Anak-anak yang mengambil uang dari anggota keluarga, seolah-olah itu adalah milik umum, mereka mungkin merasionalisasi "Toh, aku akan mengembalikannya nanti" . Ajarkan anak untuk menjaga urusan keuangan pribadinya. Uang harus disimpan dalam kotak terkunci yang disimpan di tempat tersembunyi.
Ketika uang dipinjamkan, ajarkan anak membuat catatan untuk membantu mereka mengingat kepada siapa uangnya dihutangkan dan kapan harus dikembalikan. Orangtua sendiri sebaiknya menyimpan uang di tempat yang tidak dapat diakses anak. Terkecuali uang dalam jumlah kecil yang dapat disimpan dalam tas atau dompet.
4. Ajarkan kepemilikan
Ketika anak masih menginjak usia balita, mereka tak memiliki konsep kepemilikan. Tak heran jika anak berusia dua tahun kerap menganggap semua adalah miliknya. Saat usia dua hingga empat tahun, anak mulai memahami kepemilikan (misal, mainan milik orang lain), tetapi tidak sepenuhnya percaya jika itu bukan miliknya.
Ketidakpahaman anak akan prinsip kepemilikan ini bukanlah kendala untuk mengajarkannya semenjak dini. Ini dapat dimulai ketika anak menginjak usia 2 tahun. Misal, cobalah menjadi wasit yang adil saat anak berebut mainan dengan saudaranya. Tunjukkan jika pemilik sah adalah orang yang lebih berhak memainkan mainan. Katakan, "mainan ini milik kakak", "boneka ini milik kakak", juga bisa menanyakan, "sepatu ini punya siapa?" dan seterusnya. Seiring anak mendapatkan ide kepemilikan, mereka akan memahami soal hak di dalam kepemilikan.
Ketika orangtua memergoki anak membawa mainan yang tak dikenali, lalu anak berkata "ini milikku", bedakan antara pernyataan yang jujur dan yang mencurigakan. Bisa jadi itu hanya, harapan anak untuk memiliki mainan tersebut. Coba tanyakan baik-baik "apakah itu benar milikmu atau kamu berharap itu jadi milikmu?" lalu beri anak gambaran tentang mencuri "kalau si Amir mengambil mainanmu, dan kamu benar-benar menyukainya, apakah kamu akan sedih mainanmu hilang?".
Cara terbaik mengajarkan nilai-nilai adalah dengan penggambaran, ketimbang memaksakan pendapat Anda. Orangtua pasti ingin anaknya mengembalikan mainan dan tak mencuri mainan orang lain. Sayangnya, anak bisa mendapatkan pesan yang salah soal "mengembalikan" jika tak ditangani dengan benar.
5. Koreksi tindakan mencuri
Mendorong dan membantu anak mengembalikan barang curian bukan hanya mengajarkan jika mencuri itu salah, tetapi kesalahan juga harus dikoreksi. Jika Anda menemukan bungkus permen kosong, segeralah ajak anak ke penjaga toko dan lakukan pembayaran serta meminta maaf.
6. Identifikasi pemicu
Cari tahu apa yang mendorong anak mencuri. Anak yang kerap mencuri kendati Anda telah mengajarkan tentang kejujuran, biasanya memiliki masalah mendalam yang harus diperbaiki. Apakah anak marah? Apakah dia mencuri untuk melampiaskan kemarahan? Apakah anak membutuhkan uang dan merasa jika mencuri adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan yang dibutuhkan? Jika demikian, cobalah menawarkan uang saku. Atau, untuk anak yang lebih besar, dorong anak untuk melakukan pekerjaan sambilan. Intinya, bantu anak belajar etika bekerja sehingga anak dapat memiliki hal yang diinginkan tanpa harus mencuri.
Kebanyakan anak yang sering mencuri, menderita kekurangan citra diri. Mereka perlu mencuri untuk meningkatkan perekonomian sehingga mendapatkan perhatian teman sebaya. Dan sebagaimana menangani semua masalah perilaku, diperlukan inventarisasi situasi keluarga sebelum melakukan terapi. Apakah anak membutuhkan pengawasan lebih? Atau mungkin, anak perlu mendefinisikan kembali prioritas dan membangun hubungan lebih baik orangtua-anak.