Dengan Intuisi, Bayi Bisa 'Membaca' Situasi

By nova.id, Jumat, 27 Januari 2012 | 22:57 WIB
Dengan Intuisi Bayi Bisa Membaca Situasi (nova.id)

Untuk mencerna situasi di sekelilingnya, bayi lebih banyak menggunakan intuisi. Tingkat kemampuan ini bermacam-macam, ada yang menonjol dan ada yang tidak pada setiap bayi.

Orang tua dulu sering menyarankan, jika ayah pergi dinas ke luar kota dan bayinya ditinggal, maka agar tak rewel ia harus diselimuti baju atau sarung ayahnya. Si ayah pun disarankan membawa baju anaknya. Hal ini, katanya akan membuat bayi tenang. Ayah pun jadi tetap ingat pada anaknya.

Contoh lainnya, saat orang tua meninggalkan bayi ke kantor, perasaan mereka harus tenang, tidak gelisah atau waswas, karena bisa mempengaruhi emosi bayinya. Jika ayah atau ibu gelisah, bayi yang ditinggal mudah rewel, ikut gelisah dan tidak tenang. Mengapa bisa seperti itu? Apakah ini karena intuisi yang dimiliki bayi?

MENERIMA LANGSUNG TANPA INDERA

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah intuisi diartikan sebagai daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari. Dengan kata lain, intuisi adalah bisikan hati atau gerak hati. "Pengalaman bayi seperti contoh tadi bisa saja dikatakan intuisi sebagai istilah awamnya," komentar dr. Tb. Erwin Kusuma, SpKJ, dari Klinik ProreVital, Jakarta.

"Ada bayi yang diberi kemampuan intuisi yang tinggi, ada pula yang biasa saja. Hal itu merupakan variasi. Seperti halnya ada 10 anak yang bisa bermain piano. Namun di antara mereka ada yang kemampuannya melejit atau berbakat sekali, dan ada yang biasa saja, tapi pada umumnya semua bisa main piano."

Menanggapi fenomena itu, Dra. Retno Pudjiati Azhar, dari Fakultas Psikologi UI mengatakan, "Mungkin intuisi ini lebih sebagai suatu kepekaan yang dimiliki bayi. Kepekaan ini terbentuk karena bayi belum terlalu banyak menyerap informasi yang ia pelajari dari lingkungannya."

Kepekaan inilah yang menurut Erwin merupakan perwujudan kecerdasan spiritual atau rohani. "Manusia itu, kan, sebetulnya merupakan makhluk rohani yang berjasmani," katanya. "Sewaktu dilahirkan, jasmaninya baru tumbuh. Otaknya pun belum berkembang sempurna. Jadi, bayi lebih banyak menggunakan kemampuan rohani atau spiritualnya."

Karena bersifat spiritual, intuisi ini tidak dihasilkan melalui proses seperti yang terjadi pada rangsangan di indra bayi. Bisa dibilang, intuisi ini bekerja untuk melengkapi kerja indra bayi yang belum seluruhnya sempurna karena jumlah serabut saraf pada otaknya juga belum banyak dan belum dilapisi mylen. Di usia satu tahun, barulah perserabutan ini terbilang lengkap, dan menjadi hampir sempurna di usia 5 tahun.

Tidak mengherankan, jika di masa bayi seorang anak lebih banyak menangkap masukan atau pesan tanpa melalui indera. Istilahnya, seperti yang dikatakan Erwin, adalah extra sensory perception (ESP). "Orang awam sering menyebutnya dengan istilah yang sebetulnya kurang tepat, yaitu indera keenam atau mata ketiga."

SEPERTI HALNYA GELOMBANG RADIO

Itulah mengapa, meski belum pernah mengalami konflik, bayi bisa merasakan ketidakharmonisan kedua orang tuanya. Tidak salah kalau muncul nasihat, bertengkar janganlah di depan anak. Namun sebetulnya, meski bayi ditempatkan di ruang lain dan tak mendengar pertengkaran tersebut, dia tetap akan gelisah. Dia memang tak mendengar pertengkaran orang tuanya, tapi tetap bisa menangkap situasi tak enak yang melingkupinya. Jadi yang bekerja bukanlah indra pendengaran, melainkan extra sensory perception tadi.