"Masalah ini juga tidak akan mencuat kalau bupati tidak ngomong kesana kemari," ungkap Dany Saliswijaya SH. MH., mewakili kliennya.
Sejak semula kasus ini mulai tak kunjung mendapat titik temu, Fany didampingi LSM perempuan karena tidak paham apa yang harus dilakukan. Sejak itu, semua orang merasa sangat berkepentingan dan ingin mengatasnamakan orangtua atau Fany sendiri. Fany kerap dieksploitasi karena memiliki masalah dengan sang bupati. Dany bersyukur kini telah ditunjuk keluarga sehingga dapat fokus membela hak-hak Fany.
Disinggung tentang hasil pelaporan pada kepolisian, Dany sedikit bersedih karena Fany sepertinya mendapat kabar tak enak. "Kemarin waktu selesai disidik ceria dan biasa saja. Cuma sedikit gugup karena tidak biasa melihat banyak wartawan dan kamera. Tapi setelah bertemu orang yang mendampingi dia, tidak tahu apa yang dibicarakan, dia langsung pucat dan muntah-muntah malam itu juga di kantor saya," tukas Dany.
Dany sempat menawarkan untuk mencarikan hotel agar pagi ini dapat memenuhi jadwal bertemu ketua Komnas Perlindungan Anak. Sayangnya, tawaran baik Dany ditolak Fany.
Ke depan, Fany masih harus menyelesaikan proses penyidikan yang terpotong karena waktu. Dany merasa lega, semua pihak menyatakan simpati dan memberi respon positif, termasuk penyidik yang memberkas laporan Fany. Begitu pula inisiatif Gubernur Jawa Barat yang telah memanggil Aceng dimana hal tersebut merupakan inisiatif atasan terhadap bawahan.
Soal harapan akan kasus ini, Dany menganggap sebaiknya memang berlanjut ke ranah hukum hingga terjadi penyelesaian di pengadilan.
Laili