Menengok Sejarah Indonesia di Bengkulu

By nova.id, Jumat, 19 Agustus 2016 | 06:23 WIB
Rumah Ibu Fatmawati di Bengkulu (nova.id)

Rabu, 17 Agustus 2016, lusa, bangsa Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-71. Banyak sudah cerita tentang perjuangan para pahlawan dalam upaya merebut kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik cerita-cerita heroik berhiaskan tumpahan darah, tak sedikit benda atau tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia melawan bangsa penjajah. Bengkulu, salah satunya. Wilayah yang sejak 18 November 1968 menjadi provinsi ke-26 ini merupakan salah satu saksi bisu lahirnya negara Republik Indonesia. Menyambut Hari Kemerdekaan, berikut tiga lokasi bersejarah di kota yang dulu disebut Bencoolen itu.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Tepat dipinggir Jalan Soekarno – Hatta, Anggut Atas, Gading Cempaka, Bengkulu, sebuah rumah dengan desain khas era kolonial berdiri gagah. Sebuah penanda bangunan yang terbuat dari beton terpancang di halaman depan rumah bertuliskan informasi bangunan bersejarah tersebut. Halaman terlihat rapi tertata, pepohonan disekitar rumah membuat suasana semakin terlihat asri.

Menyusuri jalan setapak menuju pintu rumah, seakan membawa kita masuk ke kapsul waktu. Begitu jarak semakin dekat, dua pria berkemeja putih dan bercelana hitam datang menyambut. Satu diantaranya bernama Sugrahanudin, yang sudah belasan tahun menjadi juru pelihara rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu itu.

Sugrahanudin langsung menyiapkan sebuah buku tamu, yang sebagian penuh coretan nama dan asal pengunjung yang pernah hadir di tempat ini. Demi menghormati dan menjaga kebersihan salah satu bangunan warisan Sang Proklamator, pengunjung diwajibkan untuk membuka alas kaki sebelum memasuki ruang demi ruang.

Begitu telapak kaki menginjak lantai teras sederhana yang tidak berubin hanya dibuat dari semen itu, hawa dingin merayap pelan dan memberi kesegaran ditengah udara siang Bengkulu yang panas. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari bagian teras bangunan ini, selain kisi-kisi di atas pintu yang berornamen Tiongkok.

“Awalnya rumah ini milik seorang pedagang bernama Tjang Tjeng Kwat, sebelum akhirnya menjadi tempat tinggal Bapak Ir. Soekarno selama diasingkan di Bengkulu sejak 1938 sampai 1942,” terang Sugrahanudin.

Pria murah senyum ini kemudian menjelaskan ruang demi ruang di dalam rumah ini. Informasi yang diberikannya sangat dalam, tak heran jika 2015 lalu dirinya mendapat penghargaan sebagai Juru Pelihara Terbaik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Ruangan pertama yang dilihat begitu memasuki rumah ini adalah sebuah ruang tamu kecil dengan perabotan kuno yang terbuat dari kayu. Berbelok kekanan, adalah ruangan kerja Presiden pertama Indonesia. Di ruang itu terdapat meja dan kursi kayu sederhana tanpa ukiran rumit dikelilingi rak buku yang menemani Ir. Soekarno di masa pengasingan.

Sebagian buku beragam judul yang nyaris semuanya berbahasa Belanda itu terlihat usang dimakan waktu. “Sebagian buku sudah diperbaiki, prosesnya tidak mudah dan perlu tenaga ahli. Di ruangan ini juga kita bisa melihat beberapa gambar beberapa bangunan yang dibuat Bapak selama di Bengkulu. Diantaranya desain rumah sahabat dan Masjid Jami yang hingga saat ini masih berdiri,” jelas Sugrahanudin.

Tepat di sebelah ruang kerja, terdapat ruang penyimpanan kostum teater sandiwara bernama Monte Carlo asuhan Ir. Soekarno. Bersama Ibu Inggit Ganarsih dan sahabatnya kala menjalani pengasingan di Bengkulu, Ir. Soekarno rajin menggelar pementasan teater. Naskah yang dipentaskan Monte Carlo adalah karya Ir. Soekarno, di antaranya berjudul Dr. Syaitan, Rainbow (Poetri Kentjana Boelan), Chungking Djakarta, dan lain-lain.

Drama Dr. Syaitan dan Rainbow menjadi drama favorit warga Bengkulu kala itu. Dari informasi yang ditercetak di dekat lemari kostum diketahui bahwa naskah Dr. Syaitan ditulis Ir. Soekarno karena diilhami oleh film Frankenstein. Sementara naskah bertajuk Rainbow bercerita mengenai kisah gadis yatim piatu dari keluarga bangsawan Sungai Lemau yang diangkat anak oleh seorang pembesar dari Inggris.

“Rumah ini tetap terjaga keasliannya. Kalaupun ada perbaikan, semua diganti mendekati aslinya. Tak hanya bentuk, tapi juga bahannya. Misalnya, mengganti kayu pagar dan atap rumah yang sudah lapuk atau dimakan rayap. Engsel pintu rumah ini juga sebagian sudah diganti karena rusak. Cukup susah mencari engsel,. handle pintu dan kunci pengganti karena sudah tidak ada yang memproduksi lagi. Beruntung kami mendapatkannya dari sebuah rumah tua yang ada di Yogyakarta,” tutup Sugrahanudin.