Sungguh aku tak pernah menduga harus menerima kenyataan pahit ini. Terusir dari rumah sendiri gara-gara berusaha membongkar kebobrokan sekolah Alifa', anakku. Padahal, tujuanku semata-mata agar kejadian contekan massal yang diperintahkan oleh guru Alifa' tak terulang lagi.
Semua ini berawal ketika 16 Mei lalu aku iseng bertanya pada teman-teman anakku yang baru beberapa hari menyelesaikan Ujian Nasional (UNAS). "Bagaimana ujiannya, pada bisa, tidak?" Jawaban mereka sungguh di luar dugaan, "Kemarin tidak seberapa susah, kok. Lagipula anak-anak, kan, dapat contekan dari Alifa'."
Aku tersentak kaget. "Kok, Alifa' bisa kasih contekan?' Lagi-lagi jawaban anak-anak itu membuatku lemas. "Kan, sudah diatur sama Pak Fat. Alifa' memang disuruh kasih contekan ke anak-anak." Tiba-tiba aku jadi ingat, saat UNAS berlangsung, Alifa' pernah membawa pulang kertas yang sudah lusuh. Ketika aku tanya, dia hanya berujar, "Itu lembar jawaban UNAS."
Pelan-pelan aku mencoba mencerna semua rangkaian kejadian itu. Segalanya jadi jelas ketika aku mengajak bicara Alifa' dari hati ke hati. Sambil ketakutan, anakku bertutur, "Ya, saya terpaksa melakukan karena diminta Pak Fat." Yang disebut anaku itu adalah nama wali kelasnya. Bahkan, kata Alifa' yang membuatku makin terperangah, aksi memberi contekan pada teman-temannya itu sudah lama disetting. Persisnya sebelum UNAS berlangsung. Jadi, kisah Alifa' padaku, suatu hari ia dipanggil wali kelasnya dan "didoktrin". Katanya, "Kalau kamu ingin balas budi kepada guru, ajari teman-temanmu waktu UNAS nanti. Kalau kamu tidak mau, kelak kamu tidak akan jadi orang sukses."
Tak cuma "dinasihati" seperti itu, Alifa' dan teman-temannya juga diajari teknis memberi contekan agar tidak diketahui pengawas. Caranya, kata anakku, ia dibuatkan kertas buram yang sudah dinomori sesuai dengan jumlah soal. Saat tes, kalau Alifa' sudah selesai menjawab, duplikat jawaban itu harus dioper ke teman yang duduk di belakangnya, demikian seterusnya. Sedang untuk memberi contekan ke kelas lain, salah seorang siswa "disuruh" izin ke kamar mandi. Di sanalah transaksi kertas buram itu terjadi. Kalau memang tidak memungkinkan, jawaban yang sudah dilipat dalam keras kecil itu diletakkan ke pot bunga. Nanti siswa dari kelas lain yang akan mengambil.
Astaghfirullah! Aku mengelus dada, nyaris tak memercayai penuturan Alifa'. "Saya takut, Bu. Saya takut pada Ibu dan Pak Fat. Ibu, kan, selalu bilang, kita harus jujur." Bahkan, kata anakku, karena sadar harus melakukan hal yang benar, ia sengaja memelesetkan jawaban. Kata Alifa', ada sekitar 50 persen jawaban soal yang ia pelesetkan. "Saya kasihan sama Bapak dan Ibu yang mengajari saya mati-matian di rumah, tapi malah disuruh kasih contekan ke anak lain," katanya sambil menahan tangis karena takut kumarahi.
Jelas aku marah. Selama ini aku dan suamiku, Widodo, berusaha keras menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak kami tapi, kok, justru di sekolah yang merupakan lembaga yang seharusnya menanamkan budi pekerti yang luhur, malah mengajari anak berbuat curang. Akhirnya kuputuskan menemui Pak Suk, kepala sekolah Alifa'. Aku ingin dipertemukan dengan Pak Fat agar semua masalah menjadi jelas. Selain minta pengakuan, aku harap ada permintaan maaf darinya.
Namun, meski sudah kudatangi dua kali, usahaku bertemu Pak Fat tak pernah berhasil. Aku lantas memberi ultimatum ke Kepala Sekolah, kalau memang tidak ada penyelesaian, aku akan lapor ke lembaga yang lebih tinggi. Yang membuat aku sakit hati, jangankan keluhanku ditanggapi, keesokan harinya Alifa' justru dicueki oleh Pak Fat.
Merasa menemui jalan buntu dengan Kepala Sekolah, aku lantas pergi ke Pak Dirman, ketua komite sekolah. Bukannya memberi solusi, Pak Dirman malah berujar. "Kalau Ibu mau lapor ke atas, apa sudah siap dengan risikonya?" Setali tiga uang pula saat aku menemui Kepala Diknas Jatim. Alih-alih diberi jalan keluar, aku malah ditakut-takuti akan dituntut balik.
Toh, aku tak gentar. Karena tidak ada wadah yang bisa menampung keluhanku, saran seorang teman untuk menghubungi Radio Suara Surabaya, kujalankan. Dalam sesi wawancara lewat telepon dengan sang penyiar, kukeluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal hatiku.
Didemo dan Diusir
Tak kuduga, gayung bersambut. Tiba di rumah, sudah ada wartawan menunggu untuk wawancara. Esok harinya, persoalan ini sudah muncul di surat kabar diikuti dengan kedatangan seorang wanita berambut panjang ke rumahku. Dia bertanya panjang lebar soal kasus contek massal yang dialami Alifa'. Belakangan kutahu, dia adalah Bu Risma, Walikota Surabaya. Aku jadi terharu. Bayangkan, walikota mau datang ke rumahku! Aku kagum pada Bu Risma yang mau terjun langsung mendalami kasus ini. Esoknya, giliran Prof. Daniel M. Rosyid dari tim independen yang dibentuk walikota, mengunjungiku untuk menggali data dariku dan Alifa'.
Kegembiraanku ternyata harus dibayar amat mahal. Rumahku didemo sekitar 50 anak sekolah yang berteriak-teriak di depan rumah sambil membawa poster yang isinya menghujat diriku. Selesai? Belum! Esoknya, aksi demo membesar. Yang datang bukan hanya anak-anak tapi juga para orangtuanya. Mereka berteriak-teriak di depan rumah sementara aku tetap berada di dalam kamar. Aku menangis minta kekuatan kepada Allah. Aku terus bertanya-tanya, mengapa usahaku membongkar kebobrokan sekolah justru menuai hujatan seperti ini.
Puncaknya terjadi Kamis (9/6). Saat itu sebenarnya akan dilakukan mediasi yang dilakukan oleh tim independen dengan warga. Seharusnya mediasi ini bisa membawa perdamaian di antara kami. Tapi ternyata warga sudah beringas, mereka terus menghujatku. Anehnya, warga meminta pemerintah untuk tidak menghukum Pak Fat dan Pak Suk, yang saat itu memang sudah diberi sanksi oleh Diknas. Teriakan "Usir! Usir!" terdengar dari mana-mana. Usaha Pak Daniel tak mampu meredam emosi mereka. Karena suasana semakin tak menentu, aku dievakuasi oleh polisi ke Polsek Tandes.
Aku benar-benar ketakutan. Siapa, sih, yang tidak ciut dikepung ratusan orang. Aku tak tahu apa jadinya andaikata tidak dibentengi polisi. Itu pun masih ada saja ibu-ibu yang berusaha menerobos dan menarik jilbabku. Aku tahu siapa semuanya, sebab sebagian dari mereka tetanggaku sendiri. Sungguh kejadian ini membuatku trauma luar biasa. Untungnya, sehari sebelum kejadian, aku sudah mengungsikan anak-anak ke Benjeng, ke rumah keluargaku.
Gandhi Wasono M. / bersambung
KOMENTAR