Tak Banyak yang Tahu, Makan Anggur Ternyata Bisa Membantu Redakan Depresi Secara Efektif

By Winggi, Jumat, 9 Februari 2018 | 04:45 WIB
Buah anggur bisa mengatasi depresi (istock) (Winggi)

NOVA.id- Saat ini depresi merupakan penyakit yang rentan menyerang banyak orang.

Penyakit ini terjadi karena banyaknya tekanan dalam kehidupan. 

Jika depresi tak segera ditangani maka, penyakit ini bisa memicu penyakit lain. 

(Baca juga: Ternyata Ini Pentingnya Kenalkan Learning Buddy pada Buah Hati)

Bahkan depresi bisa menyebabkan peradangan pada sistem kekebalan perifer dan menghambat kelenjar getah bening dan jaringan lain yang akan melindungi penyakit di dalam tubuh, melansir India.com. 

Untuk mengatasinya cukup mengonsumsi makanan enak yang satu ini. 

Menurut sebuah studi, buah anggur bisa menangkal depresi. 

Periset menemukan jika buah yang penuh nutrisi ini memiliki senyawa tertentu yang bisa menjadi sumber terapeutik untuk mengobati depresi. 

(Baca juga: Jika Ingin Punya Payudara yang Indah dan Kencang, Cukup Lakukan Hal Ini Secara Rutin, Dijamin Ampuh!)

Dilaporkan memimpin peneliti Giulio Maria Pasinetti, Profesor di Icahn School of Medicine di Gunung Sinai di New York mengatakan, "Penemuan senyawa polifenol baru yang berasal dari alam yang menargetkan jalur seluler dan molekuler yang terkait dengan peradangan dapat memberikan cara yang efektif untuk mengobati penyakit depresi dan kecemasan. 

Disebutkan jika Antidepresan yang tersedia di pasaran hanya menargetkan serotonin, dopamin, dan neurotransmitter lainnya. 

Perawatan ini tidak mengobati peradangan dan malformasi sinaptik yang menyebabkan gangguan depresi berat. 

(Baca juga: Banyak Manfaatnya dan Bisa Menurunkan Berat Badan, Konsumsi 7 Jenis Makanan yang Mengandung Vitamin E Ini, yuk!)

Buah anggur memiliki polifenol yang efektif dalam mengendalikan depresi, dan ini merupakan sebuah fakta yang tidak diketahui sampai saat ini. 

Studi baru ini menemukan bahwa buah anggur memiliki polifenol diet biokaktif yang bisa meningkatkan ketahanan terhadap stres akibat depresi pada tikus. 

(Baca juga: Tidak Se-instan yang Dibayangkan, Wanita ini Harus Alami Penderitaan Selama 3 Bulan Paska Operasi Plastik!)

Associate Professor di Icahn School of Medicine di Gunung Sinai, Jun Wang mengatakan, "Penelitian kami menunjukkan bahwa kombinasi pengobatan dengan dua senyawa tersebut dapat meningkatkan ketahanan terhadap fenotipe depresi yang dimediasi stres dengan memodulasi respon inflamasi sistemik dan plastisitas sinaptik otak pada tikus yang merupakan model dari penelitian depresi ini." (*)