NOVA.id - Dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang berlangsung sejak 25 November 2018 hingga 10 Desember 2018, Velove Vexia rupanya turut menjadi salah satu selebriti yang ikut menyuarakan gerakan anti kekerasan terhadap perempuan.
Hal ini dilakukannya bukan tanpa alasan.
Selain pernah menjadi saksi nyata bagi teman-teman yang menjadi korban kekerasan semasa remaja, Velove Vexia sendiri rupanya mengaku pernah sering diteror pacar.
Baca Juga : Berkunjung ke Tokyo, Irwan Mussry Curhat Kangen Maia Lewat Unggahan Ini
“Saya juga pernah mengalami teror, ditelepon pacar selalu,” kata Velove Vexia.
Yup! Faktanya, tingkah laku pasangan yang terlalu posesif dan mengekang bisa menjadi salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang jarang disadari.
Karenanya, sejak remaja, Velove Vexia menjadi tertarik dengan isu-isu mengenai perempuan.
Baca Juga : Wakili Keluarga, Luna Maya Ungkap Rencana Pemakaman Ibu Ayu Dewi
Kini, ia pun aktif dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan.
Dijumpai dalam sebuah diskusi publik bertajuk #GerakBersama Memanusiakan Perempuan “Come Together to End Violence Against Women” yang diadakan UN Women di @america, Pacific Place, Selasa (27/11), Velove pun mengajak para perempuan, termasuk kita, untuk ikut aktif dalam gerakan ini.
Salah satu cara yang bisa kita lakukan, misalnya, dengan mendengarkan orang-orang di sekitar kita yang mengalami kekerasan.
Baca Juga : Uang Bulanan Selalu Habis? Begini Cara Tepat Alokasikan Gaji Bulanan
“Apa yang bisa dilakukan? Mendengarkan teman-teman kalian. Sekecil apapun kekerasan itu tidak bisa ditoleransi. Apalagi yang dilakukan dengan verbal, efeknya bisa panjang banget. Dari pasangan berikutnya pun bisa terulang lagi,” kata Velove Vexia.
Aktris sekaligus penulis buku ini mengaku, kekerasan bahkan bisa menjadi sebuah pattern apabila terus dibiarkan.
Sehingga, hal itu jugalah yang menggerakkan dirinya untuk menulis buku tentang kekerasan terhadap perempuan.
Baca Juga : Blak-blakan, Gisel Ungkap Alasannya Jual Mobil Pengantin dari Gading
“Dari masih muda, enggak perlu jadi ibu-ibu, istri, tidak. Sedini mungkin harus dilakukan pencegahan paksaan-paksaan dari laki-laki yang tidak diinginkan. Kita harus berani bilang tidak.
Kita semua harus bersuara, tidak perlu menunggu kita jadi korban. Dulu kita takut, ngumpet. Tapi semakin banyak yang bersuara, korban-korban ini pun bisa memiliki kekuatan tenaga baru.
Kita bisa menginspirasi (menyadarkan) mereka bahwa mereka korban juga. (Kekerasan terhadap perempuan) Akan merusak generasi berikutnya juga.
Karena anak-anak bisa melihat ini sebagai sesuatu yang wajar,” tukasnya. (*)
Penulis | : | Jeanett Verica |
Editor | : | Jeanett Verica |
KOMENTAR