Klinik juga mencatat tindakan baru dilakukan pada 16.20.
"Pertanyaannya, berarti ada pembiaran? Kita tidak tahu apa yang terjadi," ujar Hartono.
Nanie juga diketahui menandatangani persetujuan tindakan kedokteran tanpa didampingi keluarga atau kerabat.
"Pertanyaannya, apakah risiko komplikasi betul-betul disadari korban Nanie atau dia hanya tanda tangan blangko, baru dia tulis (risiko komplikasi)," tanya Hartono.
"Kalau orang normal, satu juga mungkin udah khawatir, ini ada tujuh sampai delapan," imbuhnya.
Erika, teman Nanie yang ikut menemani ke klinik tersebut dilarang saat temannya dibawa ke dalam ambulans usai tindakan operasi.
James, suami Nanie menyusul sang istri ke IGD RS Dr. Suyoto dan terkejut melihat mata dan hidung istrinya mengeluarkan darah.
Menurut dokter IGD, Nanie sudah meninggal dunia saat tiba di IGD.
Sebab, jarak RS dan klinik tersebut cukup jauh yakni sekitar 30-40 menit perjalanan.
Diketahui, kejanggalan lain adalah ketiga personel ambulan duduk di depan, sehingga tidak ada paramedis dan navigator yang memantau kondisi Nanie.
Sedangkan dokter bedah plastik dan dokter lainnya di klinik yang berada di belakang bersama Nanie.
"Kita jadi tanda tanya, kenapa dokter bedah plastik dalam ambulans?" ujar Hartono. (*)
Penulis | : | Tiur Kartikawati Renata Sari |
Editor | : | Tiur Kartikawati Renata Sari |
KOMENTAR