Inilah 2 Hal yang Harus Ada Sebagai Syarat untuk Merintis Start Up

By Dionysia Mayang Rintani, Rabu, 21 April 2021 | 11:41 WIB
Ini Tips Sukses Berbisnis di Dunia Start Up (istock)

NOVA.id – Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita memutuskan untuk merintis atau memiliki perusahaan start-up.

Seperti yang dijelaskan oleh technopreneur Antovany Reza Pahlevi, ada 2 syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, barang atau jasa yang dihasilkan harus repeatable atau dapat digunakan berulang oleh para pengguna.

Baca Juga: Tips agar Sociopreneurship Semakin Berkembang dengan Mengelola Relawan

Kedua, produk dan jasa tersebut expandable, atau bisa diekspansi ke mana pun.

Hal tersebut terungkap dalam dialog interaktif online sociopreneur discussion series yang dipandu Nadia Hasna Humaira, penggagas sociopreneur, dengan Reza yang saat ini tengah membidani lahirnya sejumlah projek start-up dan transformasi digital, Senin (19/04).

dialog interaktif online sociopreneur discussion series ()

“Saat ini saya sedang menghandle enam perusahaan start-up yang sedang berjalan, salah satunya adalah Pantoera yang digagas anak-anak muda yang bermukim di wilayah Pantai Utara Jawa – Pantura, ide dasar lahirnya perusahaan start-up Pantoera,” jelas Reza.

Baca Juga: Untuk Jadi Agent of Change, Mulai dari Hal Kecil dan Lakukan Ini

Reza melanjutkan, “Kami membangun Pantoera sebagai satu wadah bagi anak muda, sehingga mereka juga dapat mempelajari keahlian digital dan sektor-sektor yang termasuk dalam bidang ekonomi kreatif.”

Lulusan FISIPOL jurusan Hubungan Internasional UGM ini melanjutkan argumentasi, mengapa dirinya memiliki  passion menggandeng anak-anak muda di sekitar wilayah domisilinya, Kabupaten Batang – Pekalongan, Jawa Tengah, dan mengoptimalisasi talent (bakat) mereka sebagai digital natives (yang lahir sebagai generasi digital).

“Mereka memiliki peluang bergerak lebih cepat, lebih gesit, dan lebih paham banyak hal yang lebih bagus di era sekarang dibanding era sebelumnya,” jelas Reza yang baru akhir 2020 menjadi talent scout sampai lahirnya Pantoera.

Baca Juga: Syarifah Aliyyah Shihab: Lawan Lupus dengan Berkarya

Nadia Hasna Humaira, penggagas sociopreneur ()

Sementara itu Nadia yang mewadahi pemuda Indonesia untuk saling bertukar gagasan dan pandangan serta menyerap ilmu dari sejumlah praktisi berbagai keahlian, menanggapi ide tersebut secara terbuka dan penuh harap, gagasan membangun satu movement seperti Pantoera, juga dapat diduplikasi di wilayahnya berasal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Kami pemuda dan pemudi di Kabupaten Bogor mengharapkan adanya sentuhan dan coaching yang lebih mengena, sehingga potensi anak muda di sini, akan lebih terlihat dan juga mampu menghasilkan benefit, baik yang sifatnya komersial maupun non komersial,” papar Nadia yang sempat mengenyam pendidikan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Nadia salut dengan gagasan dan impian Reza yang punya keinginan menjadikan movement ini dikembangkan ke daerah lain di Indonesia.

Baca Juga: Syarifah Aliyah Shihab, Lawan Lupus Dengan Berkarya

Dengan menggandeng anak muda setempat di daerah asalnya, mereka tidak perlu mencari pembuktian (validasi) ke sejumlah kota besar di Indonesia.

“Dengan berkembangnya teknologi digital saat ini, para pemuda tidak perlu lagi merantau ke kota yang lebih besar untuk memperoleh tingkat penghidupan yang lebih memadai, bahkan mereka bisa menjadi diri sendiri secara lebih optimal di daerah asalnya,” kata Nadia lagi.

Sejumlah hal menarik yang mengulik keinginan Reza membangun movement, sebelum menuju pada tahapan menjadi perusahaan start-up bagi Pantoera, bahwa anak-anak muda di sepanjang pantau utara Jawa itu sebelumnya minder, tidak mudah terbuka (speak up).

Padahal sebenarnya mereka memiliki bakat yang cukup kuat, namun selama ini terpendam begitu saja.

Baca Juga: Jadi Minuman Kesukaan Jeong Saha dan Chulsan di Drama Korea Start Up, Ini Resep Vanilla Latte yang Gampang Dibuat

Terbukti saat diminta menampilkan eksistensinya melalui medsos TikTok dan berpose di Instagram (IG), keahlian mereka mulai terlihat, tetapi belum mampu diekspresikan kepada audiens yang tepat dan berpotensi. 

Reza menggambarkan, ide untuk menjadikan kisah atau narasi di balik bisnis start-up satu perusahaan, sejatinya selalu dimulai dengan keresahan yang terjadi pada diri sendiri.

“Anak muda itu harus senantiasa merawat keresahan dirinya sendiri, sehingga dari situ akan ada proses mengalami keresahan berpikir. Dari proses berpikir ini akan muncul berbagai ide, sehingga dari berbagai ide tersebut, pada akhirnya akan muncul yang dinamakan validasi ide. Sampai akhirnya perusahaan start-up tersebut akan mampu mengalahkan kekuatan perusahaan (enterprise), bahkan yang besar mampu bertumbuh menjadi perusahaan kelas unicorn. 

Baca Juga: Drama Korea Start-Up Sudah Berakhir, Tapi 5 Hal Ini akan Dirindukan Penggemar dari Karakter Han Ji Pyeong

Mereka secara telaten terus merawat keresahan itu sampai jadi penyemangat mereka menyelesaikan problem (masalah) yang lebih besar, tuturnya sambil mulai berbagi ilmu.

“Salah satu metodologi yang menjadi acuan adalah lean method. Metode ini mengajarkan untuk memulai bisnis awal tidak memerlukan resource yang banyak sebagai modal dasar, melainkan perlu mencari di mana problemnya, lantas perlu mengadakan atau mencari solusi, baik dalam bentuk produk maupun jasa sebagai hasil akhir, atau apapun yang dapat menyelesaikan problemnya.“

“Begitu problem sudah terpecahkan, maka tinggal scale up usaha tersebut, seraya melihat indikator berapa kasus yang dapat dipecahkan dalam satu bulan, misalnya. Jika pada bulan pertama hanya selesai satu kasus, maka bulan berikutnya ditingkatkan menjadi 10 sampai 100 kasus yang dapat diselesaikan,” tuturnya.

Baca Juga: Belajar Makna Perjuangan Raih Cita-Cita dari 6 Drama Korea di Netflix Ini yuk!

Konsep start-up seperti ini yang membedakannya dengan eksistensi enterprise (perusahaan), walaupun tidak dimungkiri, start-up yang  memiliki sistem kerja yang sudah terstruktur, pada akhirnya juga akan berkembang menjadi enterprise.

Namun mereka juga tidak akan meninggalkan elemen utama start-up, yaitu sifat bisnisnya berupa produk atau jasa yang dapat diulang.

Reza yang pandangan hidupnya berorientasi pada value (nilai), kebaikan (kindness) itu bersifat superpower dan muda, memiliki spirit khusus, perlu terus menjaga isu-isu di sekitarnya, berpandangan, bahwa perusahaan itu pasti sudah jelas proses bisnisnya.

Baca Juga: Berujung Bahagia, Para Pemain Start Up Sampaikan Kesan Selama Syuting 8 Bulan

Artinya jika suatu perusahaan menjual produk komputer ataupun laptop maupun telepon selular, misalnya, maka produk yang dijual adalah tetap jenis produk yang sama, hanya berbeda nomor serialnya.

“Karena itu income-nya diperoleh dari produk yang dihasilkan perusahaan.“

Bedanya dengan perusahaan start-up, maka pada perusahaan ada yang memiliki divisi riset dan pengembangan produk, sehingga mereka harus terus berpikir dan berinovasi menciptakan produk-produk baru pada periode tertentu.

Sementara itu mereka yang bergerak sebagai perusahaan start-up, harus selalu berpikir menciptakan jalur income baru.

Baca Juga: Dibintangi Bae Suzy dan Nam Joo-hyuk, Jangan Lewatkan Serial Start-Up!

Mereka akan terus mencari dan menguji coba ide bisnisnya, sampai kemudian menjadi produk yang established (mapan).

Itu sebabnya kebanyakan pengusaha start-up tidak takut gagal, tapi akan terus berupaya supaya bisnisnya survive (bertahan).

Sebaliknya, di sejumlah perusahaan, apabila produk yang dihasilkan pada akhirnya gagal atau tidak laku lagi sesuai perkembangan zaman dan selera pasar, maka produk tersebut harus dihentikan produksinya.         

Baca Juga: Tantang Anak Muda Kreatif, Ajang Adu Kreativitas UBS Youth-Con 2019 Digelar

 

 

Harus diakui, tambah Reza, bahwa bisnis yang agile adalah usaha bisnis yang tangkas.

Agile merupakan satu jenis kerangka kerja (framework) yang juga digunakan di dalam projek start-up manajemen.

“Dengan agile framework, maka pelaku bisnis  start-up akan terus mencari, karena mereka merasa belum sempurna, sehingga usahanya akan terus-menerus disempurnakan.“

Adakalanya sistem meminta dilakukannya update data.

Baca Juga: Punya Usaha? Ini Cara Gampang Lengkapi Perabot Usaha dari Ikea

Itu sebabnya bisnis start-up secara terus-menerus meng-update dirinya, sambil secara berkala mencari update terbaru.

Dapatkan pembahasan yang lebih lengkap dan mendalam di Tabloid NOVA.

Yuk, langsung langganan bebas repot di Grid Store.(*)