NOVA.id - Belakangan ini beredar narasi yang menyebut harga Pertamax Rp16.000 per liter mulai 1 April.
Narasi itu beredar di media sosial, seperti Facebook.
"Nanti tanggal 1 April 2022 harga bbm pertamax 1 liter harganya 16 ribu," bunyi tulisan itu.
Dilansir dari Kompas.com, sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi harga keekonomian atau batas atas BBM RON 92 jenis Pertamax bisa menembus Rp 16.000 per liter pada April 2022.
Ini disampaikan Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi.
Agung menyebut, harga minyak pada Maret 2022 jauh lebih tinggi dibandingkan Februari.
Hal ini memicu harga keekonomian Pertamax melambung pada April.
"Dengan mempertimbangkan harga minyak bulan Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari, maka harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 bulan April 2022 akan lebih tinggi lagi dari Rp 14.526 per liter. Bisa jadi sekitar Rp 16.000 per liter," kata dia.
Lantas, benarkah harga Pertamax menjadi Rp16 ribu per liter?
Baca Juga: Pertamina Hapus Premium dan Pertalite Secara Bertahap, Ini Rinciannya
Vice President (VP) Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman mengatakan, pihaknya masih mengkaji terkait rencana kenaikan harga Pertamax.
"Pertamina masih melakukan kajian mengenai hal tersebut," ujarnya, Kamis (31/03).
Kemudian, Fajriah menjelaskan persentase konsumsi pertamax dari total konsumsi BBM Pertamina.
"Konsumsi BBM non-subsidi jenis Pertamax volume konsumsinya sekitar 14 persen," ucapnya.
Sedangkan Pertamax Turbo hingga Dexlite, Fajriyah mengatakan tingkat konsumsinya hanya 3 persen.
Sisanya adalah BBM subsidi seperti Solar subsidi dan Pertalite.
Secara terpisah, Corporate Secretary Subholding Commercial and Trading Pertamina Irto Ginting mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan kajian penyesuaian harga BBM jenis tersebut.
Namun, Irto tidak mau mengonfirmasi kapan kebijakan tersebut diberlakukan.
Irto menegaskan bahwa kajian soal kenaikan harga Pertamax itu dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat dan harga minyak dunia.
Baca Juga: Pakai Minyak Goreng Bekas Demi Menghemat? Boleh Saja, Asalkan...
View this post on Instagram
"Kami masih review penyesuaian harganya, termasuk besarannya. Kami tetap mempertimbangkan perkembangan minyak dunia dan juga daya beli masyarakat," katanya, Kamis, dilansir dari Kompas.com.
Dapatkan pembahasan yang lebih lengkap dan mendalam di Tabloid NOVA.
Yuk, langsung langganan bebas repot di Grid Store.(*)
Source | : | Kompas.com |
Penulis | : | Presi |
Editor | : | Widyastuti |
KOMENTAR