Ayah Menjadi Model Bagi Si Buyung

By nova.id, Minggu, 22 Agustus 2010 | 17:11 WIB
Ayah Menjadi Model Bagi Si Buyung (nova.id)

Bagaimana kepribadian si Buyung nanti tergantung pada ayah. Karena di usia ini, anak lelaki biasanya akan menjadikan ayah sebagai model perilakunya.

Kerap kali ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga sulit baginya membagi waktu antara pekerjaan dan rumah. Kala ayah pulang, anak sudah tidur. Bahkan tak jarang, pagi pun ayah tak sempat lagi ketemu dengan anak karena si kecil belum bangun sementara ayah harus berangkat kerja pagi-pagi sekali. Ayah tak sempat lagi menanyakan kegiatan anak dari pagi sampai sore, bermain dengan siapa saja, dan sebagainya.

Padahal kita tahu, peran ayah tak kalah penting dengan peran ibu. Jadi, ujar Zamralita, Psi., sesibuk apapun, ayah harus tetap menyediakan waktu bersama anak, minimal satu jam sehari. "Waktu tersebut harus betul-betul efektif agar tujuan yang dicapai sesuai, yaitu mengakrabkan ayah dan anak," jelas psikolog pada Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Dalam waktu yang efektif tersebut, ayah dapat berkomunikasi dengan cara bermain, mengobrol atau melakukan aktivitas lain bersama anak. "Namun selama bersama anak, ayah tak boleh ada pikiran apapun tentang pekerjaan. Jadi, seluruh perhatian ayah benar-benar tercurah pada anak," tandas Zamralita. Jika ayah tak bisa menyediakan waktu malam hari, bisa dilakukan paginya sebelum ke kantor. "Toh, biasanya anak kerap bangun lebih awal karena tidurnya pun lebih awal."

Tapi jika ayah harus berangkat pagi-pagi sekali, maka gunakanlah malam hari untuk bersama anak. Paling tidak, saat magrib ayah sudah berada di rumah sehingga masih sempat bermain bersama anak. Kemudian saat weekend atau libur, juga manfaatkan seefektif mungkin untuk bersama anak. "Namun ayah harus konsekuen menyediakan waktu untuk anak, jangan sampai kehilangan waktu sehari pun untuk bersama anak."

Tentunya, dengan keterbatasan waktu yang ada, ayah tak mungkin dapat mengawasi seluruh aktivitas anak, namun ayah tetap harus mengetahuinya. Caranya, ayah harus aktif mendapatkan informasi; misalnya, dari ibu. Dengan begitu, ayah jadi tahu harus masuk pada bagian mana dan apa yang harus diawasi. Misal, anak suka omong kasar atau jorok. Nah, ayah harus tahu dari mana anak bisa berkata seperti itu dan apa yang harus ia lakukan agar si kecil tak keterusan omong kasar/jorok.

TOKOH IDENTIFIKASI

Penting diketahui, pada usia prasekolah, anak mulai melakukan identifikasi. Bila di usia sebelumnya (batita) si kecil hanya sekadar meniru omongan atau tingkah laku orang tua maupun orang lain, maka di usia ini peniruannya lebih dalam. Maksudnya, ia tak hanya sekadar meniru tapi "mengambil" apa yang ditirunya dari si model/tokoh, yang kemudian akan menjadi bagian dari dirinya. Oleh karena itu, yang ditiru pun tak sebatas hanya omongan dan tingkah laku, tapi seluruhnya yang ada pada si model/tokoh. "Umumnya, anak akan beridentifikasi pada orang yang berjenis kelamin sama. Anak lelaki akan beridentifikasi pada ayah dan anak perempuan pada ibu," tutur Zamralita.

Namun begitu, anak perempuan juga bisa beridentifikasi pada ayah dan anak lelaki beridentifikasi pada ibu. Jadi, anak perempuan bisa saja "mengambil" sifat tegas dari ayah atau anak lelaki "mengambil" sifat ibu yang perhatian, misalnya. Bukankah konon, ayah lebih mengajarkan sifat-sifat seperti ketegasan, tanggung jawab, dan melindungi; sedangkan ibu lebih pada kasih sayang, kepedulian, dan kelembutan?

Kendati demikian, lanjut Zamralita, pada dasarnya peran ayah terhadap anak lelaki dan perempuan sama saja. Bedanya cuma pada cara menerapkannya. "Tentunya dalam memperlakukan anak perempuan dan lelaki akan berbeda, karena ada perilaku-perilaku tertentu yang bersifat normatif." Misalnya, ayah lebih mengarahkan anak perempuan harus rapi, berbicara halus, lemah lembut, dan sebagainya. "Jadi, lebih diarahkan pada stereotipe perempuan. Sedangkan pada anak lelaki, ayah bisa saja mengajak membetulkan mobil, misalnya."

Yang harus disadari, lanjut Zamralita, anak bukan hanya akan beridentifikasi pada hal-hal positif dari orang tua, tapi juga bisa perilaku negatifnya. Padahal, identifikasi berkaitan dengan pembentukan konsep diri; anak tengah mencari pola perilaku dalam rangka pembentukan konsep dirinya. Sifat-sifat maupun perilaku orang tua yang dimasukkan ke dalam diri anak akan menjadi bagian dari perilakunya kelak.

Nah, agar ayah bisa menjadi tokoh identifikasi yang baik, menurut Zamralita, ayah harus menjadi contoh yang baik pula bagi anak. "Ayah harus bersifat maupun berperilaku baik dan konsisten." Tapi ingat, lo, si kecil tak akan begitu saja beridentifikasi dengan ayah. Sebab, anak hanya akan beridentifikasi pada orang yang dekat dengannya dan cukup berpengaruh terhadapnya. Itulah mengapa kedekatan ayah dan anak harus sudah mulai dibina sejak bayi; lebih bagus lagi sejak anak masih di kandungan ibu. Jadi, Pak, segeralah "berubah" bila Anda sadar bahwa selama ini Anda kurang terlibat dalam mengasuh si kecil.