Ganjar Pranowo
Nyaris Gagal Pemilu
Pria kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 28 Oktober 1968 ini, mulai menyukai politik sejak 1987. Ketika kuliah di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta, Ganjar mulai ikut pawai politik. Saat itu, Soeryadi, Kwik Kian Gie, Guruh Soekarnoputra, Sutarjo Suryoguritno, menjadi sosok yang diperhatikan Ganjar. Setahun setelah lulus, pada 1996 Ganjar ke Jakarta dan bertemu beberapa temannya yang memiliki kantor konsultan. Barulah di Pemilu 2004, Cornelis Lei menelepon Ganjar dan memintanya ikut Pemilu. "Saya dilema memilih antara kerja atau ikut pemilu. Itulah masa transisi yang luar biasa. Dari yang awalnya masih kerja, tapi lama-lama aktif di politik. Nah, kalau pun ikut pemilu, modalnya dari mana? Untungnya, teman-teman lawyer mengajak kerja part-time. Saya diajak diskusi opini untuk kasus besar. Wah, ternyata dapatnya besar. Bayangkan saja, mulai dari Rp 350 ribu, Rp 1,5 juta, sampai dapat Rp 100 juta, lumayan kalau ada 3-4 kali proyek, bisa buat modal kampanye."
Akhirnya, tahun 2004 Ganjar resmi mencalonkan diri menjadi anggota partai, meski awalnya tidak terpikir sama sekali. "Karena bagi saya politik itu mahal," ujar Ganjar yang mengutarakan maksudnya ke istri, Siti Atikoh Supriyanti, yang saat itu bekerja di Pemda Purbalingga. Akhirnya, Ganjar berkampanye di Jakarta, sementara istri tetap di Yogya. Baru tahun 2006 mereka berkumpul di Jakarta. Sang istri pun pindah bekerja di Pemda Jakarta. Bahkan sang istri sempat ambil S2 di ITB dan Tokyo.
"Waktu itu anak saya masih TK, saya pun jadi single parent selama 2 tahun. Untungnya dia mandiri dan tidak cengeng. Pernah saya ke luar negeri selama 10 hari, saya pikir dia akan rindu atau menangis saat ditelepon. Eh, ternyata dia malah bosan kalau ditelepon terus. Di satu sisi malah saya yang menangis, di sisi lain bersyukur dia bisa mandiri. Begitu juga saat kami menengok istri, anak saya malah kangen sekolahnya," ujar Ganjar yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II di DPR.
Dampak dari kesuksesan Ganjar, kadang membuat sang istri khawatir. Apalagi Ganjar pernah mendapat teror bernada ancaman. "Saya disuruh istri jangan bersikap keras. Meski saya tidak cerita dapat SMS ancaman, tetap saja dia buka SMS saya. Lalu, saya bilang ke dia, "Kamu lebih bangga mana, suami keras dan kritis atau jadi anggota DPR yang biasa saja bahkan nyaris tidak terdengar namanya? Kalau kamu mau yang kedua mending saya berhenti saja dan menjadi tukang bakso. Ha ha ha."
Lucunya, sang anak justru malu melihat Ganjar muncul di teve. "Dia baru kelas 2 SD, tapi katanya kalau sudah besar malah ingin jadi gitaris atau pemain bola. Dia enggak mau jadi politisi karena enggak bisa bicara seperti ayahnya. Tapi sekarang, teman mainnya malah dengan teman-teman saya yang lebih dewasa."
Seniman Yang Berubah Haluan
Menjadi bankir atau ekonom tidak pernah terpikirkan oleh Fauzi Ichsan, putra pasangan Firman Ichsan (fotografer, pelukis) dan Poppy Dharsono (pengusaha, perancang busana). "Orangtua saya, kan, seniman dan artis. Sempat ingin jadi seniman karena suka lukisan sejak kecil," tutur pria kelahiran Jakarta, 27 Januari 1970 ini. Sejak usia 12 tahun, Fauzi sudah sekolah di Inggris. "Di usia 16 tahun saya sudah main saham. Tiap kali Pemerintah Inggris memprivatisasi BUMN-nya, kan, diiklankan di koran. Jadi, kalau mau beli sangat mudah, korannya tinggal digunting dan menulis jumlahnya di cek." Dengan minatnya itu, Fauzi pun memilih melanjutkan sekolah di London School of Economics (LSE), University of London. "Sekarang malah benar-benar masuk ke dunia ekonomi."
Usia 12 tahun Fauzi sudah masuk asrama, karena orangtuanya berpisah ketika usianya 9 tahun. Lulus kuliah, Fauzi dihadapkan pada dua pilihan, kerja di pemerintah menjadi pejabat atau di kantor swasta menjadi bankir. Ketika kembali ke Indonesia tahun 1991, Fauzi menjadi tim penasihat ekonomi Menteri Keuangan JB Sumarlin. Lalu, Fauzi melanjutkan S2 ke Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Massachusetts, USA.
Keinginan untuk kembali ke tanah air justru terwujud ketika krisis moneter terjadi pada 1998. Ketika keadaan mulai membaik, tahun 1998 Fauzi diminta menjadi penasihat ekonomi senior untuk Duta Besar Inggris yang mengkontribusi sekitar 7-8 persen dana IMF. "Mereka ingin mengetahui apakah dana IMF digunakan secara baik dan efektif di Indonesia." Lalu Fauzi pun dipercaya menjadi Vice President Standard Chartered, Senior Vice President, Head of Government Relations/Senior Economist sampai sekarang. "Saya selalu bersyukur diberi keberuntungan oleh Allah."
Karier di puncak, diakui Fauzi membuat dirinya sibuk. "Itulah konsekuensi kerja di zaman ini. Makanya saya mencoba meluangkan waktu untuk keluarga di Sabtu dan Minggu dengan melakukan olahraga atau liburan bersama. Saya juga melakukan sesuatu buat orangtua meski dengan keterbatasan waktu," kata suami dari Mutiara Maruto (35) dan ayah dari Jasmin Dewi Indira (9) dan Elodia Michaela (3).
NOVERITA K. WALDAN
KOMENTAR