Peneliti Tidak Sarankan Kita untuk Balikan dengan Mantan Kekasih, Kenapa?

By Tentry Yudvi Dian Utami, Sabtu, 8 Juni 2019 | 15:00 WIB
Peneliti Tidak Menyarankan Kita untuk Balikan Bersama Mantan Kekasih, Apa Alasannya? (eldinhoid)

NOVA.id – Menjalin hubungan kembali bersama mantan memang sering menjadi pilihan bagi kita yang sulit move on.

Selain sulit move on dan masih sayang, menjalin hubungan kembali bersama mantan kekasih juga dinilai menjadi cara paling simpel untuk tidak merasa kesepian.

Tentunya, menjalin hubungan kembali bersama mantan kekasih membuat kita tak perlu bersusah payah untuk mengenal orang baru.

Baca Juga: Perbedaan Mencolok Lebaran Tanpa Ustaz Arifin Ilham, Alvin Faiz Bahagia, Ameer Azzikra Kehilangan

Tapi, menurut para ahli menjalin hubungan bersama mantan bisa membuat mental kita terganggu lo.

Ingin menghindari rasa kesal yang akhirnya mengakhiri suatu hubungan adalah wajar, tetapi sekarang bahkan sains mendukung menyuruh kita lebih baik menjauh dari mantan.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa hubungan yang putus nyambung itu merupakan hubungan beracun.

Ditemukan bahwa 60 persen orang dewasa (tiga dari setiap lima dari kita) telah berada dalam hubungan yang putus nyambung pada tahap tertentu.

Baca Juga: Mewahnya Isi Rumah Mayangsari: Punya Gading Gajah Hingga Ditanami Pohon Jambu Langka!

Data ini diteliti dari 545 orang dewasa, sebuah tim di University of Columbia-Missouri mengidentifikasi hubungan antara hubungan putus nyambung, tingkat kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi.

Para peneliti menyimpulkan bahwa akumulasi transisi hubungan dapat menciptakan kekacauan tambahan bagi individu.

Dalam bahasa Inggris yang sederhana, itu berarti bahwa putus terus-menerus menyebabkan sakit hati ekstra, yang sejujurnya sudah Sahabat NOVA ketahui.

Baca Juga: Manfaatkan Momentum Libur Lebaran 2019 untuk Ajak Keluarga Tumbuhkan Rasa Toleransi Terhadap Perbedaan, Begini Caranya!

"Ingatlah bahwa mengakhiri hubungan beracun adalah ok,"

"Jika hubunganmu tidak bisa diperbaiki, jangan merasa bersalah meninggalkan kesehatan mental atau fisikmu," kata asisten profesor Kale Monk kepada Science Daily.(*)