Aduh, Kebiasaan Pakai Tisu Basah untuk si Kecil Bisa Picu Alergi!

By Dionysia Mayang Rintani, Rabu, 11 April 2018 | 05:00 WIB
Aduh, Kebiasaan Pakai Tisu Basah untuk si Kecil Bisa Picu Alergi! (Dionysia Mayang)

NOVA.id – Sering menggunakan tisu basah untuk si kecil?

Hati-hati, ternyata kebiasaan ini bisa memicu alergi pada si kecil, loh.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology mengungkapkan bahwa kebiasaan orang tua menggunakan tisu basah untuk membersihkan kulit anak meningkatkan risiko alergi.

(Baca juga: Awas, Jangan Sampai Salah Menggunakan Eyeliner! Inilah Cara yang Tepat)

Pasalnya, kandungan sabun pada tisu basah menghilangkan lipid atau minyak alami yang berfungsi untuk melindungi kulit.

Bila sisa sabun ini tidak segera dibilas, bayi akan menyerap lebih banyak zat kimia yang dapat memicu reaksi alergi.

Inilah mengapa, ujar para peneliti dalam laporannya, jumlah kasus alergi di Amerika Serikat meningkat sebanyak 20 persen selama 20 tahun terakhir.

(Baca juga: Cukup dengan Berjalan Kita Sudah Bisa Mendapatkan Banyak Manfaat untuk Tubuh)

Para peneliti secara khusus memperingatkan para orangtua yang anaknya secara genetis berpotensi memiliki alergi dengan kondisi dermatitis atopik.

Perlu kita ketahui, dermatitis atau eksim atopik adalah kondisi kronis yang menyebabkan gatal-gatal.

Kondisi ini disebabkan oleh mutasi genetik yang menganggu protein kulit yang berfungsi menciptakan perlindungan.

(Baca juga: Wah, Sarapan Fancy dengan Lapis Telur Goreng Bikin Pagi Makin Ceria)

Penulis utama studi dan profesor alergi-imunologi di Northwestern University, Joan Cook-Mills, mendapati bahwa dermatitis atopik tidak serta merta terjadi hanya karena paparan terhadap alergen, seperti kacang.

Dia mendapatkan ide mengenai pengaruh tisu basah setelah membaca beberapa studi yang menunjukkan bahwa obat-obatan untuk dermatitis atopik diberikan kepada kulit yang baru disabun untuk memecah perlindungannya.

Untuk membuktikan hipotesisnya, Mills bersama koleganya kemudian melakukan pengujian terhadap bayi tikus yang memiliki mutasi dermatitis atopik.

(Baca juga: Hindari Ngemil saat Malam Hari Jika Tak Mau Alami 5 Hal Ini)

Mereka mengaplikasikan natrium laurel sulfat, bahan sabun yang biasa ditemukan pada tisu basah, ke kulit tikus.

Setelah itu, selama dua minggu, bayi tikus diberi tiga hingga empat kali paparan terhadap alergen dengan durasi empat puluh menit dan diberi makan kacang atau telur.

Walaupun seharusnya tikus tidak menunjukkan reaksi gatal-gatal dan kulit kering hingga berusia beberapa bulan yang setara dengan usia manusia dewasa muda; bayi tikus dalam studi langsung mengalami iritasi pada usus dan area kulit yang terpapar.

(Baca juga: Punya Gigi Sensitif? Nih Cara Alami untuk Meredakannya di Rumah)

Bayi tikus juga menunjukkan anafilaksis atau reaksi alergi berat di seluruh tubuh.

“Ini adalah resep untuk mengembangkan alergi terhadap makanan,” ujar Cook-Mills.

Dia mengatakan, bayi mungkin tidak memakan alergen ketika baru lahir, tetapi mereka mendapatkannya pada kulit.

(Baca juga: Mencoba Diet Ketat Vegetarian Selama 30 Tahun, Tapi Ternyata Begini yang Terjadi pada Perempuan Ini)

Misalnya saudara dengan selai kacang di wajahnya mencium bayi, atau orangtua yang mempersiapkan makanan dengan kacang tiba-tiba menggendong bayi.

Daripada menggunakan tisu basah, Cook-Mills lebih menyarankan mencuci tangan bayi karena efek sabun akan terbilas.

Selain itu, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan kita sebelum memegang bayi untuk mengurangi paparan terhadap alergen.(*)

(Shierine Wangsa Wibawa/Kompas.com)