Body Shaming: Serangannya Perlahan Namun Bisa Sangat Mematikan

By Maria Ermilinda Hayon, Kamis, 19 Desember 2019 | 00:00 WIB
Body Shaming: Serangannya Perlahan Namun Bisa Sangat Mematikan (KatarzynaBialasiewicz)

NOVA.id - “Saya merasa dunia enggak adil, dan semua orang jahat. Enggak ada yang belain, bahkan keluarga juga sering bully. Badan saya itu dari kecil memang sudah besar, rambut saya keriting, dan kulit saya hitam, saya sering dibilang kaya gorila. Apalagi waktu SD ada iklan gorila cokelat, itu sering banget teman-teman bully saya soal itu,” ungkap Tentry, (28).

"Terus dari keluarga juga begitu. Saat kumpul keluarga yang jadi pusat perhatian itu tubuh saya, dibilang, Kok semakin gede, jelek banget, enggak ada yang mau entar. Itu omongan yang datang dari keluarga. Efeknya, saat remaja, saya sempat kepikiran untuk bunuh diri dan marah sama Tuhan, karena menciptakan saya berbeda dari perempuan pada umumnya,” sambungnya.

Well, mendengar cerita sahabat kita di atas, ada rasa sedih, Sahabat NOVA pernah juga jadi salah satu yang mengalami?

Atau justru jadi salah satu yang melakukan? Jawab saja dalam hati.

Baca Juga: Berat Badan Naik 10 Kilo, Jessica Mila: Kita Enggak Bisa Menyenangkan Semua Orang 

Namun tampaknya memang masih banyak orang yang belum sadar bahwa menjadikan fisik orang lain sebagai bahan candaan atau ledekan adalah perilaku salah yang wajib dihentikan.

Bukan tanpa sebab, body shaming nyatanya dapat memperburuk kualitas hidup orang lain.

Khususnya dalam urusan kesehatan mental dan rasa keberhargaan dirinya.

Baca Juga: Tabloid NOVA Terbaru: Jessica Mila dan Melly Goeslaw Sama-Sama Bersyukur! Ada Apa?

Ada beragam tanggapan dan risiko yang akan muncul.

Tapi paling tidak, dua dampak buruk yang ditimbulkan ini bisa menjadi pengingat kita untuk menghentikan body shaming pada orang lain.

Apa saja dampaknya?

Baca Juga: Dapat Body Shaming dari Fans, Prilly Latuconsina: Ngatain Gendut Dulu Baru Muji 

Panen Kecemasan

Seperti yang dikatakan sebelumnya, ada banyak dampak buruk yang bisa terjadi akibat perilaku body shaming.

Menurut Roslina Verauli., M.Psi., Psi., psikolog, dampak buruk yang paling ringan adalah munculnya konsep negatif pada self-esteem seseorang yang terpapar body shaming.

Hal ini akan memengaruhi bagaimana cara dia menghayati dirinya.

Baca Juga: Bukan Hanya Aura Kasih yang Sempat Alami Body Shaming, Deretan Artis Juga Merasakannya, bahkan Anak Presiden, Kahiyang Ayu!

“Ingat, karena cara kita memberikan penilaian tentang diri kita kan ditentukan oleh berbagai aspek. Bisa kecerdasan, kemampuan kita bersosialisasi, nah salah satunya adalah aspek fisik.

Ketika kita menghayati body images atau penampilan fisik secara keseluruhan bermasalah, tentu dampaknya akan memengaruhi self-esteem tadi. Penghargaan tentang dirinya sendiri,” ujar Vera saat dihubungi NOVA.

Nah, apa dampaknya ketika seseorang menghargai dirinya secara negatif?

Baca Juga: Kena Body Shaming, Prilly Latuconsina Susul Anjasmara dan Ussy Sulistiawaty Lapor Polisi? 

Bisa bermacam-macam dan yang paling sering muncul manifestasinya adalah kecemasan.

Kecemasan ini muncul dalam bentuk berbagai pikiran yang negatif, mulai dari pertanyaan “Kok, aku begini, ya?” “Emang benar ya aku gendut dan jelek?” hingga pernyataan “Aku emang seharusnya enggak begini, aku produk gagal”.

Nah, ketika seseorang berpikir bahwa dia tidak seharusnya seperti dia sekarang dan deretan pertanyaan serta pernyataan negatif lainnya muncul, maka ia akan jadi mudah marah dan merasa bersalah tentang kondisi dirinya.

Baca Juga: Kasus Penghina Dian Nitami, Punya Pendidikan Tinggi Hingga Anjasmara Siap Laporkan Akun Lain yang Lakukan Body Shaming

Cetuskan Depresi

Dalam mekanisme yang berbeda, perilaku body shaming bisa juga menyebabkan seseorang mengalami stres hingga gangguan depresi.

Pemahaman negatif tentang perspektif tubuh dan keberhargaan diri yang muncul akibat perilaku body shaming yang diterima akan membawa seseorang pada penetapan standar tinggi mengenai konsep tubuh yang ideal dari mata masyarakat kebanyakan.

“Ketika seseorang akhirnya punya standar yang tinggi soal body image atau tentang penampilan fisik, misalnya ideal banget tuh yang kayak Barbie. Nah, ini bikin mereka jadi kecewa tentang keberadaan dirinya yang enggak mencapai itu. Jadi sedih yang datang dan ujungujungnya ke depresi,” ungkap Vera.

Baca Juga: Mulai Body Shaming Cinta Laura Hingga Ribut dengan Hilda Vitria, 5 Tingkah Hotman Paris Ini Jadi Sorotan di 2018!  

Celakanya lagi, depresi ini tak begitu saja terjadi.

Ada proses panjang dan berkelanjutan dari perilaku body shaming yang menumpuk dan disimpan oleh seseorang yang akhirnya memuncak menjadi depresi.

Mereka punya ekspektasi yang sedemikian tinggi tentang sosok ideal yang dia bawa untuk mencapai standar ideal.

Baca Juga: Lakukan Body Shaming Pada Cinta Laura, Hotman Paris Dikecam Warganet

Infografis: Sadarkah Anda Ini Body Shaming? (NOVA)

Tentu ini merupakan hal berat.

Selain itu, depresi tadi pun bisa saja membuat seseorang menjadi memiliki gangguan makan karena punya penghayatan negatif sekali tentang dirinya, sehingga berpikir harus makan dengan cara tertentu.

Akibatnya, bukan tak mungkin seseorang akan terisolir secara sosial karena body shaming yang selalu ia terima.

Baca Juga: Setelah Alami Body Shaming, CL 2NE1 Tuai Pujian Terlibat Film Mile 22 

Seseorang akan merasa bahwa orang lain hanya akan melihat dia dari tampilan fisik sehingga dia enggan menunjukkan diri pada dunia luar dan kemudian memutuskan untuk menarik diri secara sosial.

Nah, bentuk paling ekstremnya dari beberapa efek body shaming di atas, bisa saja seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Terpaan body shaming yang diterima seseorang bisa saja menggerus energi, perasaan, hingga kewarasannya.

Baca Juga: Waduh, Psikolog Sebut Beauty Bullying Sebabkan Orang Jadi Bunuh Diri! 

 

Tentu, ini sangat berbahaya bagi kesehatan mentalnya.

Memang tak langsung terlihat, tapi jika dilakukan terus-menerus maka perlahan bisa mematikan hidup seseorang.

Jika sudah kadung terjadi begini, tak ada yang mau disalahkan, bukan?

Baca Juga: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia Ingin Obati Korban Bullying Melalui Film 

“Enggak pernah ada bercandaan tentang ranah diri orang lain. Enggak layak. Daripada kita ngomentarin fisik dan segala macem, I do really agree tentang gerakan body positivity. This is not about bentuk tubuh, ukuran, panjangnya rambut, atau warna kulit. Enggak. Lebih penting ke keadaan sehatnya seseorang itu,” pungkas Vera.

Jadi, masih berani bermain-maindengan hidup orang lain?

Yuk, bersama hentikan body shaming!(*)