Duka Anida: Ayah Tega Sama Ibu (2)

By nova.id, Selasa, 5 Juli 2011 | 01:36 WIB
Duka Anida Ayah Tega Sama Ibu 2 (nova.id)

Duka Anida Ayah Tega Sama Ibu 2 (nova.id)

"Foto: Ahmad Fadilah "

Tiap Malam Mimpi Ipah

Penyesalan selalu datang belakangan. "Saya menyesal. Tiap malam saya mimpi Ipah. Saya kangen melihat senyumannya. Kalau ingat masa lalu, kami adalah keluarga bahagia yang ke mana-mana selalu bersama," kata Wah sambil meneteskan air mata.

Enam tahun menikah dan dikarunia satu anak, katanya, tak ada masalah dalam rumah tangganya. "Semuanya berubah setelah enam bulan belakangan ini tinggal di Bekasi." Mengikuti keinginan sang istri, Wah akhirnya menjual rumah petak mereka di Manggarai seharga Rp 4 juta dan pindah ke Bekasi agar berdekatan dengan keluarga Ipah. "Uangnya buat bayar utang dan biaya pindah. Tiga bulan belakangan, setelah Ipah dapat kerja di sebuah karaoke, dia mulai berubah."

Kendati sang istri bisa membawa pulang gaji Rp 2,5 juta sebulan dan tips sekitar Rp 200 ribu per malam, Wah mencium gelagat tak sedap. Ia curiga istrinya selingkuh. "Sama suami jadi dingin. Memang, ketika saya tanya hal itu, dia enggak kasih jawaban." Belakangan, Ipah mengakui kehadiran seorang pria baru dalam hidupnya. Tak sampai di situ, "Dia ingin cerai dari saya. Siapa yang enggak kaget? Apalagi, dia mengaku kalau sudah berhubungan badan."

Awalnya Wah mencoba memaafkan, tapi Ipah berkeras ingin pisah. "Tiga kali saya coba mengubah pikirannya, tapi enggak bisa. Sampai akhirnya entah kenapa, saya khilaf. Saya cekik leher istri saya. Karena enggak tega lihat wajahnya, saya tutup dengan bantal. Bukan membekap tapi supaya saya enggak melihat wajahnya," bebernya.

Seusai itu, ia meninggalkan Ipah yang sudah terbujur kaku dan membawa Raisah, putri kandungnya ke rumah orangtuanya di Manggarai, Jakarta Pusat. "Dari situ saya ke rumah kakak di Cibinong, maksudnya supaya bisa istirahat. Saya sempat SMS ke kakaknya Ipah, mengabarkan bahwa saya membunuh Ipah dan besoknya ditangkap polisi."

Jadi? "Ya, saya membunuh karena enggak bisa kehilangan dia dan melihatnya dengan pria lain. Lagipula, kalau saya dicerai, saya enggak punya apa-apa lagi. Ijazah enggak punya, uang, keahlian, dan pekerjaan juga enggak ada," ungkap bungsu dari enam bersaudara.

Sebaiknya Disatukan

Kejadian menyesakkan ini, kata psikolog Dr Rose Mini, M. Psi, bisa membuat trauma pada Anida dan Raisah. "Sebab Anida sudah tahu apa yang terjadi. Apalagi dia sudah tahu ayahnya yang menyebabkan kematian ibunya. Raisah pun bukan berarti tidak mengalami trauma. Sejauh mana traumanya, perlu pemeriksaan. Masing-masing anak berbeda-beda," tutur piskolog yang kerap disapa Bunda Romi ini.

Bantuan psikolog, lanjutnya, amat diperlukan kedua gadis kecil itu. "Ini penting agar mereka cepat pulih kondisi mentalnya. Kedua anak itu perlu mendapat pendampingan yang tepat agar traumanya tidak berkepanjangan." Keduanya juga mengalami perubahan lingkungan dan hidup di lingkungan baru. "Belum tentu lingkungan baru ini cocok untuk anak-anak. Jangan sampai anak-anak itu terus ditanya-tanya kasus yang menimpa orangtuanya. Kalau sembarang orang bertanya, akan menambah lukanya. Untuk bertanya kepada anak soal kasus sensitif, ada tekniknya." Romy berpendapat, sebaiknya Anida dan Raisah disatukan dan tinggal dalam satu keluarga. Dengan bersama, ada tempat saling bergantung. "Ini akan membuat mental mereka lebih baik."

Soal kemungkinan Anida membenci ayahnya, Romi bisa memaklumi. "Soalnya dia tahu, ibunya disakiti ayahnya. Makanya, perlu orang yang betul-betul memahami kedua anak itu. Prosesnya perlu waktu. Seandainya penanganannya tidak tepat, masa traumanya akan panjang dan mengganggu mental mereka. Makanya saya sarankan ke psikolog."

 Edwin