Temani Anak Belajar dari Rumah, Jadi Pintar Bersama Tanpa Tersiksa

By Yunus,Maria Ermilinda Hayon, Rabu, 24 Juni 2020 | 09:47 WIB
Temani Anak Belajar dari Rumah, Jadi Pintar Bersama Tanpa Tersiksa. (IStock )

NOVA.id - Apa yang Sahabat NOVA pikirkan ketika tiba-tiba anak harus menjalani proses balajar dari rumah?

Mungkin sebagian besar di antara kita panik, bingung, atau bisa jadi banyak juga yang stres.

Ya karena merasa enggak siap menemani anak yang diharuskan belajar dari rumah (BDR).

Baca Juga: Emosi Saat Ajak Anak Belajar Selama SFH? Coba Lakukan Teknik Ini!

Kita harus berbagi waktu dengan urusan rumah yang lain, belum lagi mengendalikan anak agar tetap fokus belajar.

Tentu itu bukan pekerjaan yang mudah, mengingat perjalanan BDR anak yang dilakukan sejak 19 Maret 2020 lalu masih panjang.

Demi terus menekan laju penyebaran virus corona di Indonesia, pemerintah sudah memutuskan bahwa pada Tahun Ajaran Baru 2020 nanti sebagian besar murid masih menjalani BDR.

Baca Juga: Selama Sekolah dari Rumah Anak Jadi Malas Belajar? Ini Cara Atasinya

Pada satu sisi, kebijakan ini tentu disambut positif.

Karena kita sebagai orangtua pun ragu mengizinkan anak ke sekolah dalam situasi seperti ini.

Tapi di sisi lain, kita merasa tak siap.

Baca Juga: Sekolah Tatap Muka Dibolehkan, Nadiem Makarim: Asal Ada Persetujuan Orang Tua Murid

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menyebut kebijakan itu hanya melayani 6 persen siswa yang bersiap melakukan sekolah tatap muka.

Sementara 94 persen lainnya masih harus BDR.

Padahal kata Indra, masih banyak masalah yang belum tuntas dalam pelaksanaan BDR, mulai dari sinyal internet, kekurangan gadget, tak ada kuota, maupun kesiapan guru dan orangtua.

Baca Juga: Temani Anak Belajar dari Rumah, Orangtua Tak Menggantikan Guru

Infografis: Beda Homeschooling, Unschooling, dan Belajar Online. (NOVA)

“Harusnya kebijakannya lebih berat pada yang 94 persen, agar proses belajar lebih efektif meski tidak tatap muka,” tambah Indra.

Saat BDR, peran orangtua memang sangat penting dalam menemani anaknya belajar.

Masalahnya, menurut Indra, selama ini orangtua menyerahkan sepenuhnya urusan belajar anak kepada pihak sekolah maupun lembaga bimbingan belajar.

Baca Juga: Ini Pentingnya Kolaborasi Orangtua dan Guru Saat Anak Belajar di Rumah

Sehingga ketika itu dilakukan di rumah, orangtua seperti tidak siap, bahkan stres.

“Ekosistemnya belum ideal. Ki Hajar Dewantoro menyebut ada tiga sentra pendidikan, yaitu rumah, sekolah, dan masyarakat. Selama ini kan rumah memang tidak menjadi sentra pendidikan,” kata Indra.

Jadi wajar jika saat ini banyak orangtua kewalahan.

Baca Juga: Pengamat Pendidikan: Tanpa Disadari, Kita Paksa Anak ke Era Digital

Bukan cuma tak siap saat disodori materi pelajaran anak, tapi juga mengendalikan anak agar bisa tetap fokus belajar dan mau mengikuti proses BDR dengan baik.

Apalagi dalam situasi ini, anak juga tertekan.

Lha, mendampingi anak belajar dalam kondisi normal saja sudah susah, apalagi bila si anaknya dalam kondisi stres.

Baca Juga: Masuki New Normal, Jangan Lagi Sepelekan Flu pada Anak yang Bisa Picu Hal Ini

Sementara di sisi lain, orangtua juga punya tanggung jawab mengerjakan urusan rumah, belum lagi jika mereka juga punya kewajiban work from home.

Terbayang ruwetnya, kan?

Tapi kondisi ini memang mau tak mau harus dihadapi.

Baca Juga: Penerimaan Peserta Didik Baru Online Sudah Mulai Dibuka, Begini Caranya Biar Lancar Daftar

Orangtua harus punya cara yang tepat agar bisa menemani anak BDR tanpa merasa “tersiksa”.

Kata Indra, “Yang jelas, orangtua tidak menggantikan fungsi guru, tidak mengajari anak sebagai guru. Karena orangtua memang bukan guru.”

Kemampuan Literasi Ketika BDR dilakukan, ada beberapa masalah pada anak yang akan jadi tantangan orangtua, di antaranya meningkatkan kemampuan literasi, berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah.

Baca Juga: Jangan Langsung Dibuang, Tali Pusar pada Bayi Ternyata Bisa Jadi Obat Kanker, Begini Penjelasannya

Selama mendampingi anak, orangtua mestinya bisa mengatasi masalah itu, tentu dengan caranya sendiri.

“Kalau orangtuanya selama ini tidak suka membaca, bagaimana? Makanya ini akan jadi tantangan sendiri, bagaimana meningkatkan literasi antara anak dan orangtua di rumah,” tukas pria ini pelan.

Tantangan itu mungkin selama ini tak pernah terpikirkan orangtua, karena tak menganggap rumah bisa jadi sentra pendidikan.

Baca Juga: 5 Perilaku Orang Tua yang Tanpa Sadar Bangkitkan Konflik Pilih Kasih untuk Anak-anaknya

 

Menurut Indra, kondisi BDR ini harusnya jadi momen agar orangtua bisa melihat kemampuan anak dalam banyak di antara kita yang memiliki ekspektasi berlebihan terhadap kemampuan anak.

Padahal selama ini kita enggak pernah tahu seperti apa proses belajar anak, karena diserahkan sepenuhnya pada sekolah.

Jadi begitu anak butuh perhatian dan pendampingan kita dalam proses belajar di rumah, kita jadi kewalahan.

Baca Juga: Tak Perlu Khawatir, Kita Bisa Bantu Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Anak Tanpa Suplemen dengan Cara Ini

“Pandemi ini mungkin jadi peringatan buat kita, Tuhan seperti memberi tombol riset untuk menata ulang sistem pendidikan ideal buat anak,” tambah Indra.

Nah, siapkah kita untuk terus jadi teman belajar anak?

Dapatkan pembahasan yang lebih lengkap dan mendalam di Tabloid NOVA.

Yuk, langsung langganan bebas repot di Grid Store.(*)