Siapa bilang stres cuma "milik" orang dewasa? Anak kecil juga bisa. Gejalanya, antara lain, ia tiba-tiba jadi "nakal". Bagaimana mengatasinya?
"Saya bingung, nih. Sejak adiknya lahir, Bimo jadi susah diatur. Disuruh makan, susahnya minta ampun. Padahal dia doyan makan. Saya takut Bimo sakit. Kalau kata tantenya, kayaknya Bimo stres. Tapi apa iya, sih, anak umur 4 tahun bisa stres?" begitu keluh Henny (34) tentang putra sulungnya.
Memang, kata Dra. Rina S. Susanto, anak kecil jarang stres. Tapi bukan berarti ia tak akan pernah mengalami stres. "Anak kecil juga bisa merasa tertekan. Nah, stres itu, kan, suatu perasaan tertekan yang biasanya diiringi emosi tak menyenangkan dan berlangsung relatif lama serta berkepanjangan," terang psikolog dari RSIA Hermina Jatinegara ini.
Karena itulah, terangnya lebih lanjut, stres pada anak sebenarnya tak berbeda dengan orang dewasa. Hanya saja, orang dewasa lebih bisa mengendalikan emosinya dibanding anak kecil karena sudah jauh lebih matang.
MENARIK DIRI
Gejala stres pada anak bisa bermacam-macam. Ada anak yang semula baik dan penurut, tiba-tiba berubah "nakal" dengan emosi yang melonjak. Ada pula anak yang semula periang lalu berubah menjadi sangat down. Sampai-sampai orang tua terkadang kewalahan menghadapi perubahan tersebut.
Pendek kata, bila anak terkena stres, akan diiringi perilaku yang mungkin aneh bagi orang tuanya. "Ada emosi-emosi yang tak menyenangkan pada anak, seperti perasaan takut, sedih, marah, gelisah, dan sebagainya." Nah, emosi-emosi tersebut, jika berkepanjangan bisa berpengaruh terhadap jiwa anak. "Bisa jadi anak menarik diri dari lingkungannya, menjadi pemalu, pemurung, pendiam, pemarah, dan sebagainya."
Bagaimana efek stres pada anak, menurut lulusan Fakultas Psikologi Universitas Pajajaran Bandung ini, akan sangat tergantung pada lingkungan di mana si anak tinggal. "Jika lingkungannya baik, mungkin anak akan menjadi baik. Kalau tidak, ya, mungkin sebaliknya yang akan terjadi."
PENYEBAB STRES
Seperti dipaparkan Rina, ada dua faktor besar yang membikin anak stres, yakni faktor dari luar dan dari dalam dirinya. Faktor dari luar ialah lingkungan keluarga dan lingkungan di luar keluarga semisal "sekolah". Sedangkan faktor dari dalam diri anak mencakup fisik, psikologis, sosial, dan inteligensi.
Faktor dari lingkungan keluarga misalnya konflik orang tua. "Anak bisa stres karena melihat ayah-ibunya sering bertengkar. Ia jadi merasa tak aman dan takut, baik secara fisik dan emosional." Contoh lain, orang tua yang selalu menuntut anak. Anak harus selalu mengikuti keinginan orang tua, banyak aturan dan larangan.
Sedangkan faktor "sekolah" yang membikin stres lantaran anak masuk ke suatu lingkungan baru, yang situasinya sangat berbeda dengan situasi di rumah. "Mungkin saja ada anak yang tak suka keramaian, tak ingin bersosialisasi, maunya sendiri saja, main komputer sendiri, dan lainnya. Nah, anak yang sulit bergaul ini tentunya akan stres ketika ia harus menghadapi lingkungan baru."
Kadang anak yang stres ini akhirnya jadi mogok "sekolah", maunya menempel terus dengan orang tua. Bisa juga si anak yang semula sudah tak mengompol, karena stres, lalu ia ngompol kembali. Atau ada yang jadi suka menggigit-gigit jari/kuku, tak mau tampil ke depan dan sebagainya. "Anak-anak ini stres karena mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan lingkungan baru."
Sementara faktor dari dalam diri si anak bisa disebabkan ibunya selagi hamil mengalami stres, sehingga berpengaruh pada kondisi emosi si anak setelah lahir. "Bisa jadi si anak menjadi hiperaktif, mengalami kesulitan belajar atau susah menyesuaikan diri," terang Rina.
Contoh lain ialah kecacatan fisik. Umumnya anak-anak yang mempunyai cacat fisik akan rentan sekali terhadap stres. Cacatnya itu membuatnya kurang percaya diri. "Tapi kasus ini jarang sekali terjadi bila dibandingkan dengan anak yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata," kata Rina.
Stres pada anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata, tutur Rina, biasanya disebabkan orang tua sering memaksakan si anak melakukan sesuatu tanpa menyadari kemampuannya. Misalnya, memaksa anak masuk "sekolah" yang memerlukan tingkat kecerdasan tertentu sementara si anak sebenarnya tak mampu. Akibatnya, si anak merasa tertekan karena kekurangmampuannya. Streslah dia.
Lainnya ialah anak yang pemalu. Entah karena sifat bawaannya yang pendiam atau lantaran lingkungan. Kalau yang karena sifat bawaan, biasanya si anak stres lantaran kurang percaya diri sehingga ia malu dalam bergaul. Kalau yang karena lingkungan, misalnya orang tua bersikap otoriter. Anak sering didominasi atau dikerasi sehingga ia jadi takut, tak berani mengungkapkan sesuatu, selalu malu untuk tampil, tak bisa berekspresi atau berbicara, tak punya inisiatif ataupun ide, dan sebagainya. "Anak-anak yang demikian harus dibantu menumbuhkan kepercayaan dirinya agar mereka tak stres kala harus menghadapi lingkungannya."
GARA-GARA ADIK
Dari sekian banyak penyebab stres, menurut Rina, umumnya stres yang dialami anak usia 3-5 tahun berasal dari lingkungan keluarga. Adapun masalah yang terbanyak ialah kehadiran adik, karena anak merasa tak diperhatikan. "Si sulung yang tadinya menjadi pusat perhatian orang tua, kini posisinya sudah tergantikan dengan sang adik. Ia merasa tersisihkan karena merasa perhatian orang tua sudah beralih."
Apalagi jika kemudian ibunya kembali bekerja dan hanya punya sedikit waktu untuk si sulung. Semakin lengkaplah stresnya. "Jangankan yang punya adik, yang tak punya adik saja bisa stres, kok. Karena dengan ibu bekerja atau kedua orang tua bekerja, waktu mereka, kan, jadi berkurang buat anak. Akibatnya, anak merasa tak diperhatikan dan ditolak oleh orang tuanya."
Orang tua, tutur Rina, biasanya tahu bahwa ada sesuatu pada anaknya lantaran perilaku si anak berubah. Entah jadi mengompol lagi, mengedot lagi, mengigit-gigit jari/kuku ataupun menjadi pendiam, pemurung, dan sebagainya. "Bahkan ada yang menjadi hiperaktif, tak bisa diam."
Celakanya, orang tua seringkali menjadi marah pada si anak. "Semakin anak 'nakal' atau rewel, semakin anak disalahkan. Tapi ada juga orang tua yang malah biasa-biasa saja kendati tingkah laku anaknya berlebihan. Mereka tak khawatir dan menganggapnya tak apa-apa."
Padahal, seperti dikatakan Rina, jika anak menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya, orang tua sebaiknya mencari tahu apa penyebabnya. "Jangan anak malah dimarahi atau dianggap tak apa-apa. Si anak, kan, lagi stres."
KERJA SAMA ORANG TUA
Selain mencari tahu penyebab perilaku anak, Rina juga meminta orang tua untuk instrospeksi diri. Jika dirasakan anaknya stres lantaran sikap orang tua, maka orang tua harus mau mengubah sikapnya itu. "Kalau tidak, anak akan tetap seperti itu. Stresnya nggak akan selesai." Jadi, orang tua juga harus bekerja sama dan tentunya sabar.
Misalnya, orang tua tahu kemampuan anaknya terbatas. Janganlah ia dituntut melebihi kemampuannya untuk bisa menghasilkan sesuatu. "Kalau anaknya jadi 'nakal', beri tahu dengan cara yang baik. Misalnya, 'Mama bangga kalau kamu enggak bersikap seperti itu,'." Jika si anak stres lantaran kelahiran adik, sebaiknya orang tua tak bersikap pilih kasih.
Untuk anak yang berubah jadi pendiam, saran Rina, orang tua sebaiknya bertanya pada anak tentang masalahnya. Lalu berilah ia motivasi dan pujian, sehingga anak mau melakukan sesuatu sesuai yang diharapkan. Misalnya, "Aduh, anak Mama pintar sekali." Jadi, "Orang tua berusaha untuk membangkitkan kembali motivasi dan semangatnya agar anak tidak stres."
Yang harus dipahami, terang Rina, reaksi setiap anak berbeda terhadap stres. Karena itu penanganannya juga harus bersifat individual. "Jadi, masalahnya bisa sama tapi reaksinya berbeda." Misalnya anak stres karena kelahiran adik. Mungkin si A yang tadinya lincah dan periang berubah menjadi pendiam, pemurung, dan sedih. Sementara si B yang tadinya penurut berubah jadi suka membangkang.
Bila orang tua sudah berusaha membantu si anak mengatasi stresnya, namun belum juga menunjukkan ada perubahan atau ternyata tingkah laku si anak sulit diatasi, berarti diperlukan bantuan orang lain. Apakah itu dengan guru atau berkonsultasi ke psikolog/psikiater.
Rina mengingatkan, stres pada anak bisa mengganggu perkembangan jiwanya. "Tapi bukan berarti si anak akan menderita sakit jiwa, ya." Melainkan akan timbul pada diri si anak rasa kurang percaya diri, tak mau tampil, menarik diri, bertingkah laku berlebihan, dan sebagainya. "Jika kondisi ini dibiarkan berkepanjangan sampai si anak besar, maka ia bisa lari ke obat-obatan dan perilaku destruktif lainnya."
Dedeh Kurniasih/nakita