Senang rasanya bisa melihat perkembangan klinik sederhana yang berhasil menjadi rumah sakit ibu dan anak. Bagi saya kesuksesan itu tak melulu bertolak dari latar belakang pendidikan. Nyatanya, saya yang cuma lulusan sekolah sekretaris bisa membangun rumah sakit dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan. Artinya, setiap orang punya kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah sejauh mana keinginan untuk bekerja keras.
Namun, entah kenapa saya tak bisa diam berpuas diri. Saya ingin melengkapi rumah sakit yang sudah ada dengan fasilitas secara umum. Alhamdulillah, niat itu terlaksana di tahun 2009. RSIA IMC bertransformasi menjadi RS IMC Bintaro. Tantangan yang saya hadapi tentu bukan cuma soal modal. Namun, juga standar operasional yang harus dilengkapi untuk kebutuhan layanan di rumah sakit umum. Kalau boleh cerita, seluruh modal yang mencapai Rp150 milyar itu saya pinjam dari suami saya. Saya tak mau berutang ke bank. Tapi, meski pinjam ke suami saya tetap berlaku profesional. Semua pemasukan dan pengeluaran juga tercatat rapi. Saya ingin utang ini bisa terbayar lunas nantinya.
Ada cerita ketika saya mencari tenaga medis profesional untuk kebutuhan rumah sakit. Karena saya sendiri bukan dokter, maka banyak dokter yang awalnya sangsi pada saya. Tapi, berjalannya waktu dengan rekrutmen dan pemilihan tenaga medis yang kompeten, kini saya memiliki tim medis yang hebat.
Mendapatkan tempat di hati masyarakat juga bukan perkara mudah. Memberikan layanan yang bagus dan membantu pasien untuk kesembuhannya adalah syarat mutlak. Rekomendasi dari para pasien atau metode worth of mouth pun membuat rumah sakit ini dikenal masyarakat. RS IMC Bintaro termasuk tipe C untuk kelas ekonomi menengah. Jadi, pasien pun bisa memilih sesuai kebutuhannya.
Saya yakin yang namanya kerja keras itu tak ada yang sia-sia. Tiga tahun berikutnya rumah sakit ini mendapat akreditasi dari Kementerian Kesehatan Indonesia. Sedangkan untuk STIKes IMC, saya kemudian membuka Program Studi S1 Keperawatan dan Program Studi Profesi Ners untuk menjadi Perawat Profesional.
Bantu Lansia
Di tengah mengembangkan STIKes, batin saya terusik melihat pertumbuhan warga lanjut usia (lansia) yang terus meningkat. Saya heran, kenapa layanan untuk mereka seolah kurang diperhatikan, ya.
Dari riset yang saya pahami, mereka memerlukan pelayanan yang bagus. Hal ini tentu saja bisa menjadi peluang menyediakan jasa khusus untuk lansia. Saya pun tercetus ide untuk membangun rumah lansia (senior resident) sebagai bagian layanan dari RS IMC Bintaro. Nah, untuk menunjang pelayanan yang maksimal tentu dibutuhkan tenaga yang ahli. Maka itu, di STIKes IMC Bintaro saya juga membuka Program Studi Care Giver dengan strata D1 dan D2. Tentunya keputusan ini telah disetujui oleh Kementerian Tenaga Kerja. Saya ingin para lulusan nantinya mampu melayani para lansia secara profesional.
Dua tahun berjalan, saya boleh berbangga hati karena program tersebut hanya dimiliki oleh STIKes IMC Bintaro. Kendala yang saya hadapi pun terbilang tak ada. Bidang ini justru malah diminati banyak orang. Pasalnya tenaga kerja yang dihasilkan memang siap pakai dan bisa langsung jadi asisten perawat. Bekerja sama dengan Yayasan BIMA, saya juga membekali kemampuan bahasa Jepang untuk para mahasiswa.
Sebab tak cuma Indonesia yang memiliki angka pertumbuhan yang tinggi untuk warga lansia. Negara seperti Jepang bahkan membutuhkan tenaga ahli untuk kebutuhan lansia. Dengan begitu bukan tak mungkin lulusan STIKes berkesempatan bekerja sebagai care giver di luar negeri. Saya optimis dalam 2-3 tahun kedepan akan banyak dari mereka yang berangkat ke sana.
"Melayani dengan Kasih" adalah moto yang saya pilih untuk membantu warga lansia. Di RS IMC Bintaro terdapat dua pilihan jasa yaitu Home Visit dan Home Care. Menurut saya, jasa ini pasti dilirik. Misalnya, untuk jasa Home Visit di mana tenaga medis dapat datang ke rumah para lansia yang mengalami kesulitan untuk pergi ke rumah sakit. Ada pula kejadian lansia yang memiliki penyakit kronis tapi kurang mendapatkan pelayanan maksimal di rumah sakit. Akibatnya menjadi tak betah atau justru penyakitnya tak kunjung membaik.
Secara psikologis alangkah senangnya mereka jika bisa merasakan perawatan layaknya di rumah sendiri, dengan didampingi perawat profesional. Untuk kebutuhan ini, terdapat jasa Home Care. Layanannya tak hanya di kawasan Tangerang Selatan atau Jakarta saja. Bahkan warga Bandung pun ada yang meminta layanan ini. Selain care giver saja, perawat akan datang dengan satu tim utuh agar pelayanan lebih maksimal.
Mungkin karena dinilai cukup aktif dan konsisten mengurusi kebutuhan warga lansia, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menunjuk saya sebagai pengurus lansia se-Tangsel. Hal ini menjadi pemantik semangat agar bisa mewujudkan mimpi saya, mendirikan senior resident selekas mungkin.
Karena juga aktif di PMI saya lalu dipilih menjadi wakil ketua PMI Tangsel di tahun 2009. Saya ingin memotivasi dari balik layar. Saat ini kami bahkan bisa punya bank transfusi darah sendiri. Sekarang saya mendorong anak pertama saya, Patrick, untuk menjadi relawan dan merasakan bagaimana terlibat dalam PMI.
Mencari Partner
Di kepala saya masih ada beberapa rencana besar. Bagi saya selama masih bisa bernapas dan bermanfaat bagi orang lain, tak ada yang perlu dirisaukan. Tentu semua itu bisa terwujud atas izin-Nya. Banyak teman-teman menyarankan agar saya mengembangkan STIKes menjadi universitas. Tapi, saya masih dalam proses mencari partner yang cocok untuk bekerja sama.
Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan saya. Pertama, soal modal. Kedua, pengetahuan yang memang bisa dikejar dengan asas learning by doing. Ketiga, partner harus memiliki visi yang sama untuk mengembangkan universitas tersebut.
Bahkan, kalau bisa bersama partner, kami bisa menjalin kerja sama secara nasional dan internasional. Misalnya, yang kini terjalin dengan pihak Jepang di mana kami bekerja sama untuk profesi care giver. Saya memang semangat mempelajari perkembangan dunia kesehatan di berbagai negara. Untuk itu, saya tak jemu memotivasi para dokter agar terus berkarya, menambah pengetahuan, dan berprestasi. Jangan cuma puas dengan gelar S2 atau S3.
Dan soal rumah sakit, ke depannya saya ingin membangun RS IMC Bintaro menjadi tujuh lantai sekaligus memisahkan bangunan STIKes agar berdiri sendiri. Setelah itu, barulah saya leluasa mendirikan senior resident untuk para lansia. Rencananya, saya akan membangun 9 lantai untuk lansia yang sehat dan 5 lantai untuk lansia yang paliatif.
Sebagai Direktur Utama, saya selalu memberikan kepercayaan kepada tim dalam mengelola rumah sakit. Tentu, saya juga terus mengawasi dan mengontrol meskipun untuk operasional mereka sudah memiliki porsi sesuai job desk masing-masing. Yang saya pikirkan sekarang adalah agar rumah sakit menjadi besar dan naik menjadi kelas B. Syukur-syukur bisa go internasional. Dunia kesehatan dan rumah sakit itu idealnya mengikuti zaman. Jadi, saya ingin terus maju.
Tak Lupakan Kodrat
Kendati disibukkan dengan berbagai aktivitas terkait bisnis layanan kesehatan, saya tak melupakan tugas sebagai istri dan juga ibu dari tiga orang anak. Prinsip saya, setiap akan pergi ke luar rumah, urusan domestik harus diselesaikan dahulu. Termasuk untuk mendidik anak. Itu sudah kodrat saya sebagai wanita.
Suami saya, Pieters, juga masih menjalankan bisnisnya di bidang kontraktor. Soal quality time bersama kami sekeluarga meluangkan waktu untuk traveling. Tapi, kalau saya sedang berdua dengan bapaknya anak-anak, obrolan kami pasti selalu seru membahas visi dan misi soal bisnis.
Di sisi lain, saya bahagia sekali melihat anak-anak tidak merasa dimanja dengan fasilitas. Mereka juga punya sikap. Saya bebaskan mereka berkegiatan sesuai minatnya asalkan tetap ingat Tuhan dan keluarga. Dengan budi pekerti yang mereka pelajari, semoga mereka kelak bermanfaat untuk masyarakat.
Pernah saya berpapasan dengan mobil anak kedua saya di jalan raya. Setelah menepikan mobilnya, ia buru-buru keluar untuk menyeberangkan seorang nenek. Kemudian ia membantu memberhentikan taksi dan menitipkan sejumlah uang pada si supir.
Duh, hati ibu mana yang tidak tersentuh melihatnya? Ketika malamnya kami bertemu, ia bilang dirinya merasa terpanggil untuk menolong nenek itu.
Dan dari semua pengalaman yang saya alami, bisa dibilang lika-liku bisnis di bidang kesehatan ini terasa begitu indah. Dengan membantu orang dari berbagai usia dan latar belakang, saya merasa semakin produktif dan panjang umur. Saya berharap bisnis ini tetap bisa membantu orang banyak. Mulai dari mereka masih di dalam kandungan, lahir, dan berpulang pada-Nya. Sungguh kesempatan luar biasa yang Tuhan berikan dalam hidup saya. (TAMAT)
Swita A. Hapsari
KOMENTAR