Ini Dia, Petualangan Nadya Hutagalung Bersama Gajah Afrika

By nova.id, Jumat, 25 April 2014 | 02:54 WIB
Ini Dia Petualangan Nadya Hutagalung Bersama Gajah Afrika (nova.id)

Ini Dia Petualangan Nadya Hutagalung Bersama Gajah Afrika (nova.id)

"Nadya Hutagalung (Foto: Intan) "

Belum lama ini selebriti Nadya Hutagalung didaulat sebagai Elephants Warrior oleh WWF (World Wildlife Fund)-Indonesia, setelah sebelumnya bintang film Ario Bayu jadi Orangutan Warrior, Joe Taslim jadi Tiger Warrior, dan Nadine Chandrawinata jadi Turtle Warrior. Nadya juga sudah lebih dari lima tahun ini dikenal sebagai aktivis lingkungan yang sangat vokal menyuarakan Gerakan Hijau di Asia, melalui web yang digagasnya, www.GreenKampong.com.

Semula, web ini tercipta untuk mengetahui perkembangan dan tantangan yang dihadapi saat membangun rumah hijau pertama di Singapura untuk keluarganya. Namun kemudian berkembang menjadi sebuah forum yang banyak diikuti oleh orang-orang yang berpikiran sama. Berkat kegiatannya itu, Nadya pun dipercaya menjadi duta Earth Hour untuk WWF-Singapura selama 6 tahun lamanya dan akhirnya menjadi duta global Earth Hour saat ini.

Kepedulian Nadya tak hanya pada pelestarian lingkungan saja, tapi juga pada kehidupan satwa liar yang ada di muka bumi ini, salah satunya gajah. Dan sebagai Elephant Warrior, belum lama ini Nadya baru saja mengunjungi benua hitam Afrika, seperti Kenya dan Tanzania, untuk melakukan syuting film dokumenter tentang gajah, sebagai bagian dari kampanye Let Elephants Be Elephants (LEBE) bersama seorang ahli gajah yang juga ketua program spesies WWF-Australia dan sudah bekerja selama bertahun-tahun di Afrika Selatan, Dr. Tammie Matson.

Selama sekitar satu bulan di sana, Nadya menyusuri alam liar Afrika termasuk lorong-lorong tersembunyi di Asia untuk mencari jawaban dari satu masalah krusial: "mengapa populasi gajah di dunia semakin lama semakin hilang?" Hasil temua kedua perempuan ini ternyata sangat mengejutkan, namun di saat bersamaan menginspirasi keduanya untuk semakin mengatakan tidak untuk gading gajah. Terutama setelah mereka memahami adanya keterkaitan antara krisis meningkatnya perburuan gajah di Afrika dengan bertumbuhnya permintan gading gajah di Asia.

"Selama di sana saya bertemu orang-orang hebat yang mengabdikan diri untuk kelangsungan hidup gajah Afrika yang mulai punah. Mereka sangat terbuka ketika kami datang ke sana. Sebab mereka tahu tujuan kami adalah ingin menyebarluaskan soal kesadaran untuk mengatakan tidak pada pembunuhan gajah dan tidak untuk gading gajah," papar Nadya, saat ditemui di Jakarta beberapa hari lalu.

Di Afrika, Nadya pun berkesempatan berkunjung ke sebuah "panti asuhan" untuk bayi-bayi gajah yang ditinggal mati orangtaunya akibat pembunuhan liar yang dilakukan para pemburu gading gajah. "Saya lihat ada bayi gajah yang usianya baru satu minggu dan seharusnya masih menyusui, tapi sudah tidak punya ibu karena mati dibunuh. Bayangkan, bagaimana sedihnya?" ucap Nadya denga nada prihatin.

Untuk itu, melalui kampanye LEBE di mana ia ikut terlibat di dalamnya, ingin mengajak seluruh masyarakat untuk tidak mendukung pembelian gading gajah, karena akan berkontribusi pada menghilangkan populasi gajah Afrika yang sudah semakin menurun jumlahnya dari tahun ke tahun.

"Menurut saya, perburuan dan jual-beli gading gajah adalah kriminal dan ilegal, sama halnya dengan pelaku trafficking, drug dealer. Kita harus berani menghentikannya!" tegas Nadya lagi.

Ingin tahu bagaimana pengalaman luar biasa yang dialami Nadya bersama gajah-gajah Afrika, bisa disaksikan lewat film dokumenter untuk kampanye LEBE yang berjudul sama, Let Elephants Be Elephants, yang diputar di kanal teve berbayar National Geopraphic dan Nat Geo Wild pada April ini dan Mei mendatang. Sementara untuk mengetahui lebih jauh tentang kampanye ini, bisa klik www.letelephantsbeelephants.org.

Intan / Tabloidnova.com