Sakit Hati, Keluarga Paman Dihabisi (1)

By nova.id, Senin, 21 Januari 2013 | 06:54 WIB
Sakit Hati Keluarga Paman Dihabisi 1 (nova.id)

Sakit Hati Keluarga Paman Dihabisi 1 (nova.id)

""Saya memaafkan keponakan saya, tapi proses hukum tetap harus ditegakkan," tegas Winarno.(Foto: Rini.S / NOVA) "

Winarno (54) sungguh tak habis pikir. Petani kopi dari Desa Kalibanger, Temanggung (Jateng) ini terus mengherani perilaku keponakannya, DK (15), yang ia rawat sejak kecil. "Anak dan istri saya ditusuk." Bahkan istri Winrno akhirnya tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. Berikut penuturan Winarno.

Senin (7/1) saat jarum jam sudah menunjuk angka 23.00, mata ini mulai terasa berat setelah merajut jala ikan. Sebelum tidur, saya sempat salat dan ketika terbangun sejam kemudian, saya bangunkan istri, Ngasimah (48), mengingatkannya untuk salat isya. Usai itu saya tertidur pulas.

Di tengah lelap tidur, saya terbangun mendengar jeritan Ngasimah dan langsung menuju arah suara. Suasana dapur amat gelap tapi saya masih bisa melihat bayangan istri yang membawa senter menyala. Tanpa pikir panjang, saya langsung memeluknya, sementara tangan kiri saya merebut senter dari tangannya. Tapi baru beberapa detik, senter itu terlempar dari tangan karena tiba-tiba terasa ada yang membacok tangan kiri saya.

Tasss... rasanya tangan saya seperti langsung patah. Pelukan saya pun terlepas. Dia jatuh dan saya lari ke ruang depan. Si pembacok itu mengejar dan mulai membacoki kepala dan wajah saya. Darah langsung mengucur deras. Saya pun roboh. Dengan kekuatan yang tersisa, saya berusaha bangkit sambil berteriak membangunkan anak kami, Dimas. "Dimas bangun! Mak'e mati! Ayo bangun!" seru saya. Saya berujar seperti itu karena mengira Ngasimah sudah tewas.

Anak saya yang masih kelas 2 SMA itu langsung bangun dan berusaha menyerang si pelaku yang memakai topeng. Khawatir Dimas bernasib sama dengan kami, saya lari keluar rumah mencari pertolongan. Sebelumnya, saya sempat menyalakan sakelar lampu ruang depan.

Sepupu Sendiri

Jarak rumah kami dengan tetangga depan rumah sekitar 50 meter. Saya terus berteriak minta tolong. Saat itu pun saya sudah lemas karena darah terus mengucur dari wajah dan tangan saya. Akhirnya, saya terduduk di samping rumah, di pinggir jalan. Baru sekitar 30 menit kemudian pertolongan datang. Para tetangga tak berani masuk rumah karena takut. Ketika akhirnya masuk, mereka melihat Dimas dan istri saya roboh bersimbah darah. Si pelaku melarikan diri, entah ke mana.

Belakangan saya tahu dari cerita Dimas, ketika saya berlari mencari pertolongan, Dimas terus melawan sambil berusaha membuka topeng yang dikenakan pelaku. Saya sendiri tidak tahu siapa pelakunya karena kondisi rumah gelap. Saya hanya sempat melihat dia mengenakan celana panjang abu-abu. Nah, sewaktu Dimas berhasil membuka topeng pelaku, Dimas terkejut karena ternyata saudara sepupunya sendiri yang bernama DK.

"Lho, kok, kamu mau bunuh Mamak saya?" tanya Dimas saat itu. DK menjawab, "Iya, sama kamu juga!" Itu sebabnya DK berulangkali membacok kepala Dimas dan terus mengejar Dimas yang berlari ke kamarnya.

Setelah situasi aman, tetangga membawa kami ke RS. Dimas dilarikan lebih dulu ke RS PKU Muhammdiyah, saya dan istri menyusul. Saya duduk di jok depan, sementara istri di jok belakang. Sepanjang perjalanan, Ngasimah masih mengucap istighfar tiga kali namun kemudian kondisinya makin lemah. Tak tega saya melihatnya. Keponakan saya yang ikut, Yuli, lalu membimbingnya mengucap Lhaillaha ilallah.

Sedihnya lagi, di tengah perjalanan, mobil yang kami tumpangi bannya meletus. Kami berganti mobil yang disopiri anak saya yang lain, Widi Asmoro. Apesnya, baru saja dia membawa kami, bensinnya habis. Saya kemudian dibawa dengan mobil polisi ke RSK Ngesti Waluyo, sementara istri tetap dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah.

Sebelum berpisah mobil, dalam kegelapan malam itu saya melihat kondisi ibunya anak-anak sudah terkulai, tak bergerak lagi. Akibat terlalu lama di jalan, Ngasimah akhirnya mengembuskan napas di perjalanan. Demi cinta saya kepadanya, siangnya saya minta izin dokter untuk pulang ke rumah agar bisa menyalatkan istri dan mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya di TPU Desa Kalibanger.