Perseteruannya Sempat Terekspos Publik, Marshanda Pilih Lakukan Ini pada Ibu Kandungnya

By Tiur Kartikawati Renata Sari, Senin, 30 September 2019 | 13:29 WIB
Perseteruannya Sempat Terekspos Publik, Marshanda Pilih Lakukan Ini pada Ibu Kandungnya (Instagram/@benkasyafani)

NOVA.id - Lika-liku hidup Marshanda memang tiada habisnya.

Diketahui mengidap bipolar, artis cantgik ini sempat meluapkan kesedihannya dalam sebuah video yang dipublikasikannya di Youtube.

Kala itu, Marshanda pun mengaku belum bisa menerima keadaannya yang mengidap bipolar.

Baca Juga: 5 Tahun Pisah dari Ben Kasyafani, Benarkah Marshanda Masih Rasakan Cemburu?

Perseteruannya dengan pihak keluarga terutama sang ibunda juga sempat terekspos ke publik.

Tak hanya itu, melansir dari Wiken.id, Marshanda juga depresi dan insomnia akibat perceraian kedua orangtuanya.

Ia juga memendam rasa sedih karena orangtuanya bercerai sejak ia masih kecil.

Baca Juga: Sebelum Nikahi Ardi Bakrie, Nia Ramadhani Akui Pernah Labrak Marshanda di Lokasi Syuting: Asal Lo Tau Gue Enek!

Di tahun 2009 itu, wanita yang akrab disapa Caca ini ternyata juga didiagnosis gangguan jiwa bipolar oleh dokter.

Melalui email, ibunda Caca, sering mengirim informasi mengenai gangguan bipolar.

Jangankan dibaca, email itu selalu dihapus oleh Caca.

Baca Juga: Pernah Akui Berteman dengan Marshanda Demi Panjat Sosial, Nia Ramadhani: Dulu Gue Bukan Siapa-Siapa

"Setiap ada email, aku hapus. Aku enggak pengin tahu. Aku cuekin," kata Caca saat berbagi cerita di acara Living Inside Bipolar Mind dikutip dari Kompas.com.

Di usia 20 tahun itu, Caca mengabaikan diagnosis dokter.

Ia juga tak paham betul apa itu bipolar.

Baca Juga: Dulu Juragan Hotel, Begini Kabar Ayah Marshanda yang Memprihatinkan hingga Pilih Hidup di Pondok Pesantren

 

Menurut Caca, mereka yang lebih cenderung menggunakan otak kanan dalam berpikir adalah orang lebih bisa mengerti dirinya saat itu.

“Aku bertemu dengan lingkungan yang bagi mereka tuh bipolar bukan sakit dan mereka membuat aku merasa, aku enggak mengerikan. Mereka membuat aku merasa normal kalau aku nangis. Mereka kecenderungannya otak kanan, ya kayak seniman, suka berimajinasi,” ungkap Caca.

Sementara ketika bertemu orang-orang yang lebih cenderung otak kiri, Caca merasa dipandang berbeda.

“Mereka lihat orang ekspresif, bingung karena mereka enggak gitu. Ketika aku blak-blakan, terlalu terbuka, mereka enggak nyaman. Mungkin maksud mereka enggak begitu ya,” kata ibu satu anak ini.(*)