD bagi keluarga Indonesia.

NOVA.ID - Sebagai seorang ibu, melihat keceriaan anak-anak saat bermain adalah kebahagiaan yang tidak tergantikan. Namun, di balik tawa riang mereka, ada sebuah ancaman kesehatan senyap yang menuntut kewaspadaan penuh kita.

Anak-anak merupakan kelompok paling rentan yang paling sering mengalami dampak fatal ketika virus dengue menyerang tubuh mungil mereka. Kerentanan sistem imun serta aktivitas luar ruangan yang tinggi membuat buah hati kita menjadi sasaran empuk yang memerlukan benteng perlindungan ekstra di dalam rumah.

Langkah preventif mutlak diperlukan karena masa depan dan keselamatan anak-anak kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Menjaga kebersihan lingkungan serta memahami bahwa ancaman ini mengintai setiap waktu adalah bentuk kasih sayang nyata yang bisa kita berikan.

Sebagai madrasah pertama bagi anak, para ibu memegang peran krusial dalam menyaring informasi kesehatan terbaik dan memilih proteksi yang paling optimal, agar momen tumbuh kembang si kecil tidak terenggut oleh fase kritis penyakit yang dibawa oleh nyamuk ini.

Bukannya tanpa alasan, menurut data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, menyumbang 41% dari total kematian akibat DBD pada 2025. Ini pun menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal DBD.

Namun ancaman ini tidak berhenti di sana. Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun, mencapai 42% dari total kasus pada 2025. Data ini mempertegas bahwa DBD adalah ancaman nyata bagi seluruh kelompok usia, bukan sekadar penyakit anak.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memaparkan bahwa hingga saat ini masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu. Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera.

"Perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah. Menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting. Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi, juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD. Karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka. IDAI sudah memberikan rekomendasi untuk vaksin dengue pada anak untuk perlindungan optimal dari DBD,” ujarnya.

Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menjelaskan bahwa DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius.

Risiko ini semakin besar pada individu dengan kondisi penyerta, seperti: hipertensi, berisiko komplikasi 2-3 kali lebih tinggi; diabetes melitus, 3-5 kali lebih tinggi; penyakit ginjal, hingga 7 kali lebih tinggi; dan mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronik, bahkan 2-12 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbiditas.

"Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Pencegahan yang komprehensif perlu menjadi perhatian seluruh kelompok usia. PAPDI telah merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18-60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan yang komprehensif,” tuturnya lagi.

Baca Juga: Dikenal Sebabkan Nyeri Ternyata Bagian Buah Ini Ampuh Obati penyakit Ini

Halaman Selanjutnya

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative…
Tag

Baca Lainnya