Tabloidnova.com - Tidak terima anaknya di-bully di sekolah, Suryani melapor ke Polres Sukoharjo, Jawa Tengah.
Namun, pengelola sekolah malah menyayangkan keputusan orangtua murid yang melapor ke polisi.
Suryani mengaku kaget setelah mendapat informasi puteranya sering dianiaya dan dimintai uang oleh teman sekelasnya.
Suryani, orangtua AF, tampak geram saat mengetahui penyebab puteranya tidak mau bersekolah di MTs Negeri Sukoharjo.
Siswa kelas 9 PK II tersebut ternyata sering dipukuli dan dimintai uang oleh teman sekelasnya. Mendengar informasi tersebut, Suryani segera melaporkan hal tersebut ke Polres Sukoharjo.
"Saya tidak pernah tahu selama ini, anak saya tidak pernah cerita kalau diperlakukan tidak baik di kelas. Anak saya pendiam dan mendapat ancaman, makanya saya lapor ke polisi biar menjadi pelajaran bagi semua pihak," kata Suryani, Kamis (7/1/2016).
Suryani menjelaskan sejak Rabu (6/1/2016) AF menolak berangkat sekolah karena sering ditendang temannya.
Selain itu, AF juga sering dimintai uang sebesar Rp 50.000.
"Saya menyayangkan hal tersebut bisa terjadi di sekolah yang katanya berbasis pendidikan agama," katanya.
Baca juga: Siswi SMP Ini Di-Bully Gara-gara Berniat Mempermalukan Temannya di Media Sosial
Sementara itu, pengelola sekolah segera melakuan penyelidikan setelah menerima surat dari Polres Sukoharjo terkait kasus tersebut.
Kepala Sekolah MTs Negeri Sukoharjo, Muchtar Hayuni, menjelaskan peristiwa tersebut terjadi saat pelajaran Bahasa Jawa pada jam kelima.
Pengelola sekolah mengaku tidak menhetahui peristiwa tersebut karena tidak melihat keanehan dengan perilaku para siswa.
Pelaporan kepada pihak kepolisian tersebut juga disayangkan oleh pihak sekolah karena berharap kasus tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
"Kalau dari penyelidikan kami, peristiwa tersebut di luar sepengetahuan guru-guru dan setelah kejadian itu, kedua siswa masih nampak bercanda dan kompak. Saya berharap kasus ini bisa diselesaikan di sekolah," kata Muchtar Hayuni yang menganggap peristiwa tersebut sebagai kenakalan remaja biasa.
M Wismabrata / Kompas.com
KOMENTAR