Menerjemahkan Film "Bulan di Atas Kuburan" dalam Sajian Sastra

By nova.id, Senin, 13 April 2015 | 07:24 WIB
Menerjemahkan Film Bulan di Atas Kuburan dalam Sajian Sastra (nova.id)

Tabloidnova.com - Karya sastra Indonesia tak jarang dijadikan inspirasi oleh para pelaku seni dalam melahirkan karya-karya mereka. Salah satunya adalah film Bulan di Atas Kuburan, yang merupakan adaptasi dari film dengan judul yang sama karya Asrul Sani dan terinspirasi dari puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang.

Dan pada April ini, Djarum Apresiasi Budaya melalui Galeri Indonesia Kaya bersama MAV Production Asia mempersembahkan sajian sastra Dramatic Reading "Bulan di Atas Kuburan" di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta.

Pembacaan karya sastra Bulan di Atas Kuburan ini dibawakan dengan sangat apik oleh tiga seniman perempuan ternama Indonesia, yakni Atiqah Hasiholan, Ria Irawan, dan Mutiara Sani, yang ketiganya juga ikut berperan di dalam film klasik Indonesia tersebut.

Dalam dramatic reading yang berlangsung selama sekitar 1,5 jam, Atiqah, Ria dan Mutiara menggabungkan media audio visual dengan pembacaan naskah serta sejumlah penggalan adegan film versi baru karya sutradara Edo WF Sitanggang.

Dibalut nuansa yang berbeda dari filmnya, ketiga seniman perempuan ini telah berhasil membawa penonton untuk melihat beragam konflik sekaligus kenyataan hidup di zaman dulu yang ternyata masih sangat relevan dengan masa sekarang.

Bulan di Atas Kuburan merupakan film nasional Indonesia yang dirilis pertama kali pada tahun 1973 dan disutradarai oleh Asrul Sani. Sedangkan di tahun ini, film ini diproduksi ulang dengan mengangkat tema yang sama, namun disesuaikan dengan kehidupan pada masa kini.

Film yang akan dirilis pada 16 April mendatang ini mengisahkan tentang tiga sahabat yang merantau ke Jakarta dari kampung halamannya di Samosir, Sumatera Utara, demi meraih impian mereka. Namun sesampainya di Jakarta, mereka dihadapkan pada kenyataan hidup yang bukan saja merebut persahabatan mereka, tapi juga kemanusiaan mereka.

"Kisah film ini masih sangat relevan dengan kondisi di masa sekarang, dari keadaan sosial, hubungan percintaan, politik, hingga urbanisasi yang kental dengan kehidupan ibukota. Dengan membuat ulang Bulan di Atas Kuburan, saya ingin menyampaikan kembali pesan sutradara sebelumnya ke generasi muda saat ini," tutur sang sutradara Edo WF Sitanggang.

Kendati ada sejumlah perubahan dari naskah aslinya, lanjut Edo, "Saya tidak meninggalkan keaslian ceritanya, hanya mengemasnya dengan konsep yang lebih modern. Sehingga para penonton masa kini bisa lebih memahami jalan ceritanya."

Intan Y. Septiani/Tabloidnova.com