Oleh-Oleh Dari Wonogiri, Lakunya Cabuk Wijen Si Langka (1)

By nova.id, Sabtu, 26 September 2015 | 09:12 WIB
Olahan Bu Dharmo Putro (nova.id)

Olahan Bu Dharmo Putro

Siapa yang tidak kenal dengan cemilan kacang mete? Rasanya yang gurih membuat cemilan ini sebagai salah satu cemilan yang disukai. Nah, bagi yang tengah berkunjung ke kota Wonogiri, tak afdol rasanya apabila tak membawa kacang mete sebagai oleh-oleh. Pasalnya, Wonogiri memang dikenal menghasilkan mete yang berkualitas.

Bekti Rahayu, perempuan tengah baya asli Wonogiri, dikenal memiliki kacang mete goreng yang istimewa. Dengan merek mete Bu Dharmo Putro, kacang mete goreng hasil olahan Bekti pun siap disantap langsung oleh pembeli.

“Awalnya saya hanya menjual kacang mete mentah saja, tetapi sekarang sudah ada yang digoreng. Jadi tinggal pilih saja. Harga kacang mete mentah Rp110 ribu per kilo sedangkan yang matang sekarang Rp115 ribu per kilonya,” jawab ibu empat anak ini.

Soal rasa, kacang mete Bu Dharmo Putro menawarkan sesuatu yang berbeda. Gurihnya beda. Istri Darsito ini mengaku bumbu yang ia gunakan sebetulnya sama saja. “Tetapi mungkin cara menggoreng dan mengolah sejak dari kacang mentah yang berbeda. Saya selalu mengupas dan langsung menggoreng, jadi kacangnya lebih gurih dan renyah. Selain itu, saya juga memilih menggoreng dengan menggunakan kayu bakar. Rasanya memang lebih berbeda,” jelasnya.

Tak mengherankan jika produksi kacang mete Bu Dharmo Putro kini bisa mencapai 4 kuintal. “Pesanan rutin datang dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Cirebon, Semarang, dan Bali. Ya, alhamdulillah,” lanjutnya.

Tak tanggung-tanggung, kacang mete Bekti ini juga sudah merambah hingga ke pasar luar negeri seperti Negeri Sakura Jepang dan Thailand. “Ada adik ipar yang memiliki pasangan orang Jepang. Pas datang ke Wonogiri dan mencicipi ia sepertinya ketagihan. Kemudian lewat bisnis biro travel khusus untuk orang Jepang ia mulai memasarkan di Jakarta, dan berlanjut hingga masuk ke salah satu pasar di Jepang,”katanya.

Tak hanya menawarkan kelezatan kacang mete, perempuan kelahiran Wonogiri 9 Januari 1953 ini juga mengenalkan penganan lokal lainnya. Di antaranya geti, karak, ampyang, tape ketan, emping manis, serundeng, sambel pecel. Semua diproduksi langsung. “Sejak kecil saya memang sudah berdagang dan suka memasak, sekalian juga diajari. Jadi, saya ingin mengenalkan dan mempertahankan cemilan tradisional dari Wonogiri,” ucapnya.

Salah satu penganan unik siap santap dan sekarang sudah jarang dimasak adalah cabuk wijen. “Makanan ini sekarang sudah sulit dicari. Nah, beberapa pelanggan yang mungkin kangen dengan cabuk wijen kemudian meminta saya membuatkan cabuk wijen. Ternyata benar, cabuk wijen itu laku keras dan banyak peminatnya,” jawabnya.

Setiap hari, Bekti memproduksi cabuk wijen hingga 150 bungkus, masing-masing seharga Rp2 ribu per bungkus. “Makanan ini serupa dengan botok atau pepes. Enaknya disantap dengan nasi. Sudah jarang memang yang membuatnya, jadi saya ingin mengenalkan kembali, sekaligus memelihara kuliner tradisional Wonogiri. Permintaan memang meningkat, terlebih kalau mau Lebaran. Saya bisa bikin cabuk wijen sampai tiga kali lipat, itupun masih banyak yang cari,” ceritanya.

Semua hasil olahan Bekti langsung dipasarkan di beberapa tempat oleh-oleh miliknya dan keempat anaknya yang tersebar di kota Wonogiri.  

Gurihnya Keripik Tempe Bengkuk

Biji benguk yang melimpah ternyata juga memancing kreativitas warga Wonogiri. Biji benguk itu diolah menjadi penganan khas seperti keripik tempe. Namanya keripik tempe benguk. Sekilas, cemilan ini hampir serupa dengan keripik tempe dari biji kedelai. Namun, ada rasa berbeda saat kita mencicipinya. Rasa keripik tempe benguk lebih gurih meski sedikit lebih keras.

Salah satu keripik tempe benguk yang mudah didapatkan di kota Wonogiri dan sekitarnya adalah milik Tumini. “Sebenarnya usaha keripik tempe sudah dimulai dari usaha orangtua. Jadi sejak kecil saya memang sudah akrab dengan olahan keripik tempe,” kisah Tumini.

Akan tetapi, Tumini dan sang suami, Rakino (53), kemudian berinisiatif mencoba mengganti biji kedelai dengan biji benguk. Biji benguk itu kemudian diolah menjadi keripik tempe benguk. “Sejak tahun 2000, saya mulai menawarkan keripik tempe benguk dengan harga Rp600 saja karena masih diecer dan dijual keliling,” kata perempuan 48 tahun ini.

Ternyata respons yang datang cukup mengejutkan Tumini. Ternyata banyak yang suka dengan keripik tempe benguk kreasinya. Dari semula hanya mengolah keripik tempe benguk sebanyak 2 kilo, Tumini kemudian meningkatkan kapasitas produksi. “Lama kelamaan, keripik tempe benguk justru dijadikan oleh-oleh dan laku keras,” jawabnya.

Tumini mengaku bangga karena olahan tempe benguk kini sudah makin marak di kota Wonogiri. “Sekarang sudah banyak pengrajin keripik tempe benguk, saya ikut senang karena ternyata cemilan ini berhasil menjadi pilihan oleh-oleh khas Wonogiri selain kacang mete,” jawabnya.

Untuk mengolah keripik tempe benguk, Tumini menjalani proses yang cukup panjang. “Untuk mengolah tempe benguk butuh kesabaran karena prosesnya cukup rumit. Biji benguk harus direndam selama lima hari lima malam baru bisa dicampur dengan adonan tepung beras. Kemudian ditambah bumbu untuk dijadikan keripik tempe,” jawabnya.

Produksi olahan keripik tempe benguk Tumini juga terus meningkat. Setidaknya, ia memproduksi hingga 15 kilo setiap harinya bahkan meningkat hingga dua kali lipat saat libur hari besar. “Maunya ke depan keripik tempe benguk tidak hanya memiliki rasa yang original tetapi juga rasa lainnya sebagai inovasi,” jawabnya. Tumini menjual keripik tempe benguk olahannya dengan harga yang terjangkau, mulai Rp10 ribu hingga Rp18 ribu untuk ukuran mika bulat yang besar.

Salah satu kendala yang dihadapi Tumini saat mengolah cemilan khas Wonogiri ini adalah ketika biji benguk tidak panen. “Biji benguk memang melimpah di Wonogiri, terlebih saat musim panen. Tetapi pernah juga kami sulit mendapatkan biji benguk. Akhirnya produksi diganti dengan keripik tempe biasa,” kata perempuan yang berproduksi di Grobog, Wuryorejo, Wonogiri ini.

Hasil olahan keripik tempe benguk Tumini tak hanya dipasarkan di wilayah Wonogiri tetapi sudah tersebar hingga Sukoharjo. “Selain titip jual di toko oleh-oleh di Pasar Kota, saya juga menjual ke beberapa pasar seperti Pasar Eromoko dan Ngadirojo. Alhamdulillah, keripik tempe benguk olahan saya banyak yang suka,” ucapnya bangga.  

Swita Amalia