Rian Telah Kembali, Tapi Ke Pangkuan Ilahi (1)

By nova.id, Senin, 5 Desember 2011 | 04:54 WIB
Rian Telah Kembali Tapi Ke Pangkuan Ilahi 1 (nova.id)

Rian Telah Kembali Tapi Ke Pangkuan Ilahi 1 (nova.id)
Rian Telah Kembali Tapi Ke Pangkuan Ilahi 1 (nova.id)

"Sekitar 200 orang tim SAR gabungan mencari Rian dan dua korban lainnya. Pencarian berakhir di Kawah Burung, lereng Gunung Ciremai. (Foto: Kompas/Rony Ariyanto Nugroho) "

Ikut Mencari

Kabar hilangnya pesawat Rian itu sampai ke kami lewat pihak sekolah. Sungguh tak tergambarkan bagaimana gelisahnya kami sekeluarga. Dalam hatiku tersisa harapan tipis Rian akan selamat. Setelah dua hari pesawat Cessna dinyatakan hilang kontak, aku dan saudaraku berangkat mencari Rian ke pegunungan di sekitar rute penerbangannya. Bersama warga setempat dan tim SAR, kami menyusuri Gunung Burangrang. Perasaanku mengatakan Rian tak ada di sana. Sepanjang pencarian, air mataku tak henti mengalir.

Kamis malam sehabis salat saat mencari di Gunung Lingga, aku seakan diperlihatkan sosok Rian sedang duduk. Istriku juga merasakan hal sama. Ia seperti melihat sosok Rian. "Tapi Rian nangis. Tandanya masih ada kehidupan, Pa. Dia pasti masih hidup," kata istriku. Tiga hari dan tiga titik pencarian kulalui, namun hasilnya nihil. Saat itu aku sudah berpikir, seandainya Rian tak juga ketemu, aku pasrah. Aku lalu menancapkan tombak yang kubawa ke Gunung Lingga. Kalau keluarga ingin berziarah, aku anggap di sanalah Rian dikuburkan.

Sambil terus berjalan mencari Rian, terbayang semua kenangan indah saat ia kecil. Rian kecil memang anak yang penuh semangat. Tiap sepupunya ke sekolah, ia ingin ikut padahal umurnya belum cukup. Lucunya, justru ia yang bangun lebih pagi. Di kelas pun, ia hanya duduk dan tertidur.

Menginjak remaja, Rian yang hobi main gitar dan futsal memang berpostur gagah. Tinggi badannya 175 cm dengan berat 90 kg. Setamat SMU, ia mencoba tes di perguruan tinggi. Karena tak lolos, Rian mendaftar di AKPOL (Akademi Kepolisian). Sayang, ia tak lolos seleksi kesehatan. Seketika niatnya berbelok mendaftar di TNI AU. Ia lolos tes fisik tapi terkendala karena ia pakai kacamata. Tak putus harapan, anakku mendaftar ke Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan Curug. Karena usianya yang belia, Rian harus melalui psikotes.

Selama menunggu hasil tes, aku tak mau Rian menganggur. Rian pun setuju untuk kuliah. Baru saja mulai masa orientasi di jurusan IT Universitas Binus, Rian mencoba lagi mendaftar jadi penerbang. Tak kuizinkan karena umurnya masih muda. Rian bukannya tak berbakat, tapi risiko di penerbangan, kan, termasuk tinggi. Aku sampai berjanji padanya, selama aku masih mampu, akan kubiayai kuliahnya.

Ade Ryani / bersambung