Diejek Teman

By nova.id, Senin, 2 Agustus 2010 | 17:30 WIB
Diejek Teman (nova.id)

Duh, sedihnya menyaksikan si kecil kerap diejek dan diolok-olok oleh teman-temannya. Sebenarnya, apa, sih, yang membuat anak diejek atau mengejek teman.

Biasanya anak yang memiliki fisik tertentu sering diejek dan diolok-olok oleh teman- temannya. Misalnya, anak yang bertubuh gemuk diolok-olok dengan sebutan si Gendut.

Yang juga sering diejek/diolok-olok ialah anak yang kurang terampil dalam bersosialisasi dengan teman-temannya. Misalnya, anak yang galak. "Teman-temannya jadi sebel sama dia, sehingga akhirnya dia diolok-olok," terang Dra. Rosemini A. Prianto, MPsi. yang akrab disapa Romy.

Bisa juga karena anak tak punya sopan santun, tambah staf PD IV Sub. Bidang Pengembangan Fakultas Psikologi UI ini. Misalnya, kalau mengambil sesuatu dia langsung main ambil saja tanpa minta izin lebih dulu pada yang empunya. "Kalau itu dilakukan di lingkungan keluarga sebetulnya, sih, nggak masalah. Tapi begitu ia masuk ke dalam satu lingkungan lain, maka akibatnya akan banyak. Teman-temannya enggak akan toleran."

Faktor lain yang menyebabkan anak diejek/diolok-olok teman berasal dari luar diri anak. "Biasanya anak-anak kecil itu, kan, suka nge-geng. Kalau yang satu pakai sesuatu, maka yang lain juga harus pakai. Nah, anak yang tak bisa memenuhi apa yang diharapkan oleh lingkungannya ini akan menjadi terpencil. Dia nggak diajak main oleh teman-temannya itu," tutur Romy. Faktor dari luar ini, menurutnya, lebih susah diubah ketimbang yang dari dalam. "Apalagi kalau penyebabnya adalah faktor sosial-ekonomi."

POLA ASUH

Sebaliknya, pada anak yang suka mengejek/mengolok-olok, "bisa terjadi karena modeling dari melihat lingkungan," ujar Romy. Misalnya, anak mengolok-olok temannya, kemudian lingkungan di sekitarnya tertawa karenanya. "Ini akan jadi reward bagi anak, sehingga makin lama anak akan makin sering melakukannya untuk mendapatkan tertawa orang," jelasnya. Bisa juga anak mencontoh dari TV atau film. Misalnya, adegan orang mengolok-olok yang membuat anak terkesan dan merasa, "Oh, kalau mengolok-olok seperti itu, orang akan tertawa."

Penyebab lain adalah pola asuh orang tua. Anak yang diperlakukan secara keras dan dengan kata-kata yang pedas, maka akan juga berlaku serupa kepada yang lebih lemah semisal adik atau temannya yang lebih kecil. "Anak yang sulit untuk mengatakan tidak, misalnya, itu bisa karena orang tuanya terlalu otoriter atau terlalu keras sehingga anak tak punya kesempatan untuk berbicara." Padahal, anak juga memiliki kebutuhan berbicara untuk mengekspresikan dirinya. "Kalau anak diam saja di rumah, bukan berarti dia mengiyakan apa kata orang tuanya tapi karena kesempatannya yang enggak ada. Akhirnya dia coba di luar dengan cara mengolok-olok temannya." Oleh karena itu, anjur Romy, orang tua sebaiknya memberi kesempatan kepada anak untuk berbicara.

Selain itu, anak juga akan cenderung untuk selalu mencoba apa yang dilakukan orang tuanya. "Entah dia akan berhenti atau tidak dalam mencoba, tergantung anaknya. Tetapi mencoba adalah kemungkinan terbesar yang akan dilakukan anak," kata Romy. Mungkin juga, lanjutnya, orang tua tak secara langsung menjadi model bagi anak, sehingga anak akhirnya terbiasa mengolok-olok.

AJARKAN MENOLAK EJEKAN

Tentu, anak akan terkena dampak akibat diejek/diolok-olok. Anak jadi tak bisa bergaul, cuma punya sedikit teman. Anak juga cenderung akan bermain sendiri. Akibatnya, lama-kelamaan akan berpengaruh pada kepercayaan diri dan konsep dirinya. "Anak akan merasa, kok, teman-teman enggak suka sama aku, sih," kata Romy. Apalagi jika lingkungan di sekitarnya juga sering memberi label kepadanya. Misalnya, si Gendut, si Galak, dan sebagainya. Hal ini akan membekas di hati anak.

Nah, agar hal tersebut tak terjadi pada anak, menurut Romy, orang tua harus membekali anak dengan kemampuan bersosialisasi yang baik. Tak peduli apakah si anak bertubuh gemuk, jelek atau cantik. Terlebih lagi bila si anak memang kurang memiliki keterampilan bersosialisasi. Karena tak jarang terjadi, anak yang cantik bak primadona di rumah, tapi begitu masuk ke lingkungan baru, dia tak bisa survive. Pasalnya, apa yang dia lakukan di rumah diterapkan juga di lingkungan teman-temannya. Misalnya, kalau di rumah dia selalu dipenuhi segala permintaannya, maka di luar rumah pun dia ingin diperlakukan demikian. "Ya, tentu teman-temannya enggak bisa toleran dan menerima, dong."