Usaha Oven dan Loyang, Pasok Kebutuhan Pabrik Roti

By nova.id, Senin, 4 Agustus 2008 | 09:50 WIB
Usaha Oven dan Loyang Pasok Kebutuhan Pabrik Roti (nova.id)

Usaha Oven dan Loyang Pasok Kebutuhan Pabrik Roti (nova.id)

"foto: Romy Palar/NOVA "

Kawasan Tarikolot tenar sebagai produsen segala alat yang berhubungan dengan pembuatan kue. Seperti rasa kue, usaha ini pun begitu manis.Dentang logam dipukul menggema ibarat musik cadas. Suara kencang itu berasal dari belasan pekerja yang tengah merangkai logam menjadi sejumlah peralatan. Ada yang membuat oven, loyang, cetakan kue, dan aneka peralatan dari logam lainnya. Misalnya saja wadah untuk ikan laut serta ember penyiram air. Begitulah, suasana sehari-hari di kawasan Tarikolot, Citeureup, Bogor. Tarikolot memang sudah lama dikenal sebagai kawasan kerajinan logam. Selain logam, perajin juga menggunakan bahan baku stainless dan seng.Di salah satu rumah tingkat di pinggir jalan, tertulis nama usaha: Anugerah Ilahi, Menerima pesanan membuat oven, mesin aduk roti, mesin roll roti, loyang, dan aneka cetakan kue. Usaha ini dikelola oleh H. Sajili (50). Sajili termasuk salah satu tokoh perajin yang usahanya maju. Jam terbangnya di usaha ini memang sudah amat panjang. "Saya mulai buka usaha sendiri tahun 1980," kata Sajili yang orangtuanya juga membuka usaha kaleng.Sajili mengisahkan, ia sempat bekerja selama tujuh tahun di sebuah usaha pembuatan aneka alat membuat roti di Jakarta. Tak hanya bekerja, selama itu ia menyerap semua ilmu. Setelah semuanya "nempel" di otak, ia memilih mengundurkan diri. "Saya pulang kampung ke Tarikolot, lalu membuka usaha sendiri," lanjutnya. Tabungan berupa dua petak sawah dijual untuk modal usaha. Dibantu tiga rekan kerja (Sajili enggan menyebut karyawan), Sajili mulai berusaha. Ia membuat aneka oven yang belum banyak digarap perajin di daerahnya. "Antara lain oven rotary, lapis legit, loyang, mesin roll, sampai mesin pengaduk roti."Suatu saat ada pelanggan yang pesan cetakan kue. Sejak itu, Sajili juga membuat beragam cetakan kue. Baik kue untuk brownies, burger, dan lainnya. Produk andalan Sajili yang lain adalah alat berbahan logam dan stainless. "Ibaratnya saya membuat produk dari yang kecil sampai kakap. Sekarang ini, saya bisa memenuhi apa saja keinginan pelanggan."KELILING DAERAHSajili merasa beruntung ketika tahun 1986 berdiri dua pabrik besar di wilayahnya. Kawasan tempat ia tinggal yang semula sepi jadi ramai. Pelanggan pun banyak yang datang ke bengkel kerjanya. Sebagian besar pelanggannya adalah pemilik pabrik roti. Meski demikian, bapak enam anak ini masih bersedia menerima order kecil.Untuk memperkenalkan usahanya, Sajili sudah paham celah yang bisa ditembus. "Di tempat kerja dulu, saya, kan, pernah lama terjun di lapangan. Saya sudah kenal banyak relasi. Kendati demikian, semua harus dilakukan lewat tetesan keringat." Upaya yang dilakukan Sajili memang tak semudah membalikkan tangan. Agar masyarakat kenal produknya, ia sampai keliling daerah.Ditemani sopir, pria tak tamat SD ini berangkat ke kota-kota, termasuk luar Jawa. Ia mengangkut semua karya unggulannya. Itulah fase hidup yang diistilahkan sebagai masa babak-belur. Ia mengaku pernah ke Lampung, Jambi, Banjarmasin, Lombok. Untuk berhemat, ia tidak perlu menginap di hotel mahal. Musala atau losmen pun jadi.Perjuangan Sajili tak sia-sia. Banyak orang daerah jadi pelanggannya. "Setelah itu, usaha saya mirip 'penyakit menular' Dari satu pemesan, menular ke pemesan lain. Pelanggannya pun kian banyak. Sekarang ini, pelanggan dari luar pulau tinggal telepon. Mereka pesan, saya antar. Pelanggan datang dari 16 provinsi," kata Sajili seraya menyebutkan kapasitas produksi per hari mencapai 2-3 mobil boks.Uniknya, lanjutnya, banyak pelanggan yang langsung percaya meski tak pernah saling ketemu. Biasanya mereka melihat produk Sajili di tempat pelanggan lamanya.. Pesanan cukup lewat telepon atau faks.SERIBU PELANGGANUsaha Sajili boleh disebut tak pernah sepi. Hanya saja jenis pesanan berganti seiring musim. "Saat kemarau seperti sekarang, usaha loyang dan sejenisnya menurun. Panas-panas begini, kan, kurang sedap makan kue. Yang laku biasanya makanan yang segar-segar. Makanya, saat sekarang, pesanan untuk oven atau loyang tidak begitu banyak. Pesanan hanya 400 oven per hari. Tapi, saat bulan ber-ber-ber (maksudnya mulai September-Desember), bisa mencapai 2.000 oven. Pesanan ramai lagi menjelang Lebaran dan Natal."Untuk oven dan cetakan kue, Sajili memasukkan produk ke pabrik-pabrik, tak pernah ke toko. "Untuk konsumsi pabrik, barang tidak perlu cakep. Yang penting, sih, kuat," kata Sajili yang mengaku punya seribu pelanggan. Mereka pesan dari cetakan kecil sampai besar, mesin aduk roti, oven berbagai ukuran.Di musim kemarau seperti sekarang, Sajili menerima banyak pesanan dari Muara Baru, Jakarta Utara. "Bukan oven, tapi saya dapat order membuat wadah tempat ikan berbagai ukuran.Mulai ukuran 0,5 kg, 10 kg, dan 15 kg. Kami sampai keteter. Permintaan mencapai 2.000, yang saya sanggupi hanya 1.200. Rekan kerja saya lembur sampai jam sebelas malam," tuturnya yang kini memiliki 30-an karyawan. Harga produk yang ditawarkan, menurut Sajili relatif murah ketimbang harga toko. "Oven stainless dijual Rp 1,3 juta sampai Rp 2 juta," ungkap Sajili.Kini, Sajili berbagi tugas dengan anggota keluarga lainnya. "Saya mengurusi order, istri membuat pembukuan, anak-anak tugas belanja bahan baku," katanya yang enggan menyebut omset usahanya. Yang pasti dari hasil usahanya, Sajili sanggup membuatkan rumah untuk anak-anaknya. Ia dan anak-anaknya juga sudah berangkat haji. Usaha Sajili memang bukan usaha sepele.SELALU DAPAT ORDERSelain usaha yang skalanya besar, di Tarikolot juga banyak terdapat perajin kecil, salah satunya Ujang Jaelani (45). Ujang belum membuka merek usaha. Di depan bengkel kerjanya, ia hanya menulis dengan ungkapan sederhana: Ujang, Terima pesanan oven, loyang, dsb. Pengalaman Ujang sebenarnya cukup panjang. "Saya diajari kakek mulai umur 13 tahun."Ujang mulai buka bengkel tahun 1985. Saat itu perajin sejenis sudah banyak yang eksis. Meski begitu, berkat ketekunannya ia juga sanggup meraih pelanggan. "Meski tidak begitu besar, saya selalu dapat order. Rata-rata yang ke sini hanya bawa gambar, misalnya saja cetakan kue. Saya menirunya. Pokoknya order seperti apa saja, sanggup saya kerjakan," kata bapak enam anak ini.Suami Nurjanah ini mengaku tidak tertarik memasok barang untuk kebutuhan toko. Alasannya, "Toko, sih, sering bayar belakangan. Saya lebih senang menjual ke pabrik roti. Mereka langsung bayar," ujar Ujang yang punya pelanggan di Makassar, Medan, Papua. "Dari sekian banyak pesanan, yang paling laris adalah loyang roti," lanjut pria tamatan SD iniDiakui Ujang, skala usahanya masih kecil. Terkadang, ia masih sanggup menyelesaikan sendiri pesanan yang datang. Kalau ada pesanan dalam jumlah besar, ia minta bantuan perajin lain. Omset usahanya sebulan berkisar antara Rp 12 juta-Rp 15 juta. Dipotong untuk beli bahan baku, "Masih cukuplan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.Harga yang ditawarkan Ujang, cukup bervariasi. Untuk loyang berkisar antara Rp 14 ribu-Rp 60 ribu tergantung dari ukuran. Yang murah juga ada yaitu cetakan hamburger mini yang harganya hanya Rp 2 ribu.

Henry Ismono