Agung Nugroho Susanto, Tawarkan Kemitraan Laundry Premium (2)

By nova.id, Minggu, 6 September 2015 | 03:31 WIB
Agung Nugroho Susanto (Foto: Rini. S / Dok NOVA) (nova.id)

Wisatawan yang terus membanjiri kota Yogyakarta membuat jumlah wisatawan dan tempat penginapan tidak imbang. Karena itulah, pertumbuhan hotel di Yogyakarta saat ini ibarat cendawan di musim hujan, menjamur seperti tak terkendali, belum lagi rumah-rumah pribadi yang dijadikan vila dan guest house.

Peluang bisnis yang terakhir itu ditangkap Agung sejak tahun 2010. Karena itu, berbekal pengalaman mengembangkan jaringan bisnis laundry kiloan lewat Simply Fresh Laundry, ia pun berekspansi dengan membuat manajemen baru dengan brand Simply Homy (SH).

Lewat SH, Agung menawarkan kerja sama pengelolaan sewa rumah harian. Ada keuntungan yang ditawarkan pada pemilik rumah yang biasanya memiliki rumah lebih dari satu dan tidak saban hari dihuni. Begitu pun kepada calon konsumen/penyewa rumah bertarif harian, ditawarkan kenyamanan dan lebih murah dibanding hotel berbintang. “Kami sediakan fasilitasnya mirip bintang tiga,” terang Agung.

Alasan Agung berekspansi, selain karena ada peluang, juga berangkat dari keprihatinannya melihat banyak wisatawan yang terpaksa harus bermalam di masjid-masjid atau emperan karena tak kebagian kamar hotel. Tahun 2010, Agung dan tim manajemennya mulai bergerak. “Awalnya kami memesan 4 bangunan rumah kepada pengembang. Janjinya 6 bulan selesai, ternyata hingga 3 tahun tidak kunjung terwujud,” terangnya.

Selama masa penantian, Agung melihat banyak rumah kosong. “Dari sana kami tergelitik menawarkan pemilik rumah untuk bergabung dengan Simply Homy. Rumah-rumah itu kami pasarkan dengan sistem sewa harian. Ternyata banyak peminatnya. Dan ketika rumah yang kami pesan jadi, kami putuskan dijual saja. Sekarang kami hanya mengelola rumah-rumah “nganggur” milik orang dan manajemennya kami kelola full. Intinya sama, bisnis kemitraan. Sekarang tak cuma di Yogya, melainkan juga di Bandung. Total ada 25 rumah,” tambahnya.

Terima Beres

Agung memberi gambaran keuntungan dari bisnis sewa rumah harian. Bagi pemilik rumah ini sungguh menjanjikan dibanding bila rumah itu dibiarkan kosong dan terus-menerus mengeluarkan dana untuk perawatan. “Bisnis ini sangat cocok untuk orang yang ingin asetnya naik terus. Sementara penyewanya juga untung, karena bila datang berombongan, bisa masuk dalam satu rumah yang fasilitasnya komplet.”

Harga sewa rumah yang ditawarkan per hari mulai Rp800.000 hingga Rp1 juta. “Tergantung lokasi dan kondisi rumah. Misalnya apakah lokasinya strategis, usia bangunan, dan kelengkapan fasilitas. Soalnya si calon penyewa kan juga memilih yang mana yang dia suka.”

Rumah di pinggir jalan lebih diminati Agung lantaran bisa sekalian untuk branding SH. “Bagi penyewa ini juga jadi pilihan. Lebih-lebih kalau lingkungannya dekat dengan berbagai fasilitas umum. Misalnya mal, kampus, masjid, mini market atau lainnya,” terang Agung. Rumah-rumah yang dikelola Simply Homy, masih kata Agung, disewakan dengan konsep rumah syar’i. “Kami mengincar tamu-tamu keluarga yang akan ada acara wisuda atau menghadiri pernikahan. Karena itu rumah yang lokasinya dekat kampus selalu laris.”

Seperti umumnya orang menginap, Simply Homy juga menyediakan sarapan di pagi hari. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah kamar. Bagaimana dengan pemilik rumah yang hendak bergabung? Biasanya manajemen Simply Homy akan melakukan survei lebih dulu, strategis atau tidak. Ukuran yang paling baik adalah di dalam kawasan ring road. Tetapi ada beberapa lokasi di wilayah utara ring road dan jalan Kaliurang yang kini berkembang pesat pun bisa dikatakan strategis.

“Dekat kampus itu paling bagus. Sebab acara wisuda dalam setahun bisa beberapa kali. Atau keluarga-keluarga yang hendak menghadiri acara pernikahan, atau liburan. Incaran kami tamu yang datang ombongan,” katanya.

Sebagai gambaran, fasilitas yang harus disediakan pemilik rumah antara lain minimal per rumah harus ada 3 kamar, 2 kamar mandi, ada ruang publik, dapur dan peralatan masak, kulkas, dan 1 kamar untuk buttler atau penjaga rumah. Kamar mandi harus ada fasilitas water heater. Dengan fasilitas 3 kamar dan ada ruang publik, paling tidak rumah bisa dihuni maksimal 15 orang. “Biasanya penyewa sukanya ramai-ramai, tidak peduli tidur di karpet atau ranjang tambahan.”

Intinya, lanjut Agung, “Kami hanya mengelola aspek manajerialnya, mulai dari memasarkan, merawat, bahkan mentraining buttler oleh tenaga ahli perhotelan. Soal bagi hasil, tiap bulan Simply Homy akan memberikan laporan kepada pemiliknya. Bagi hasil diberikan per bulan setelah dikurangi biaya listrik dan gaji buttler. Jumlahnya pasti beda setiap bulannya, tergantung banyaknya tamu. Tapi paling tidak dalam sebulan bisa dihuni 10 kali,” tegas Agung.

Buttler yang tinggal di dalam rumah bertugas sebagai petugas keamanan, kebersihan, perawatan serta penerima tamu. Tanggung jawabnya menunggui tamu selama menginap maupun saat tidak ada tamu, “Kami punya pengalaman buruk. Pernah tamu tidak ditunggu, ada barang yang melayang atau terbawa tamu. Jadi tugas buttler juga harus men-check list semua barang dan fasilitas rumah. Kalau ada yang rusak atau hilang, si penyewa harus menggantinya. Itu SOP kami.”

Simply Prime

Sukses dengan bisnis laundry kiloan dan Simply Home, serta menjadi pembicara ke berbagai tempat, Agung semakin dilirik pihak ketiga. Tahun 2013, Agung diajak ke Korea dan Jepang untuk bertemu dengan para TKI yang bekerja di industri-industri besar. “Saya diminta menggandeng para TKI itu untuk berinvestasi ke bisnis saya di Indonesia. Pasalnya, gaji para TKI itu besar, bisa mencapai Rp50 juta per bulan. Biasanya, sebagian uang yang dikirim ke keluarga di Indonesia habis begitu saja,” terang Agung yang kemudian mempresentasikan bisnisnya di Indonesia kepada para TKI tersebut.

Rupanya, para TKI tertarik menanamkan investasinya di bisnis terbaru Agung dengan brand Simply Prime. Ini bisnis laundry satuan yang lebih canggih. “Tetapi para TKI itu hanya saya tawari berinvestasi di posisi keagenan alias penerimaan laundry satuan, karena kalau posisinya di workshop-nya terlalu mahal, bisa Rp800 juta.” Investasi Rp80 juta sudah termasuk sewa tempat dan pengelolaan.

Ternyata banyak yang berminat. ”Jumlahnya mencapai 20 orang, padahal kami sebelumnya belum pernah saling mengenal. Bisnis, kan, utamanya memang soal trust, kepercayaan, ya, itu yang saya jaga. Karena diminati, saya berencana menawarkan bisnis serupa ke TKI yang di Mesir.”

Bisnis kemitraan khusus bagi TKI ini dijanjikan menerima bagi hasil setiap bulan. Tapi Agung juga menyampaikan bahwa bisnis itu tidak selamanya untung banyak. “Kadang balik modalnya lama. Tapi kalau menghasilkan, pastilah ada. Karena itu semua yang pahit sudah saya sampaikan di depan.”

Sebelum ke Korea dan Jepang, Agung mengaku sudah memegang matang konsep Simply Prime. Dan kini, kurang dari setahun sudah berdiri 7 outlet Simply Prime di Yogya. “Workshop ada satu yang saya punya, lainnya agen yang investasinya dimiliki para TKI. Saya masih akan menambah lagi. Permasalahannya cari lokasi dengan harga sewa tempat Rp20 juta-an di Yogya sudah susah.”

Siap Bersaing

Ayah 3 anak ini mengakui bisnis Simply Prime bersaing head to head dengan hotel berbintang yang lebih dulu ada. “Tapi sasaran konsumen beda. Simply Prime menyasar segmen menengah ke atas. Sampai saat ini masih dalam tahap pengenalan. Tetapi yang datang sudah banyak. Kebanyakan bridal dan pemilik baju pesta.”

Simply Prime, lanjut Agung memiliki kelebihan lain seperti memperlakukan kain secara hati-hati dan berbeda satu sama lain. Setiap helai baju digarap detail dengan menggunakan chemical khusus dan terbaik agar hasilnya lebih bagus dari kompetitor. “Teknologinya juga mahal. Beda bahan beda chemical dan dijamin lebih sehat.”

Menjamurnya bisnis laundry sekarang ini juga memicu isu soal limbah yang mengganggu lingkungan. Namun Agung tak khawatir. Pasalnya, bisnis laundry kiloan dan satuan yang ia miliki sudah sejak awal memperhatikan soal limbah. Ia mengolah air hasil cucian dengan sterilisasi. “Sementara untuk Simply Prime, saya menekankan pada penggunaan chemical yang lebih sehat.”

Sejak tahun 2008, “Kami sudah memikirkan limbah ini berbahaya atau tidak. Makanya kami sudah memakai deterjen ramah lingkungan. Tanah yang rusak malah bisa subur dengan limbah kami. Hanya saja, kala itu masyarakat tidak peduli dengan apa yang terus kami suarakan tentang green product. Bahkan dulu kami pakai kemasan kertas. Tapi karena harga kertas semakin mahal, jadi balik ke plastik dengan penjelasan daur ulangnya,” tambah Agung yang sudah mengantongi 36 buah penghargaan dari berbagai kategori.

(TAMAT)

Rini Sulistyati