Bila Istri Kabur Dari Rumah (1)

By nova.id, Selasa, 8 Juni 2010 | 17:40 WIB
Bila Istri Kabur Dari Rumah 1 (nova.id)

Sering, kan, terjadi istri pergi dari rumah alias purik? Biasanya, sih, gara-gara bertengkar dengan pasangan. Tapi, toh, tak menyelesaikan masalah juga.

Alasan pergi meninggalkan rumah atau purik, memang bisa macam-macam. Entah tak tahan menghadapi kenyataan sehingga merasa perlu "menghindar" dulu, ingin berjauhan dulu agar bisa berpikir, dan lainnya.

Yang jelas, dari pengalaman Dr. Sukiat dari Fakultas Psikologi UI, bukan cuma pihak istri yang suka purik, melainkan juga kaum suami. "Ya, justru si suami yang purik dan bilang, hanya mau pulang kembali setelah dijemput dengan upacara adat!" Nah, lo!

REAKSI SUAMI

Apa pun penyebabnya, ujar Sukiat, purik merupakan keputusan emosional yang kurang menguntungkan. "Jangan berpikir bahwa kepergiannya demi untuk menenangkan pikiran. Itu hanya alasan yang dicari-cari. Karena saya yakin, di rumah orang tuanya pun pikirannya tak mungkin tenang. Pasti masih terus memikirkan kejelekan si suami. Karena biasanya ia kabur dengan hati yang marah dan sakit."

Otomatis, dengan puriknya si istri, masalah tak akan terselesaikan karena tujuan yang hendak diraihnya, yaitu agar ia bahagia, tak bisa terlaksana. Belum lagi jika si suami malah berpikir, "Wah, kebetulan istriku purik. Jadi, aku bisa terbebas dari kecerewetan/kegalakannnya." Nah, kalau demikian yang terjadi, bukankah sama saja tak menyelesaikan persoalan? Apalagi kalau si suami ternyata memang sudah punya WIL, semakin senanglah ia.

Reaksi suami dalam menghadapi puriknya istri, kata Sukiat, memang bisa bermacam-macam. Ada, kata Sukiat, juga yang malah merasa tertantang, "Akan saya buktikan, tanpa kamu, rumah pun bisa beres!" Ada pula suami yang justru merasa tak enak pada mertua jika istrinya purik. "Namun dalam ketidakenakan itu juga tersimpan rasa kesal. Kesal karena si istri telah mempermalukannya, seolah-olah ia tak bertanggung jawab. Dan ini akan berdampak pada hubungan mereka selanjutnya." 

Kendati demikian, Sukiat mengingatkan, para suami tak boleh menyalahkan istri semata. Sebab, suami juga punya andil yang menyebabkan istrinya purik. "Dalam suatu sengketa antara suami istri, pasti ada andil dari pasangannya." Misalnya, istri merasa tak tahan dengan tekanan-tekanan dari suaminya. Ia merasa diperlakukan di luar batas dan sebagainya, sehingga akhirnya puriklah dia.

HARUS DIJEMPUT

Soal dijemput-tidaknya istri yang purik, menurut Sukiat, juga sangat tergantung pada reaksi suami atas puriknya si istri. Kalau si suami merasa hal itu sebagai suatu kebetulan, maka ia akan menganggap, "Ah, ngapain saya jemput. Ia pergi sendiri, ya, ia harus pulang sendiri, dong. Nanti malah jadi kebiasaan kalau dijemput." Sebab, terang Sukiat, bisa saja istri menjadi "besar kepala" dan memilih kabur serta kabur lagi setiap kali ada masalah. "Akhirnya jadi kebiasaan. Nah, lama-lama si suami, kan, malah jadi enggan menjemput."

Lain halnya jika si suami merasa menyesal atas kepergian istrinya. Ia merasa bersalah karena telah membuat istrinya tak betah di rumah. "Nah, kalau ia merasa menyesal, tentunya ia akan menyusul istrinya. Tapi tentunya dengan perasaan yang tak enak pada mertua atau kakak iparnya."

Namun si istri yang dijemput tak jarang malah menolak. Ia malah marah-marah, tak mau keluar dari kamar. "Mungkin karena ia sudah patah arang dan tak ingin kembali." Bila hal ini terjadi dan suami sudah bolak-balik berusaha menjemput namun si istri tetap menolak, akhirnya suami bisa kesal, "Ya, sudahlah, sebodo amat. Mau pulang atau enggak, terserah!" Jelas, persoalan di antara mereka tak dapat diselesaikan juga.