Kisah Sedih Seorang Gadis (2)

By nova.id, Rabu, 31 Oktober 2012 | 04:05 WIB
Kisah Sedih Seorang Gadis 2 (nova.id)

Kisah Sedih Seorang Gadis 2 (nova.id)

"Sebagian tersangka bakal terancam hukuman berat. (Foto: Edwin/NOVA) "

Putus Sekolah

Walau perempuan dan anak kedua, Tina dikenang Yitno sebagai anak yang keras hati. "Kalau dibilangin orangtua satu patah kata, dia bisa balas lima patah kata. Keras kepala juga, termasuk ketika dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Padahal itu menjelang ujian akhir SMP. Guru-gurunya saja sampai datang ke rumah coba membujuk Tina untuk menyelesaikan sekolahnya, tapi tetap dia enggak mau. Katanya pusing sekolah."

Tina memang tidak seperti sang kakak yang meneruskan sekolahnya hingga ke jenjang D1. "Kakaknya lulusan SMK, dan bercita-cita untuk membantu orangtua dengan ingin cepat bekerja. Anak pertama saya ingin bekerja di kapal pesiar. Alhamdulillah, sebentar lagi dia bisa naik kapal. Tapi karena adanya kejadian ini, rencana itu sedikit terhambat."

Meski begitu, Tina tetap sosok yang ingin mengangkat derajat keluarganya. "Tina juga ingin membantu orangtua. Dia ingin menjadi seperti ibunya. Istri saya sudah dua kali menjadi baby sitter di Arab Saudi. Tahun 2007 kemarin hingga saat ini, istri saya berangkat untuk yang kedua kali. Sudah saya kasih tahu istri saya, belum tahu kapan dia bisa pulang ke Indonesia. Mudah-mudahan sih secepatnya," paparnya.

"Jangan ditanya perasaan istri saya. Walau sudah lama tidak bertemu muka, yang namanya Ibu kan pasti sayang anak-anaknya. Sayangnya karena jarak, istri saya tidak bisa melihat dan mengantarkan Tina ke peristirahatan terakhirnya. Lewat telepon saya berusaha menenangkan istri saya. "

Yitno merasa cobaan ini begitu berat. "Saya juga kecewa mengapa anak saya jalannya seperti ini. Saya semakin kecewa mendengar ada sebagian warga dan tetangga saya yang justru menyebarkan berita negatif seputar musibah ini. Memang anak saya putus sekolah, tetapi dia bukan perempuan nakal seperti tanggapan mereka. Warga masih banyak yang beranggapan bahwa hotel itu sebuah tempat yang tidak benar. Memang anak saya ditemukan meninggal di hotel, tetapi kita belum tahu secara pasti bagaimana anak saya itu bisa ada disana. Apa yang dilakukannya disana, diapain saja."

Bila mengikuti kata hati, Yitno mengaku ingin sekali membalaskan dendam kepada seluruh tersangka. "Tapi saya sadar bahwa negara ini negara hukum. Saya hanya ingin keluarga tersangka atau perwakilannya datang kerumah ini, menemui saya dan memohon maaf atas tindakan para pelaku terhadap anak saya. Apa yang dilakukan anak saya hingga anak saya dapat diperlakukan seperti itu? Apa hak mereka untuk melakukan hal itu kepada anak saya?"

Ketika dipanggil untuk kesekian kalinya oleh penyidik Polres Batang, Yitno mengaku sempat bertemu dengan keenam tersangka tersebut namun tidak dapat mengutarakan isi hatinya. "Saya lihat satu tersangka itu sudah berusia 29 tahun dan sudah menikah. Istrinya saat ini sedang hamil tua, kok bisa-bisanya dia melakukan hal itu kepada anak saya?," tukasnya.

Yitno kembali berharap, perisiwa pedihnya tak dialami keluarga lain. "Ada baiknya juga setiap keluarga semakin mempererat hubungan antar anggota keluarga, kedepankan komunikasi. Semoga dengan begitu dapat mencegah hal seperti ini kembali terulang," tutupnya.

Di balik duka, Yitno memang mencoba menabahkan hati.

Edwin Yusman F